Sajak


waktu sepenuhnya milikmu karena detak berhenti ketika senyum merekah di

bibir,

beriku segala yang perlu untuk lupa.

mentari menjelma tubuhmu ketika pelukan hangat tenggelam di tubuhku.

gemintang menjadi matamu ketika malam hanya gelap.

rembulan menjelma wajahmu ketika raguku tenggelam dalam hangat rindu.

langit hanya seluas hatimu yang tabah dalam derita menungguku

tumbuh dan dewasa.

Hari ini bukanlah hari yang baik,

Ada mendung di langit yang turun ke hati.

Tetapi, begitulah aku.

 

Hari kemarin bukanlah hari yang baik,

Ada mentari tenggelam di timur langit yang membuat hatiku gelap.

Tetapi, itulah aku.

 

Hari-hari yang lalu bukanlah hari yang baik,

Ada ribuan cahaya tertelan malam.

Tetapi, akulah aku.

 

Hari esok belum tentu hari yang baik,

Ada kegelapan menunggu di sana.

Tetapi, hadapilah aku.

 

Hari-hari nanti mungkin bukan hari yang baik,

Ada berlapis kegelapan di sana.

Tetapi, akulah cahaya,

yang terus berpendar sampai tak lagi bersinar.

Lupakan saja,

Mimpi adalah bayangan yang selalu datang dengan cepat di malam-malam

sendirian.

Diriku saja,

Setiap rasa selalu menjadi biasa ketika kata jadi bisa.

Maumukah?

Lalu segala kesiaan  ini menguap bersama udara pengap yang terus

menghimpit sesak dadaku.

Akuilah,

Aku hilang tenggelam, karam dilautmu.

hilanglah,

dalam karam terbenam sampai dasar

hatiku.

begitulah…

cahaya berjalan jauh tak berhenti sampai terserap jadi energi dan memancar kembali, walau redup tapi masih menerangi.

Adalah malam dan rembulan yang mengkristal yang buatku tak jemu menunggu bila beku hatiku kuharap kau tahu cintaku padamu tak terganti seperti hari-hari yang berlari mengejar mati lalu nanti saat jumpa lagi maukah janji satu kali yang lain tak pernah jua mengerti apa yang buatku pergi hanya begitulah siang mengejar mentari yang menari cahaya dalam birumu yang mendung sedih murung dan angin mengarak hijau melintas cepat melesat petir dari duka ke tua usia lalu tenggelamlah senja di ufuk timur kau terbit lalu berlarilah kejar mimpi yang tak pernah sampai kau gapai dan biar aku menunggu saja adalah malam dan rembulan yang mengkristal. (more…)

Kaulah permata yang sinar jernih matamu membuat silau mataku dan

aku jatuh hati pada merah bibir dan cahaya pancaran wajah jadi

rausyan menimpakan nur ke hatiku lalu damai dan tertambatlah aku melabuh

ke hatimu dan

inta hanya tersenyum indah maka

nyanyikanlah lagu damai di hati: inta aku cinta.

Jadilah aku karang hitam di

putih buih ombakmu yang menghempasku ke

biru lautan lalu gelombang datang bawa tepian dan

jadilah aku butiran pasir di pantai putihmu terhampar luas melebur satu!

Air terpancar memburu ruang melintas cepat menumbuk

karang tembus dan semayam lalu diam dalam rapat berduaan jadi darah

segumpal lalu daging segumpal lalu rusuk tulang belulang dibungkus daging

dan

jadilah!

Sempurna bentukmu dalam wujud sebaik lalu

hembusan datang bawa ruh Tuhan yang bersemayam di

kalbu jiwamu yang kemudian detak jantungmu darah jadi darah dan

mengalirlah!

Rahim membungkus rapat lewat

plasenta kau kunyah makanan ibumu sementara kakimu

bergoyang pelan dan tubuh berputar bergerak menghentak di dinding dan

senyumlah!

Sempurnalah bentuk manusiamu lalu

kau bergerak dengan hebat dan otot-otot rahim serupa

pegas mulur negang dorongmu keluar dan derap nafas ibu kembang kempis

dan

lahirlah!

Tangismu adalah tawa yang lalu

kau cari ASImu dan meneguk sepuasnya hingga

dahaga lepas yang kau diam dalam tenang di bawah pelukan ibu dan

tidurlah!

Petanglah yang membuatmu datang merengkuh senja dalam

raupan cahaya sementara

igaumu di mimpi semalam berupa nyata dan terimalah

hidup yang kau jalani serupa

aliran angin sepoi lambat-lambat

tapi sunguh memberi kesejukan yang

mungkin hanya dirimu yang dapat dan

akan selalu begitu maka

kejarlah mimpi itu sampai

akhir yang kau berlalu dengannya.

Next Page »