Warsum (Warita Sumir)


“Jadi, siapa pembantunya?”

“Tentu saja yang lebih gemuk!”

“Ah, mana mungkin? Tentu saja yang lebih kurus!“

“Eka? Tidak, tidak, Ulfah! Ulfahlah pembantunya“

“Eka, dia kurus. Itu tanda dia banyak kerja.”

”Ulfah, dia gemuk. Karena banyak kerja, banyak makannya.”

Keduanya diam sejenak. Yang satu memegang hidung dan memoles-molesnya. Satu lagi menggoyang-goyang kacamatanya.

”Baiklah, begini! Ketika aku bertamu ke rumah itu, aku disambut Eka, sang pembantu…..”

”Tidak, tidak, ketika aku datang, Eka juga menyambutku, tapi, dia majikannya, karena tak lama setelah aku duduk, dia panggil Ulfah, pembantunya.”

”Hmm, baiklah, kalau begitu, kenapa tak kalian ceritakan saja, masing-masing. Kita lihat siapa yang lebih benar ceritanya.”

Orang ketiga menengahi. Melerai dan menyolusi.

”Baiklah, aku dulu. Begini ceritanya: (more…)

          Bus dan sepi. Oh, baginya saja. Lelaki yang duduk paling depan. Bus masih kosong. Tatapannya kosong, ke samping, ke deret-deret bus berjajar. Matanya kini menerawang, mengingat semua yang telah terjadi. Baru saja, ya, cuma beberapa bulan yang lalu, lelaki dan toganya, berfoto diapit kedua orang tua. Baru saja, ya, cuma beberapa minggu yang lalu, lelaki dan bapaknya, lelaki mengantar jenazah Bapaknya diiringi keluarga dan orang sekampung. Baru saja, ya, cuma beberapa hari yang lalu, lelaki dan lamarannya, diterima di perusahaan besar tapi ditolak gadis pujaan. Baru saja, ya, cuma beberapa jam yang lalu, lelaki dan ibunya, ibunya sakit minta lelaki pulang segera. Yang terakhir inilah yang membuatnya paling bingung. Bukan itu yang membuatnya bingung, bukan karena ibunya sakit, karena ini bukan pertama ibunya sakit, tapi inilah, buah tangan yang diminta ibunya: menantu. (more…)

 Sepi. Merah tanah terbang jadi debu. Angin mendesir, lewat begitu saja, tak ada sapa. Ini siang matahari begitu terik, panasnya membakar kulit. Sedikit-sedikit kulitku terkelupas termakan panas. Di mana-mana ada retakan, yang hitam dan kasar.

Pandanglah aku, yang renta ini, tak lagi pokok batang menjulang. Tak lagi pucuk mencapai tinggi. Tepat beberapa meter dari muka tanah, kau lihat itu, patahan besar pokok batangku terkena golok dan gergaji. Sungguh bising ketika gergaji itu pelan-pelan masuk ke batangku. Gigi-giginya yang runcing bolak-balik menusuk semakin dalam. Setiap gesekan mengeluarkan deritan dan getahku serupa darah mengalir deras.

Entah apa dosaku. Pagi itu seperti biasa kumulai dengan menyapa burung. Menyaring beberapa karbondioksida dan menenggak air. Seperti pagi biasa saja: memerangkap beberapa tetes embun di lengkung tengah daunku lalu memainkannya jadi tetesan air yang kadang menimpa kepalamu yang sedang main-main di bawahku, membina pucuk-pucuk baru yang terus tumbuh di ujung ranting, atau sekedar meniup-niup angin yang lewat begitu saja. Entah apa dosaku. (more…)

Siang itu aku datang, membuka kunci kombinasi, lalu medorong pintu sampai buka. Seperti biasa, aku menaruh tas, menyalakan komputer dan menikmati hijau rumput yang menghampar di depan-bawahku. Tepat dibelakang monitor komputer, jendela-jendela kaca terpajang, 8 buah: memberi ruangan sinar hangat matahari yang membakar semangat. Dari kaca-kaca ini aku bisa menembuskan pandanganku ke depan-bawah atau ke depan-lurus.

Itu pandangan indah siang itu, sebelum aku menengok ke kanan, melihat dua onggok kantong plastik berisi tumpukan buku-buku. Yang satu masih utuh, yang satu lagi terkoyak di salah satu sisinya. Ah benar-benar tercabik-cabik. Robekan terjadi di satu sisi dan sisa-sisa robekannya berceceran di lantai.

Tak perlu berpikir pelik, aku langsung menuduh tikus sebagai pelakunya. Setelah beberapa aku memanggil, tikus-tikus itu datang. Bulunya hitam kusam dengan ekor panjang dan telinga kecil yang melebar. Di depan moncongnya dia menyunggingkan senyum, penuh rasa bersalah. Kutanya mereka satu-satu, interogasi!

Pertanyaan: Tadi pagi Anda ada di mana?

Tikus I : Tadi pagi aku tak ke mana-mana. Aku sedikit flu, punggungku terasa sakit. Jadi aku hanya tiduran di rumah (mukanya benar- benar memelas dan berkali-kali dia bersin dan menyebarkan lendir di sekitar karpet, uh, menjijikan!).

Tikus II : Jadi kamu menuduhku sebagai pelaku kejahatan ini? Mana bisa begitu? Kamu tak punya bukti kan? Jangan kira karena aku tikus jadi bisa di tuduh seenaknya! (Dia benar-benar penuh emosi!)

Ini adalah kisah biasa seorang lelaki tak beristri. Tak patutlah kita dengar cerita ini dari lain orang. Maka, kuceritakan langsung kepadamu tentang seorang lelaki biasa yang belum beroleh istri ini.

Ini bukan sebuah kisah gembira. Semuanya bermula ketika dia kehilangan. Di tinggal seorang yang telah begitu setia menemani ke mana ia pergi. Telahlah ia kehilangan dengan begitu sangat pedih di hati. Bagaimana tidak, kalau hati telah jatuh pada seorang lalu ditinggalkannyalah kita, betapalah sakit di hati. Begitupun dia. Dia memang tak meratap karena seorang lelaki katanya harus berusaha menabahkan diri di hadapan Tuhan. Telah dia beroleh kecewa, tapi, untuk apalah dia berputus asa, dia selalu bisa bangkit setelah jatuh tersungkur. Tapi, apakah dia akan bangun lagi kali ini setelah kejatuhan yang begitu mengguncang hati?

(more…)

Lelaki Akar dan Batu Biasa?

Istriku

Dan tak lagi ada manusia yang kini lebih kucinta selain istriku.

Entah apa yang akan diucapnya bila tahu aku datang lewat tangan hampa ini. Aku takut akan kecewanya. Cintanya padaku tak kuragukan, tapi aku ragu, bila ia harus kecewa untuk kesekian kali dan kesekian hari. Entahlah, Dukun Beranak kampung bilang ia hamil. Dan betapa bahagia hatinya bila inginnya dipenuhi. Suami macam apa aku?!

Pintu itu tampak betapa kokoh. Bukan karena asal kayu jatinya, tapi karena dirinya di balik pintu. Apa dia – akhirnya – harus marah atau dia menatapku dengan senyuman dimuka – seperti biasa. Terasa sangat berat untuk sekedar membuat pintu ini terbuka. Saat kusentuh punggungnya – si pintu – dan tinggal menekannya langkahku terhenti: ragu. Bagaimana hati ini akan menghadapi muka sedihnya. Bagaimana diri ini akan tetap menjadi orang yang dicinta saat mukanya berubah masam karena kecewa. (more…)

Khathir*

Kakek tua buta berjalan pelan dituntun seorang anak kecil yang membuka telapak tangannya menengadah ke atas. Kakek tua berjalan kemana anak kecil mengarah. Gemirincing receh kadang berbunyian jatuh dari tangan anak kecil.

“Apa itu, Cu ? ”

“ Uangku jatuh Kek!”

“ Oh…..”

Mereka terus berjalan sampai lelah datang. Mereka berhenti jika lelah, dimanapun itu.

Di bawah pohon tinggi dengan daun melindungi. Kadang dengan kicauan burung dan nyanyian angin semilir menghapus keringat. Kadang dengan seteguk air segarkan tenggorokan.

Di bawah bangunan kosong dengan kursi reot yang mengeluarkan bunyi-bunyi aneh khas. Dengan bunyi tikus yang ber-cit-cit. Dengan kicau burung gereja jantan berebut pasangan.

(more…)

Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.

Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.

Kau diri Putri dari negeri seribu peri.

Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.

Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.

Tentang lelucon lucu apakah tak misteri?

Apa? Yang mana?

Yang kertas putih secarik.

Aku akan menyimpannya. Mungkin nanti bisa membiarkan senyum ini mengembang setiap membacanya.

Tak kau ingin tahu siapa?

Ada saatnya nanti dia akan menampakkkan diri, kukira. (more…)

Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.

Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.

Kau diri Putri dari negeri seribu peri.

Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.

Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.

Tentang lelucon lucu apakah tak misteri?

Apa? Yang mana?

Yang kertas putih secarik.

Aku akan menyimpannya. Mungkin nanti bisa membiarkan senyum ini mengembang setiap membacanya.

Tak kau ingin tahu siapa?

Ada saatnya nanti dia akan menampakkkan diri, kukira. (more…)

Waktu gelap mulai merayap, aku terkesiap, rembulan terang telah tersingkap di bumi senyap. Menatapnya sebagai rembulan adalah sebuah kepuasan. Dan dia adalah purnama hati. Menelan semua perasaan dalam satu caplokan lalu mengeluarkannya dalam satu debaran jantung yang menghentak mantap.

Dia sebenarnya gadis biasa saja. Tertawa dan menangis seperti gadis lainnya. Tapi, dia begitu berbeda ketika jumpa denganku – aku melihatnya berbeda! Seperti ada kekuatan dalam dirinya yang menyeret diriku dalam samudera kegadisannya.

Saat itu, aku ingin ketemu sejak lama dan ketika tinggal berdua aku tak lagi sanggup berkata-kata. Ada apa?

Kau?

Dia bertanya padaku. Oh…..sungguh indah. Sepatah kata yang terucap penuh merdu. Aku telah menunggu-nunggu saat ini. Aku telah menunggu-nunggu saat-saat seperti ini, sangat!

Hei, apa kau bicara?

Aku menatapnya. Dia begitu tenang. Dia menatapku. Aku sungguh gelisah. Aku takut tak bisa memberi kesan yang cukup untuk memberitahu betapa aku telah jatuh hati padanya. (more…)

Next Page »