Pustaka


Pagi itu Clarissa akan membeli bunga, melewati toko-toko dan keramaian jalanan London. Bertemu dengan beberapa kenalan dan mengenang segala peristiwa yang lalu. Pagi itu di bulan Juni, ketika angin berhembus hangat dan cenderung panas, indah, menggelombang, seperti kekuatan yang datang dari surga. Clarissa berjumpa Hugh di jalan, seorang bangsawan, teman suaminya, Mr. Dalloway. Pertemuan dengan Hugh, mengingatkannya pada Peter, kekasihnya waktu muda. Dan kenangan tentang Peter pun menjelma nyata, ketika mereka muda dan saling jatuh cinta. (more…)

“Dalam novel Anna Karenina Leo Tolstoy dengan teliti menguraikan seluk beluk keadaan tiga macam keluarga: keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly, di mana sang suami menyeleweng, keluarga Karenin di mana sang istri, Anna, tak mampu mengekang perasaannya dan memutuskan tali perkawinan, dan akhirnya keluarga ideal Konstantin Levin dan Kitty yang menikmati kebahagian, sesudah mengalami serentetan cobaan. Ketiga keluarga ini mempunyai hubungan kekerabatan selaku kakak-beradik, menurut garis suami-istri, atau sebelumnya belajar di universitas sama.” (Prof. Willen V. Sikorski, ahli sastra Indonesia).

Yah, cerita novel ini memang cuma berkisar diantara tiga keluarga ini. Novel ini diawali dengan keributan di keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly. Stiva tertangkap basah selingkuh dengan pengasuh anaknya, seorang wanita Inggris, dan Dolly menuntut agar ia diperkenankan bersama lima anaknya kembali ke orang tuanya. Lalu datanglah Anna, adik Stiva, istri seorang pejabat tinggi di Petersburg, Aleksei Karenin. Anna berhasil mendamaikan suami istri ini.

Sedang Kitty adalah adik kandung Dolly. Lalu Konstantin Levin adalah teman seuniversitas Stiva. Levin adalah anak seorang bangsawan kaya, namun, alih-alih hidup di kota dia memilih hidup di desa dan menjadi tuan tanah. Ketika Levin pertama kali hendak melamar Kitty, Kitty tengah sangat berharap dilamar Aleksei Vronskii, seorang perwira yang tampan dan gagah. Maka lamaran pertama Levin pun ditolak. Namun, kemudian diketahuilah bahwa Vronskii hanya bermain-main saja dengan Kitty.

Vronskii malah jatuh hati pada Anna. Anna baginya adalah sesosok wanita yang harus dicintainya. Wanita yang begitu hidup matanya dan penuh gairah hidup, sungguh memesona. Vronskii lalu mati-matian mengejar Anna. Anna yang sadar bahwa membalas cinta Vronskii berarti dia telah menghinakan dirinya, menjadi serba dilematis. Bagaimanapun rasa cinta yang dipancarkan Vronskii begitu menggoda. Apalagi dia tak bahagia hidup dengan suaminya, yang dingin dan tak berperasaan. Saat bersama Vronskii dia menjadi begitu bergairah, penuh rasa cinta. Dan ketika kembali ke rumah, dia menjadi begitu tersiksa.

Anna akhirnya diceraikan Aleksei Karenin setelah dengan terang-terangan mengakui perselingkuhannya dengan Aleksei Vronskii. Memang Anna gembira dengan bisa terlepas dari suaminya dan hidup bersama Vronskii, namun, perpisahan dengan anak laki-laki yang sangat dicintainya sungguh menyiksa. Ditambah lagi sikap kalangan bangsawan yang tak mau menerima Anna karena menganggap Anna sebagai wanita rendahan. Anna yang terbiasa dengan cara hidup bangsawan menjadi sangat tersiksa.

Novel ini terdiri dari delapan bagian. Setiap bagian menceritakan secara perlahan kisah yang saling jalin-menjalin. Ketiga keluarga ini diceritakan secara bergantian dalam setiap bagian. Setiap bagian terdiri atas beberapa bab, biasanya lebih dari 20. Jadi memang membutuhkan kesabaran dalam mentiti bab demi bab. Ditambah lagi gaya bahasa penerjemahnya yang tidak terlalu pop, sehingga kadang perlu menelisik beberapa kalimat agar bisa benar-benar bisa dimengerti.

Secara keseluruhan novel ini bercerita tentang bagaimana keluarga ideal versi Tolstoy dibangun. Dimulai dari saling mencintai lalu saling memahami dan komunikasi dari hati ke hati. Keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly berantakan karena Stiva tidak mau jujur pada istrinya dan senang selingkuh. Sedang keluarga Anna dan Karenin hancur karena sikap dingin dan ”menjijikkan” Karenin yang membuat Anna tak pernah mencintai Karenin. Adapun Kitty dan Levin, tulus saling mencintai dan memahami satu sama lain.

Satu hal lagi yang disorot dalam novel ini adalah tentang usaha memajukan pertanian dan petani Rusia pasca penghapusan perbudakan dalam pertanian. Levin sebagai tokoh sentral dalam usaha ini berusaha menuliskannya dalam bentuk buku dan mengaplikasikan pemikirannya dalam usaha pertaniannya di desa.

Perpustakaan?

Sebuah ruang penuh rak-rak berisi buku, lalu meja-meja dan kursi yang dipenuhi orang yang kepalanya tertunduk dan jiwanya telah berpindah ke dunia lain, dunia yang diciptakannya saat membaca buku.

Perpustakaan Ajaib?

Perpustakaan macam apakah ini? Ah, sepertinya aku harus membaca bukunya terlebih dahulu. Ajaib? Sesuatu yang diluar kebiasaan, diluar kenyataan umum yang bisa diterima secara umum oleh orang kebanyakan. Jadi, perpustakaan ajaib ini pasti sangat berbeda sekali dengan perpustakaan biasa yang sering kita kunjungi, menarik.

Bibbi Bokken?

Siapa orang ini? Namanya saja sudah cukup aneh. Baiklah, akan kuberitakan nanti setelah selesai membaca bukunya.

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Nils Bøyum Torgersen dan Berit Bøyum, mereka adalah dua sudara sepupu yang penuh imajinasi.

Aku hampir tak percaya, bila mereka mampu berfantasi sedemikian hebatnya, sampai membayangkan sesuatu yang sangat berbahaya. Sebuah komplotan misterius!

Semuanya bermula ketika mereka menginap di pondok Flatbre dan kehilangan puisi yang mereka tulis di buku tamu. Nils yang tinggal di Oslo, bertemu dengan tersangka kuat pencuri puisi mereka dan dialah yang telah membiayai pembelian sebuah buku yang akan menjadi buku-surat mereka – sebuah buku yang berfungsi sebagai surat, ditulis secara bergantian lalu di kirim-balik antar mereka. Berit, yang tinggal Fjǽrland, menemukan sebuah surat, yang memberikan identitas si tersangka, Bibbi Bokken, yang menurut surat itu seorang bibliografer.

Petualangan dimulai, satu persatu misteri datang secara bergantian. Semakin lama, kabutnya semakin pekat dan semakin menegangkan. Tokoh-tokoh misterius bermunculan. Teori-teori ditebarkan mereka berdua untuk memecahkan misteri ini. Mereka saling bertukar teori dan fakta melalui buku-surat mereka.

Fantasi dan fakta berkecamuk dalam kepala mereka dan akhirnya membawa mereka pada kesimpulan-kesimpulan menakutkan, sebuah sindikat, yang entah apa dan apa tujuan mereka. Sebuah persepongkolan yang melibatkan banyak orang, dari mulai si tokoh utama Bibbi Bokken lalu Wartel Mondale mantan Wakil Presiden Amerika, Mario Bresani, paranormal dari Roma, Mr. Smile, yang masih misterius, Mauritzen si wakil rakyat sampai Ratu Sonja dari kerjaan Norwegia.

Semuanya itu berkutat pada sebuah sumber misteri, sebuah buku yang berjudul Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang terbit tahun depan, namun telah beredar saat ini secara misterius. Misteri pasti akan berakhir, bila mereka, Nils dan Berit, mampu menemukan perpustakaan ajaib Bibbi Bokken yang tersembunyi di suatu tempat.

Selagi mereka asyik melakukan penyelidikan, Smiley, dengan segala upaya berusaha merebut buku-surat mereka. Perjuangan menyelidiki dan memecahkan misteri diwarnai dengan usaha pencurian buku surat. Sampai suati ketika, Nils yang berkunjung ke Fjǽrland meninggalkan begitu saja buku-surat mereka di sebuah kursi di pelabuhan, karena ia sangat ketakutan, melihat Smiley terus memburunya.

Smiley mendapatkan buku-surat itu. Melalui sebuah perjuangan hebat yang menegangkan, Nils berhasil mengambil kembali buku-surat ini dari kamar Mr. Smiley, dengan menyelinap saat Smiley menikmati makanannya di ruang makan. Smiley, yang menyadari buku-surat tak ada lagi di kamar menelopon Bibbi Bokken dan mengeluarkan ancaman-ancaman kepadanya dengan penuh kekesalan. Nils, yang mendengarkan percakapan ini menjadi sangat marah dan mengajak Berit untuk segera mengungkap semua misteri ini: mengunjungi rumah Bibbi Bokken.

Dan semua misteri terungkap di rumah Bibbi Bokken.

Haruskah Veronika Mati?

 

Veronika memutuskan mati, terus kenapa?

Siapa dia?

Dia hanya seorang gadis di sebuah kota di negara mungil, Ljubljana di Slovenia. Siapa yang peduli pada dia, sedang orang-orang disekitarku masih banyak yang kelaparan, mengemis-ngemis, mengais belas kasih.

Mungkin, aku harus menyelesaikan membaca bukunya Paulo Coelho dulu untuk bisa memutuskan, apa aku bisa peduli tentang urusan keputusan Veronika untuk mati. Dan akhirnya, apa yang bisa dilakukan, toh Veronika memang akhirnya mati (walaupun aku belum selesai membaca kisah hidupnya itu).

Dia tak mengerti kehendak Tuhan! Ah, siapa yang mengerti kehendak Tuhan?

Dia memutuskan bunuh diri dengan menelan pil tidur satu-satu, dia gila!

Tak heranlah dia masuk Villete!

Lalu apa aku harus peduli, menaruh belas kasihan pada seorang yang tak percaya kehendak Tuhan?

Veronika percaya pada kehendak Tuhan!

Dia meyakini, saat dia bunuh diri Tuhan pun tahu dan memaklumi.

Kenapa Veronika memutuskan mati?

Sedikit simak kata-katanya tentang alasannya bunuh diri:

“Alasan pertama: Segala sesuatu dalam hidupnya sama saja. Begitu masa mudanya berlalu, semuanya akan layu, usia tua mulai meninggalkan tanda-tanda yang tak bisa diperbaiki, dijangkiti penyakit, dan teman-temannya pada meninggal. Ia tidak akan memperoleh apa-apa dengan tetap hidup; mungkin justru penderitaan yang akan bertambah.

Alasan kedua lebih filosofis: Veronika membaca surat kabar, menonton TV, dan menyimak apa yang tengah terjadi di dunia ini. Semuanya serba kacau, dan ia tak punya jalan untuk memperbaikinya-ini yang sama sekali membuatnya tak berdaya.

Apa dia tak punya lagi alasan untuk hidup?”

Ah…apa dia tak terlalu mengada-ada?

Tentang alasan pertama, lihat, kenapa dia begitu mudah terjebak dalam jeratan rutinitas. Membosankan, bila kita selalu menghadapi hal yang sama, dengan cara yang sama dan jiwa yang sama. Siapa yang mampu tahan? Lalu kenapa dia tak keluar dari rutinitasnya saja? Ah…aku lupa dia orang Slovenia!

Selalu saja setiap negara punya karakter bangsa yang berbeda. Dan apa ini tak terlalu mengada-ada?

Bila diperhatikan, Jepang, misalnya. Lihat bagaimana budaya mereka membunuh anak-anak bangsanya! Lalu, bagaimana tak bisa terjadi pada negara lain semacam Slovenia? Ah…entahlah, aku tak pernah ke sana! Merasakan udara dan bernafas dengannya.

Tapi, tetap saja aku tak bisa menerima dia bunuh diri dengan alasan semacam ini!

Harus dia tanya aku dulu, konsultasi tentang semuanya sebelum dia memutuskan untuk mati, kuberilah dia alamat emailku, dan….

Ah aku terlalu berkhayal, mana mungkin dia percaya padaku yang bukan dan belum siapa-siapa! Manalah kita percaya pada orang tak kenal!

Walaubagaimanapun aku tak akan pernah setuju dengan keputusan Veronika untuk mati, tapi apa daya dia telah menelan pil-pil itu, satu persatu!

Dan lihat apa hasilnya, dia masuk Villete!

Di rawat di ruang ICU berhari-hari dan hampir mati.

Saat dia sadar, hidupnya tinggal lima hari!

Apa yang bisa kulaku, sedang dia akhirnya mati jua!

Sudahlah, anggap saja dia gila dan orang gila selalu punya kebebasan untuk bertindak lewat kegilaannya, termasuk mengakhiri hidupnya.

Dunia memang gila…..

Apa aku harus gila juga?

Selalu begitu……

 

Tentang Veronika- si gila- yang Tak jadi Mati Saat Itu

   

Aku sungguh tertipu. Bagaimana seorang dokter hanya demi penelitiannya telah berani menipuku dengan mengatakan Veronika akan mati dalam lima hari. Penuh kebohongan. Igor, tak akan kuampuni kau.

Sungguh gila. Aku sudah gila-gilaan membela keabsahan keputusan Veronika untuk mati dan dia malah mendapatkan arti hidup lewat kegilaan dan orang-orang gila. Mari si pengacara yang bebas gila dan menjadi relawan di Bosnia, dia, dia telah memberi inspirasi bagi Veronika untuk berfikir gila. Zedka telah memberitahu arti gila pada Veronika, hal yang membuat Veronika dipenuhi fikiran gila, fikiran untuk terus hidup di lima hari hidupnya dan tak lagi memikirkan sekuel bunuh dirinya. Gila adalah berani malakukan hal yang berbeda. Berani menentang pendapat umum yang menurut nurani kita tak seharusnya seperti itu. Itulah Zedka.

Dan yang membuatku cemburu, Eduard. Dia telah merebut seluruh perhatian Veronika. Dia hanya seorang skizopren yang berkhayal tentang visi firdaus. Dia memang tampan, menarik dan muda, semuda Veronika. Tapi dia hanya seorang skizopren! Walau akhirnya ia sembuh dan mulai bicara seperti orang normal, tapi, apa arti dia dibanding aku?

Ljubljana terkutuk! Dia telah menyihir Veronikaku sehingga dia terus hidup dan bahagia bersama Eduard. Lalu, apa aku harus mencari Veronika lain untuk kuceritakan? Veronika Igor? Anak si Igor keparat itu yang telah menipuku? Ah, kenapa aku berlaku kasar padanya. Lebih baik kuterima saja ketertipuanku ini sambil menduga mungkin lain kesempatan Veronika mencoba bunuh diri dan masuk Villete lagi.

Ah…lalu apakah Paulo Coelho yang pernah gila itu mau menulis ceritanya lagi? Atau aku perlu mengiriminya surat bila ada kabar Veronika kembali memutuskan untuk mati?

Entahlah?