<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aurora Oiperis &#187; Warsum (Warita Sumir)</title>
	<atom:link href="http://oipiyah.wordpress.com/category/warsum-warita-sumir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oipiyah.wordpress.com</link>
	<description>Setitik Literasi Angin Diri</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Dec 2009 02:39:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='oipiyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b4964f0efd7dc964f059ddc94f362f5b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aurora Oiperis &#187; Warsum (Warita Sumir)</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Jadi, Siapa Pembantunya?</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2009/09/29/jadi-siapa-pembantunya/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2009/09/29/jadi-siapa-pembantunya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 06:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[“Jadi, siapa pembantunya?”
“Tentu saja yang lebih gemuk!”
&#8220;Ah, mana mungkin? Tentu saja yang lebih kurus!“
&#8220;Eka? Tidak, tidak, Ulfah! Ulfahlah pembantunya“
&#8220;Eka, dia kurus. Itu tanda dia banyak kerja.”
”Ulfah, dia gemuk. Karena banyak kerja, banyak makannya.”
Keduanya diam sejenak. Yang satu memegang hidung dan memoles-molesnya. Satu lagi menggoyang-goyang kacamatanya.
”Baiklah, begini! Ketika aku bertamu ke rumah itu, aku disambut Eka, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=270&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">“Jadi, siapa pembantunya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tentu saja yang lebih gemuk!”</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ah, mana mungkin? Tentu saja yang lebih kurus!“</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eka? Tidak, tidak, Ulfah! Ulfahlah pembantunya“</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eka, dia kurus. Itu tanda dia banyak kerja.”</p>
<p style="text-align:justify;">”Ulfah, dia gemuk. Karena banyak kerja, banyak makannya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Keduanya diam sejenak. Yang satu memegang hidung dan memoles-molesnya. Satu lagi menggoyang-goyang kacamatanya.</p>
<p style="text-align:justify;">”Baiklah, begini! Ketika aku bertamu ke rumah itu, aku disambut Eka, sang pembantu&#8230;..”</p>
<p style="text-align:justify;">”Tidak, tidak, ketika aku datang, Eka juga menyambutku, tapi, dia majikannya, karena tak lama setelah aku duduk, dia panggil Ulfah, pembantunya.”</p>
<p style="text-align:justify;">”Hmm, baiklah, kalau begitu, kenapa tak kalian ceritakan saja, masing-masing. Kita lihat siapa yang lebih benar ceritanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang ketiga menengahi. Melerai dan menyolusi.</p>
<p style="text-align:justify;">”Baiklah, aku dulu. Begini ceritanya:<span id="more-270"></span></p>
<p style="text-align:justify;">(orang pertama mengambil inisiatif untuk memulai lebih dulu)</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pintu terbuka, kulihat seorang wanita, tak terlalu tinggi, cukup kurus, belum terlalu tua, tapi tak terlalu muda pula. Matanya tajam menatap ke arahku, lalu keningnya mengerut dan bertanyalah, ”ada yang bisa saya bantu?”. Kubilang, ingin bertamu. Dia lalu senyum. Menyilakan aku masuk, di dalam, sudah duduk, seorang yang bertubuh lebih gemuk. Dia tersenyum dan menyilakan aku duduk. Sementara orang yang datang menyambutku di pintu, pergi ke belakang. Aku pun duduk.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang duduk di depanku, menyapaku ramah. Memberi sambutan selamat datang dan merangkaikan kata-kata manis tuan rumah. Pipinya gemuk. Kulitnya sawo matang. Matanya besar dan alisnya tipis. Ketika bicara, selalu diakhiri dengan senyuman, serangkaian putih giginya dia tampakkan. Orang yang benar-benar ramah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, orang yang lebih kurus tadi, datang. Membawa sebuah nampan, di atasnya piring-piring perak, di atas piring perak itu, buah-buahan segar dengan warna-warna terbaiknya. Piring-piring perak itu ditaruhnya di atas meja. Meja marmer yang permukaannya licin dan mengilap. Lalu, dia kembali pergi ke belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, tuan rumah menyilakan aku menyicip. Lalu kuambil sebutir, anggur hijau muda yang mengilap kena cahaya lampu, lampu yang tergantung di atas atap, menghablurkan sinar ke seantero ruang. Manis sekali. Mataku jadi berbinar dan raut mukaku, berusaha mengungkapkan rasa manis ini. Tuan rumah tersenyum dan bertanya, mau minum apa aku. Kujawab, apa saja, yang akan menyenangkan tuan rumah, ”panggil saya Ulfah!”, tuan rumah menyela, lalu kuulangi, yang akan menyenangkan Ulfah untuk menghidangkannya. Dia lalu tersenyum, dan menepukkan kedua tangannya, dua kali, lalu, seorang yang lebih kurus tadi datang. ”Eka, bawa minuman terbaik kita untuknya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang yang kurus tadi, Eka, datang. Kembali membawa nampan. Kali ini, di atasnya telah ia letakkan gelas-gelas piala yang kembali diletakkannya di atas meja. Di dalam gelas, cairan merah, berkilau. Tak menunggu lama, aku langsung meneguknya. Manis. Ini tentu perasan anggur merah. Kembali, aku sangat merasa puas. Dan Ulfah, tersenyum. Eka ikut tersenyum, lalu berdiri, dan kembali ke belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami, aku dan Ulfah, lalu mulai bercakap-cakap. Tentang nasib bangsa-bangsa yang terbelenggu utang, tentang kuda-kuda yang mengotori jalanan dengan kotorannya, tentang burung-burung yang semakin jarang melintas di jalanan, tentang trotoar yang tak digunakan untuk jalan pejalan kaki, tentang langit dan bintang-bintang serta lintasannya, tentang, ah banyak sekali. Selama kami bercakap-cakap, Eka beberapa kali datang, baik menambah minuman yang sudah mulai habis, ataupun meletakkan beberapa kudapan lezat di meja.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu asyik kami bercakap, sampai matahari kepleset dan jatuh ke barat. Hari hampir gelap, ketika, aku dengan sopan berpamitan dan mengatakan, sungguh menyenangkan bertamu ke rumah itu. Ulfah, kembali tersenyum. Masih tetap duduk. Dari sejak awal aku datang, sampai sekarang hendak pergi, Ulfah hanya duduk saja di kursi. Setelah mengungkapkan rasa senangnya atas kunjunganku, Ulfah, menepukkan kedua tangannya, tiga kali. Eka datang, ”antarkan tamu kita sampai ke luar!”, kata-kata Ulfah, dengan lembut. Lalu Eka menunjukkan arah pintu, aku pun manut, dan pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pintu tertutup, aku mengetukkan rinduku untuk kembali. Inilah ceritaku.”</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">”Hmmm, bagaimana denganmu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang ketiga bertanya pada orang yang kedua, yang sedang berusaha menatap ke langit-langit, tapi, tak bisa, karena tatapannya masih kosong, ah, rupanya dia sedang merekam ulang kejadian yang hendak ia ceritakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menghirup nafas dalam-dalam, orang kedua pun mulai bercerita:</p>
<p style="text-align:justify;">”Waktu itu, hari mulai gelap. Kalian tahu, aku benci gelap. Gelap membuatku buta. Mataku ini, sangat sensitif pada ketiadaan cahaya. Cahaya redup, hanya memberiku gelap, tak ada yang terlihat, tak ada. Untunglah, aku temukan rumah itu. Tepat di ujung jalan setapak. Setelah lama pohon berjajar, akhirnya, senang sekali, aku melihat rumah. Maka, segera saja aku ketuk. Tak menunggu lama, pintu terbuka sedikit. Seorang wanita. Tak terlalu tinggi, tak terlalu berisi, tak terlalu puisi. Dia tersenyum, dan bertanya, ada yang bisa dia dibantu, kujawab ada, beri aku cahaya. Lalu dia membuka pintunya lebar-lebar, dan ribuan cahaya menumbuk retina, aku silau.</p>
<p style="text-align:justify;">Semuanya kembali terlihat. Wanita itu, jadi lebih anggun, apalagi dia tersenyum lembut dan mempersilakan masuk. Aku masuk lalu dipersilakan duduk. Aku duduk lalu dipersilakan cerita. Aku cerita lalu dipersilakan berhenti. Aku berhenti lalu dipersilakan minum. Aku minum lalu dipersilakan kembali bercerita. Aku bercerita lalu dipersilakan berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">”Bagaimana rasa minumannya?”, kujawab, dingin. Keningnya mengerut, lalu dengan lembut dia beranjak dari duduknya dan pergi ke belakang. Aku diam. Apa ceritaku salah. Apa pendapatku terlalu berani. Apa dia tersinggung. Apa minumannya tak sekedar dingin. Kembali kuteguk, dan yang kurasa, hanya dingin. Yah, hanya dingin.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia kembali. Dengan seorang, yang tingginya lebih tinggi sedikit, yang isinya lebih berisi, yang pipinya lebih gemuk dan tembem, yang senyumnya lebih lebar dan bergigi. Mereka jalan beriringan. yang satu membawa senyum, yang lainnya membawa nampan. Nampan itu, terbuat dari kayu, yang divernis sangat halus, lalu dipoles minyak, hingga mengilap. Di nampan itu, ada tiga gelas. Dari tanah. Tanah liat. Coklat dan kasar. Coklatnya coklat tanah. Kasarnya kasar tanah. Lalu, tiga gelas itu mendarat lembut di meja. Meja kayu. Kayu jati. Jati yang sudah sangat tua. Kuat dan kokoh.</p>
<p style="text-align:justify;">”Oh ya, ini Ulfah, pembantu saya. Saya sendiri Eka. Sebenarnya sangat tak tepat saya menyebut Ulfah pembantu, karena dia sudah saya anggap saudara sendiri.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dia memperkenalkan pembantu dan dirinya. Aku pun memperkenalkan diri secukupnya, seadilnya. Sehingga, dia tak lagi perlu bertanya yang tak perlu.</p>
<p style="text-align:justify;">Eka mempersilakan kami minum, aku dan Ulfah, Ulfah yang ikut duduk bersama kami, di kursi rotan, yang dianyam begitu apik. Setiap anyaman diperhitungkan sekali, sehingga ketika diduduki terasa lembut dan nyaman. Aku meminumnya, hangat sekali. Pertama di lidah, lalu pergi ke tenggorokan dan kerongkongan. Lama berdiam di dada sebelum jatuh ke perut. Rasa manis, tertinggal di lidah. Sedang pedasnya hanya lewat saja. Ini tentu minuman jahe. Ah ada lagi, rasa pala dan kayu manis. Membuatnya tak sekedar pedas, tapi beraroma dan citarasa minumannya terasa sebelum menyentuh lidah. Sangat menyegarkan. Apalagi, malam mulai dingin.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku kembali disuruhnya cerita, lalu aku cerita Siti Nurbaya. Belum selesai, Ulfah sudah terisak, aku berhenti, dan mengganti cerita dengan Abrakadabra, ke Waktu Nayla, Sepotong Senja untuk Alina dan berakhir pada Lukisan Kaligrafi. Lelah. Ulfah ke belakang, membawa gelas-gelas kosong dan hendak menggantinya. Kali ini, aku meminta Eka bercerita, dia mulai dengan Kappa, lalu Overcoat, Salju di Kilimanjaro dan berakhir pada Veronica Decide to Die. Ulfah kembali, dengan gelas-gelas kaca di nampan, tiga, dan putih. Itu tentu susu. Susu hangat, karena kulihat asap mengepul di atas permukaannya. Sambil menuju kami, dia membaca syair, syair dari Masnawi, kami, lalu diam dan terkagum-kagum. Setelahnya, kami minum susu hangat itu dalam diam. Menikmati setiap aliran susu lembut yang melewati tubuh kami. Lalu hangat dan semua senyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Di luar kicauan burung. Di dalam, kami saling berbalas syair. Di luar kokokan ayam, di dalam, gelak tawa dan tangis silih berganti karena syair lucu dan sedih silih berganti di bacakan. Di luar fajar, di dalam syair. Di luar mulai hangat, di dalam mulai sunyi. Di luar semangat hari telah datang, di dalam lelah.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun teringat pada kalian. Hari itu, aku sudah berjanji, membuatkan kalian sebuah drama untuk ditampilkan di teater Seribu. Lalu, dengan sangat sungkan, aku berpamitan. Ulfah senyum, matanya masih merah dan berair. Eka senyum, lidahnya merah dan menjulur, “sudah pergi sana, balik lagi yah!”. Aku pergi. Dan berakhirlah ceritanya.”</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Orang ketiga mengangguk-anggukkan kepalanya, menyimpan tangan kanannya di dagu, lalu menggembungkan pipinya, dan mulai berkata-kata.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana kalian yakin itu rumah yang sama dan orang yang sama?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tentu saja itu rumah yang sama. Tak ada rumah lain di jalan setapak di tepi hutan Gosum. Tak ada. Itu sebuah kepastian. Lagipula, nama dan deskripsi para penghuni rumah itu sama persis!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hutan Gosum itu luas. Mungkin kalian keluar hutan dari tepi yang berbeda. Soal nama, mungkin saja itu sebuah kebetulan. Sedang sekedar deskripsi tak bisa diandalkan, karena kalian punya mata yang berbeda. Dan tak ada saksi mata ketiga yang membenarkan. Lagipula, deskripsi keadaan rumah yang kalian berikan, sangat jauh sekali berbeda. Ditambah lagi, bagaimana mungkin mereka bisa saling berganti peran?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami keluar dari sisi yang sama, hutan Gosum hanya mempunyai satu sisi yang menuju ke sini, yang lainnya, hanya akan membuatmu tersesat. Kami punya deskripsi yang lebih rinci dan kami sepakat, mereka adalah orang yang persis sama. Soal keadaan rumah, kan bisa diganti atau karena kami tak memasuki ruang tamu yang sama.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Masalahnya adalah, apakah mereka bertukar peran atau dia yang salah lihat?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu yang salah lihat!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah cukup! Kalau begitu, ayo kita buktikan. Kita bertiga, bertamu ke sana! Kita lihat siapa yang lebih benar!”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang pertama dan kedua saling bertatapan dan menggeleng bersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sebenarnya itu rumah istri kami.”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang pertama dan kedua menjawab bersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=270&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2009/09/29/jadi-siapa-pembantunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki, Bus dan Gadis.</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2009/08/12/lelaki-bus-dan-gadis/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2009/08/12/lelaki-bus-dan-gadis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 01:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/2009/08/12/lelaki-bus-dan-gadis/</guid>
		<description><![CDATA[          Bus dan sepi. Oh, baginya saja. Lelaki yang duduk paling depan. Bus masih kosong. Tatapannya kosong, ke samping, ke deret-deret bus berjajar. Matanya kini menerawang, mengingat semua yang telah terjadi. Baru saja, ya, cuma beberapa bulan yang lalu, lelaki dan toganya, berfoto diapit kedua orang tua. Baru saja, ya, cuma beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=380&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">          Bus dan sepi. Oh, baginya saja. Lelaki yang duduk paling depan. Bus masih kosong. Tatapannya kosong, ke samping, ke deret-deret bus berjajar. Matanya kini menerawang, mengingat semua yang telah terjadi. Baru saja, ya, cuma beberapa bulan yang lalu, lelaki dan toganya, berfoto diapit kedua orang tua. Baru saja, ya, cuma beberapa minggu yang lalu, lelaki dan bapaknya, lelaki mengantar jenazah Bapaknya diiringi keluarga dan orang sekampung. Baru saja, ya, cuma beberapa hari yang lalu, lelaki dan lamarannya, diterima di perusahaan besar tapi ditolak gadis pujaan. Baru saja, ya, cuma beberapa jam yang lalu, lelaki dan ibunya, ibunya sakit minta lelaki pulang segera. Yang terakhir inilah yang membuatnya paling bingung. Bukan itu yang membuatnya bingung, bukan karena ibunya sakit, karena ini bukan pertama ibunya sakit, tapi inilah, buah tangan yang diminta ibunya: menantu.<span id="more-380"></span></p>
<p style="text-align:justify;">            Bayangkan saja, lelaki sungguh yakin, sang gadis pujaan yang dilamarnya pasti menerima lamarannya, tapi terlalu lama. Terlalu lama gadis itu menunggu, sampai akhirnya, datang lelaki lain, yang tak mampu ditolak sang gadis, melamar, sungguh keterlambatan yang fatal. Kefatalan ini membuat kacau hatinya, lelaki yang terbiasa tenang terhadap segala soal, mulai galau. Bayangkan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">            Sungguh peristiwa yang datang bertubi-tubi menghantamnya dengan senang dan duka membuat hatinya campur aduk. Bingung dan kalut jadi kabut. Akhirnya lelaki hanya memejamkan mata, menarik napas panjang, coba menenangkan diri. Begitulah selalu, ketika lelaki kalut, mengusir kabut dengan mata terpejam dan hembusan hangat napasnya, yang ditarik-ulur perlahan, teratur, memberinya rasa tenang, tentram, lalu kabut pun jadi embun yang sejuk di hati, begitulah selalu.</p>
<p style="text-align:justify;">            Sehingga ketika lelaki membuka mata, semuanya jadi lebih terang, terang bagi pikirannya, lapang bagi hatinya. Tapi, kali ini tidak: sebenarnya seperti biasa saja lelaki membuka mata, tapi apa yang dilihatnya setelah membuka mata membuat lelaki kaget luar biasa. Ada seorang gadis, cantik, duduk disebelahnya, tak ia kenal. Bangku bus cukup untuk bertiga memang, tapi, gadis ini mendudukkan sebuah koper besar di samping kirinya dan membiarkan dia duduk berdekatan dengan lelaki. Lelaki lebih merapatkan duduknya ke jendela. Gadis lebih merapatkan duduknya pada lelaki. Koper itu tenang saja di samping si gadis.</p>
<p style="text-align:justify;">            Gadis menatap lelaki, lalu tersenyum. Lelaki ikut tersenyum, berusaha menjawab sapa senyum gadis. Bus masih sepi. Hanya beberapa kursi terisi. Supirnya entah ke mana. Bus lain masih sama, berderet-deret, mengantri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada banyak kursi di sini, tapi, dirimu tahu, kenapa aku memilih duduk di sini?”</p>
<p style="text-align:justify;">Perempuan bertanya sambil memiringkan kepalanya ke kiri dan matanya menatap lurus ke muka lelaki. Lelaki hanya menggeleng dan tersenyum. Tiba-tiba saja, gadis itu meraih lengan lelaki, menggandengnya lalu menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki. Lelaki diam, sedikit terkaget.</p>
<p style="text-align:justify;">“Putra, ajak aku pulang bersamamu yah!”</p>
<p style="text-align:justify;">Putra diam dan dengan tenang menjawab.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenalkan aku pada Ibumu, sebagai calon istrimu, yah?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis menekankan kata “yah” dengan suara tegas, seolah memaksa sekaligus memelas. Putra menatap atap bus sejenak lalu menatap gadis dan dengan tenang menjawab.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah, terimakasih.”</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis melepaskan tangannya dari Putra. Lalu menggeser sedikit duduknya mendekati koper, kemudian menundukkan wajahnya dan wajah putihnya pun memerah. Putra tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Buat apa kau bawa koper sebesar itu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis menengok, sambil tersenyum dia bilang:</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku kabur dari rumah!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh!”</p>
<p style="text-align:justify;">Itu saja tanggapan Putra, Gadis menunduk dan tersipu malu. Dalam hatinya mulai timbul rasa segan. ada kecemasan di wajahnya. Keringat mengembun di wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Putri, kenapa kau lari?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Heh?”</p>
<p style="text-align:justify;">Putri melongo, matanya membulat kaget lalu mulutnya terbabang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Kok</em> Putra tahu namaku?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Loh, apa anehnya. Saya belum pernah <em>ketemu</em> sama kamu dan kamu tahu namaku. Lalu apa anehnya kalau aku juga tahu namamu?”</p>
<p style="text-align:justify;">  “Loh tapi, kan&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi jawabannya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hhh..hh..hh&#8230;.”</p>
<p style="text-align:justify;">Putri meremas-remas tangannya, mungkin karena gemas. Putra dengan tenang menatapnya, menaikkan bahu dan mengangkat tangannya secara terbuka setinggi bahu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tetep aja aneh! <em>Kan</em> tadi kamu <em>bilang </em>belum pernah <em>ketemu</em> aku, jangan-jangan&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibuku galak, tapi dia baik. Ibumu pasti baik, tapi bapakmu galak. Tadi pagi, bapakmu marah yah, terus kamu marah, terus lari dari rumah, terus ketemu aku, terus mau kenalan sama ibuku. Ibuku galak&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">Putri diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi, masa bawa koper sebesar itu. Isinya pasti barang-barang aneh. Buat aku dan ibuku. Tapi, masa harus dibawa <em>pake</em> koper sebesar itu&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">Putri menatap Putra, diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pak supir sudah datang, belum terlambat untuk pulang, Bapakmu pasti kangen, dia pasti  sudah tidak marah lagi, kamu kan putri satu-satunya yang bapak-ibumu punya. Kopernya biar kubawa, nanti <em>kubalikin</em> pas balik ke sini lagi. Pak supir sudah datang, kalau mau pulang, sekaranglah&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">Putri diam, menunduk. Ada mendung di wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana? Mau&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">“hwa..ha&#8230;ha&#8230;., kamu lucu!”</p>
<p style="text-align:justify;">Putri tertawa renyah, menampakkan deretan putih giginya. Putra diam, tersenyum kecut.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sok tahu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hm!”</p>
<p style="text-align:justify;">Putra mengangguk dengan yakin lalu tersenyum lebar. Menatap Putri dan mulai cengengesan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekarang giliranku. Putra, kenapa namamu tak ada kepanjangannya, nanti kutanya ibumu saja. Sudah lulus dan bekerja. Pernah ngelamar anak gadis orang tapi ditolak. Tiga minggu yang lalu, aku kirimkan karangan bunga haru untuk bapakmu. Hari ini ibumu sakit dan minta menantu, dan akulah menantu itu.”</p>
<p style="text-align:justify;"> “Prok..prok&#8230;.prok&#8230;!”</p>
<p style="text-align:justify;">Putra menepuk tangannya, tertawa lebar&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">“Hebat sekali! Kau memang Putri! Sepertinya kau menyontek kata-kata pembuka penulis cerita ini? Tapi, sungguh mengagumkan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku cantik kan?”</p>
<p style="text-align:justify;">Putra mengangguk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu tampan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Putra mengangguk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa ibumu suka dengan gadis cantik?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmmmm&#8230;, tidak terlalu. Soalnya dia sudah punya banyak. Kakakku tiga dan semua perempuan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah. Bertambah satu tak masalah kan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hm!”</p>
<p style="text-align:justify;">Putra menganggukkan kepalanya. Putri menarik napas cepat sampai bahunya terangkat lalu menghembuskannya cepat sehingga bahunya dengan cepat turun lagi. Lalu keduanya diam. Deru mesin mobil mulai menderam.</p>
<p style="text-align:justify;">Bus membelok, keluar dari barisan. Meninggalkan bus lain yang berjejer. Tempatnya tadi sudah mulai di isi bus lain yang tadi mengantri di belakangnya.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p align="center">(terimaksih untuk Budi Dharma – buat cerpen-cerpen absurdnya, Andalusia Neneng Permatasari – buat kumcer Budi Dharmanya, Sayekti Putri Utami – untuk ide ceritanya, Putra Darmawhangsa – untuk namanya, Bus Prima Jasa – yang sering kutumpangi pulang, dan Terminal Leuwi Panjang – yang selalu mau ditumpangi Bus Prima Jasa)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/380/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=380&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2009/08/12/lelaki-bus-dan-gadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sungai Karet</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2009/05/11/sungai-karet/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2009/05/11/sungai-karet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 00:45:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[ Sepi. Merah tanah terbang jadi debu. Angin mendesir, lewat begitu saja, tak ada sapa. Ini siang matahari begitu terik, panasnya membakar kulit. Sedikit-sedikit kulitku terkelupas termakan panas. Di mana-mana ada retakan, yang hitam dan kasar.
Pandanglah aku, yang renta ini, tak lagi pokok batang menjulang. Tak lagi pucuk mencapai tinggi. Tepat beberapa meter dari muka tanah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=338&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"> Sepi. Merah tanah terbang jadi debu. Angin mendesir, lewat begitu saja, tak ada sapa. Ini siang matahari begitu terik, panasnya membakar kulit. Sedikit-sedikit kulitku terkelupas termakan panas. Di mana-mana ada retakan, yang hitam dan kasar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandanglah aku, yang renta ini, tak lagi pokok batang menjulang. Tak lagi pucuk mencapai tinggi. Tepat beberapa meter dari muka tanah, kau lihat itu, patahan besar pokok batangku terkena golok dan gergaji. Sungguh bising ketika gergaji itu pelan-pelan masuk ke batangku. Gigi-giginya yang runcing bolak-balik menusuk semakin dalam. Setiap gesekan mengeluarkan deritan dan getahku serupa darah mengalir deras.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah apa dosaku. Pagi itu seperti biasa kumulai dengan menyapa burung. Menyaring beberapa karbondioksida dan menenggak air. Seperti pagi biasa saja: memerangkap beberapa tetes embun di lengkung tengah daunku lalu memainkannya jadi tetesan air yang kadang menimpa kepalamu yang sedang main-main di bawahku, membina pucuk-pucuk baru yang terus tumbuh di ujung ranting, atau sekedar meniup-niup angin yang lewat begitu saja. Entah apa dosaku.<span id="more-338"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Matahari sebentar meninggi menunggu pagi. Lalu entah siapa datang bawa gergaji. Kau lihat, Jamblang di sampingku, telah dipanjat dan diranggas segala dahannya. Tak lagi ada ranting dan daun-daun rontok menghempas tanah. Suara hempasannya begitu memilukan. Serupa rintihan orang kesakitan yang lirih. Sedang gedebum patah dahannya yang menimpa tanah serupa hentaman meriam kena sasaran. Begitu memilukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelapa yang di ujung sana, yang berjejer rapi, kini telah berjejer rapi jadi potongan-potongan silinder, bergeletakan di tanah. Daunnya yang memanjang berurai karut-marut. Buahnya bergelimpangan, beberapa menggelinding menjauh. Sedang Jambu yang meranggas di sebelah utara itu telah rapi terikat siap dibakar di tungku-tungku penanak nasi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu gedebum! Batang pokok Jamblang tumbang. Dan tibalah giliranku. Kaki kanannya menjejak di pangkal pokok batangku, sedang kedua tangan kekarnya mencengkram kuat batangku yang sejajar dadanya, dia lalu membungkukkan badan mendekat  dada ke batang. Lalu sekali tarikan tangan, badannya menghempas naik, kaki kirinya menjejak jadi pijak lalu kaki kanan naik ganti jadi pijak lalu kaki kiri naik lalu cengkraman tangan naik dan kaki kiri jadi pijak lalu kaki kanan naik ganti jadi pijak&#8230;.. begitulah seterusnya. Dan tiba-tiba saja dia telah sampai di dahan tinggi, mulai mengeluarkan golok dari sarung yang terikat di tali pinggangnya dan meranggas dahan-dahan yang bisa dijangkaunya. Satu-satu dahanku putus terpotong tajam tebasan golok. Sakit, sungguh sakit. Hendak aku menjerit bila bermulut. Tapi, aku diam, hanya gedebum batangku berhempasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Habislah sudah segala ranting segala dahan tinggal batang telanjang. Lalu mulailah dia mengurai tambang yang melingkar di bahunya. Mengikat kuat ujung dahan tertinggiku beberapa senti saja dari puncaknya dengan ujung tambang, sedang ujung tambang lain ia lempar ke bawah. Lalu bergegas ia turun.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah telah siap gergaji besar. Matanya mengilap baru kena asah. Gergaji itu hanya lempengan panjang besi saja, satu sisinya bergerigi segitiga runcing, sedang sisi lainnya rata saja. Di kedua ujung gergaji ini dipasang pegangan kayu berbentuk gagang silinder, panjangnya lebih panjang dari lebar gergaji, agar kedua orang itu leluasa menggengam gergaji.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka berdua duduk berhadapan, masing-masing tangan pada pegangan gergaji. Lalu gerigi gergaji diarahkan ke batangku, betapa ngeri. Ketika ujung gerigi itu menyentuh kulitku seluruh tubuhku terasa ngilu. Dan mulailah goresan pertama, orang pertama mendorong gergaji lalu sedikit membungkuk, orang kedua menarik gergaji sampai tubuhnya terdorong ke belakang. Saat orang pertama menarik gergaji maka orang kedua akan mendorongnya, begitulah bergantian sampai batang teriris tiga perempat bagian. Mereka berhenti, menjauh dari batangku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu orang yang memanjat tadi, dibantu kedua penggergaji, menarik kuat tambang yang ujungnya telah kuat mengikat ujung dahan tertinggiku. Aku goyah. Hentakan tarikan mereka membuatku goyang, hilang keseimbangan, lalu gedebum!</p>
<p style="text-align:justify;">Getahku serupa darah terus mengalir, menggenang sekitar batang, jadi lautan darah putih. Mereka tertawa puas. Akulah batang terakhir di lapang ini yang jatuh.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan lapang jadi sungguh kacau. Dimana-mana organ berserakan. Dari bermacam bentuk daun, berbagai ukuran ranting sampai berbagai batang bercampur-campur.</p>
<p style="text-align:justify;">Lapang ini tadinya sungguh indah, setidaknya menurut perkiraanku sebagai Karet. Di lapang ini akulah yang tertinggi jadi bisa memandang lebih jauh, lebih luas. Jambu tak seberapa tinggi, tentu saja agar dia bisa menawarkan buahnya untuk kesenangan anak-anak. Sedang Jamblang, buahnya kecil-kecil tapi sungguh manis, tentu dia tak boleh lebih tinggi dariku. Sedang Kelapa tak masuk hitungan, karena dia jauh berada di tepi lapang, lagi pula, janurnya perlu untuk perayaan, jadi janganlah terlalu tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai Karet aku mendapat tempat terhormat di lapang ini setiap musim kemarau. Saat Jjamblang kehabisan buahnya dan Jambu pentil buahnya, aku menawarkan buah dan batangku. Loh, untuk apa? Untuk teman bermain mereka. Bagaimana bisa? Yah, begitulah.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kemarau kukeluarkan buahku. Buah ini bukan hanya unik bentuknya – dilihat dari bawah seperti bintang tumpul berbidang tiga atau empat, sedang kalau dilihat dari samping, seperti gelendong yang menggembung di bagian tengah, serupa tiga bukit yang melengkung yang dibatasi oleh lembah-lembah curam – tapi komposisi kulit buahnya pun unik.  Di dalam kulitnya yang empuk ada semacam cangkang keras, mungkin kitin. Fungsinya bukan sekedar melindungi buahku, tapi juga sebagai pelontar. Setelah buahku cukup tua, cangkang ini yang tadinya basah dan lunak jadi mengering dan keras. Semakin kering, semakin jauh buahku akan terlontar. Pengurangan air yang drastis membuat cangkang ini tertekan kuat dan saling mendorong sampai akhirnya pecah dan terlontarlah bijiku. Dalam satu buah, biasanya berisi tiga atau empat biji karet, bahkan kadang lima atau enam. ”Trrrkk&#8230;trrrkk&#8230;..trtak!!”, begitulah bunyi pecah cangkangnya, sungguh merdu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa gunanya biji karet? Bagi anak-anak ini sungguh sebuah hiburan. Bijinya dijadikan bahan aduan, biji karet siapa yang lebih kuat. Kedua biji karet ditumpuk, muka ketemu muka, lalu ditimpa kepalan tangan. Yang kulitnya lebih rapuh itulah yang hancur duluan, kalahlah. Begitulah, satu-satu diadu sampai habis lalu mereka akan menunggu lontaran bijiku berikutnya. Yang menyenangkan adalah, mereka tak bisa menduga kemana biji akan kulontarkan walaupun telah mendengar suara pecahnya cangkang. Begitu biji terlihat di udara atau terlihat menghantam tanah, mereka bergegas berebutan biji itu. Agar tak ribut karena berebut, biasanya langsung saja kulontarkan biji berikutnya. Ah, sungguh semarak suasana.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang bagi orang tua mereka, isi bijiku yang lunak bisa jadi santapan lezat. Mereka menamai santapan itu dage. Isi bijiku dibelah dua lalu dibersihkan getah dan bakal daunnya. Setelah itu direndam selama beberapa hari sampai racun-racunnya keluar melarut di air rendaman. Setelah dibasuh dengan air bersih, isi bijiku ini telah menjadi dage dan aman dikonsumsi. Biasanya dipepes, serupa tahu. Gurih sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu tentang batangku, inilah. Mereka membuat luka. Ada yang sengaja membawa pisau dapur dan mengiris batangku. Ada juga nekat menghantamkan batu bata sampai koyak kulitku. Keluarlah getah. Semakin banyak, semakin senang mereka. Dari luka-luka itu getahku mengalir menganak sungai kadang mereka sengaja membuat lubang di tanah, sungai getahku bermuara di danau getah. Apa perlu mereka dengan getah? Apa mereka hendak jadi penyadap getah karet yang mengumpulkan getah untuk karet?</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah! Mata mereka berbinar memandang sungai getahku. Lalu mereka celupkan jari ke getah. Jari yang penuh getah segar ini dioleskan ke telapak tangan, terus, terus, sampai tebal  seluruh telapak tangan penuh getah basah. Bila belum puas, mereka oleskan juga ke punggung tangan, jari-jari sampai kuku, bahkan lengan mereka sampai siku. Semuanya penuh getah. Setelah puas, kau lihat wajah mereka dengan sabar menunggu. Kadang meniup-niup getah di tangan mereka, sampai kering. Setelah kering, dimulai dari bagian manapun yang mereka suka getah kering ini dikelupas perlahan dengan cara khusus: dari ujung permulaan pengelupasan, dilakukan penggelindingan sampai terbentuk bola karet. Bola karet lalu menggelinding serupa bola salju semakin besar dengan semakin banyak kelupasan. Getah karet yang terkelupas berwarna bening dan saat diangkat jadi serupa mengelupas kulit. Lalu berlombalah mereka, bola siapa yang lebih besar? Sungai getah siapa yang paling deras dan danau getah siapa yang paling melimpah?</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka bisa asyik seharian bermain sungai karet dan mendapat bola karet sebesar bola golf. Mereka tertawa, saling menempelkan getah ke pipi, hidung atau tangan anak lain. Ada cekikikan bahagia. Mereka ketawa!</p>
<p style="text-align:justify;">Getahku serupa darah terus mengalir, menggenang sekitar luka di batang, jadi danau darah putih. Mereka tertawa puas. Akulah satu-satunya Karet di lapang ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/338/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=338&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2009/05/11/sungai-karet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Tikus “Berebut” Buku</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2008/08/11/ketika-tikus-%e2%80%9cberebut%e2%80%9d-buku/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2008/08/11/ketika-tikus-%e2%80%9cberebut%e2%80%9d-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 07:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu aku datang, membuka kunci kombinasi, lalu medorong pintu sampai buka. Seperti biasa, aku menaruh tas, menyalakan komputer dan menikmati hijau rumput yang menghampar di depan-bawahku. Tepat dibelakang monitor komputer, jendela-jendela kaca terpajang, 8 buah: memberi ruangan sinar hangat matahari yang membakar semangat. Dari kaca-kaca ini aku bisa menembuskan pandanganku ke depan-bawah atau ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=121&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span lang="IN">Siang itu aku datang, membuka kunci kombinasi, lalu medorong pintu sampai buka. Seperti biasa, aku menaruh tas, menyalakan komputer dan menikmati hijau rumput yang menghampar di depan-bawahku. Tepat dibelakang monitor komputer, jendela-jendela kaca terpajang, 8 buah: memberi ruangan sinar hangat matahari yang membakar semangat. Dari kaca-kaca ini aku bisa menembuskan pandanganku ke depan-bawah atau ke depan-lurus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Itu pandangan indah siang itu, sebelum aku menengok ke kanan, melihat dua onggok kantong plastik berisi tumpukan buku-buku. Yang satu masih utuh, yang satu lagi terkoyak di salah satu sisinya. Ah benar-benar tercabik-cabik. Robekan terjadi di satu sisi dan sisa-sisa robekannya berceceran di lantai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tak perlu berpikir pelik, aku langsung menuduh tikus sebagai pelakunya. Setelah beberapa aku memanggil, tikus-tikus itu datang. Bulunya hitam kusam dengan ekor panjang dan telinga kecil yang melebar. Di depan moncongnya dia menyunggingkan senyum, penuh rasa bersalah. Kutanya mereka satu-satu, interogasi!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertanyaan: Tadi pagi Anda ada di mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Tikus I<span> </span></span></strong><span lang="IN">: Tadi pagi aku tak ke mana-mana. Aku sedikit flu, punggungku <span> </span>terasa sakit. Jadi aku hanya tiduran di rumah (mukanya benar-<span> </span><span> </span><span> </span>benar memelas dan berkali-kali dia bersin dan menyebarkan lendir <span> </span><span> </span><span> </span>di sekitar karpet, uh, menjijikan!).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Tikus II</span></strong><span lang="IN"><span> </span>: Jadi kamu menuduhku sebagai pelaku kejahatan ini? Mana bisa <span> </span>begitu? Kamu tak punya bukti kan? Jangan kira karena aku tikus <span> </span>jadi bisa di tuduh seenaknya! (Dia benar-benar penuh emosi!)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=121&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2008/08/11/ketika-tikus-%e2%80%9cberebut%e2%80%9d-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Romantika “SAn-Pit”</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2008/07/16/romantika-%e2%80%9csan-pit%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2008/07/16/romantika-%e2%80%9csan-pit%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 00:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kisah biasa seorang lelaki tak beristri. Tak patutlah kita dengar cerita ini dari lain orang. Maka, kuceritakan langsung kepadamu tentang seorang lelaki biasa yang belum beroleh istri ini.
 
Ini bukan sebuah kisah gembira. Semuanya bermula ketika dia kehilangan. Di tinggal seorang yang telah begitu setia menemani ke mana ia pergi. Telahlah ia kehilangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=65&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Ini adalah kisah biasa seorang lelaki tak beristri. Tak patutlah kita dengar cerita ini dari lain orang. Maka, kuceritakan langsung kepadamu tentang seorang lelaki biasa yang belum beroleh istri ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Ini bukan sebuah kisah gembira. Semuanya bermula ketika dia kehilangan. Di tinggal seorang yang telah begitu setia menemani ke mana ia pergi. Telahlah ia kehilangan dengan begitu sangat pedih di hati. Bagaimana tidak, kalau hati telah jatuh pada seorang lalu ditinggalkannyalah kita, betapalah sakit di hati. Begitupun dia. Dia memang tak meratap karena seorang lelaki katanya harus berusaha menabahkan diri di hadapan Tuhan. Telah dia beroleh kecewa, tapi, untuk apalah dia berputus asa, dia selalu bisa bangkit setelah jatuh tersungkur. Tapi, apakah dia akan bangun lagi kali ini setelah kejatuhan yang begitu mengguncang hati?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-65"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Bila kita sedikit mengurut waktu, tahulah kita dimana dia bertemu dengan seorang yang begitu istimewa itu. Di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai orang ingin bersenang dan bersenda. Lihat ia segala orang yang lewat. Orang dengan baju rapi dan seorang kekasih. Orang dengan celana pendek dan sandal. Orang berkacamata hitam berbaju hitam. Atau petugas yang membawa benda sepanjang golok yang mengeluarkan cahaya merah. Dan tentu, gadis-gadis cantik menarik hati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Tapi, dia tak terlalu tertarik dengan gadis-gadis itu. Hanya pada seorang di sebuah toko yang telah menunggu dengan sabar datangnya, dia tertarik. Bila kau bisa melihat hatinya, kau akan tahu dia hanya tertarik pada seorang itu. Maka masuklah ia dan mulai mencari dimana beradanya seorang yang menunggu itu. Bertemulah mereka, di sebuah tempat yang tak pantas bagi seorang kekasih menemukan cinta pertamanya, di sebuah tempat penjualan alas kaki. Macam-macamlah disana dijual berbagai alas kaki. Dan seorang itu telah berada disana lama, menunggunya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Dia menghampiri seorang itu, dan mengajak pergi bersamanya. Dan setelahnya, kau akan melihat kemana dia pergi seorang itu selalu bersamanya. Bila kau tanya kenapa dia memilih seorang itu, kau hanya akan mendapat jawaban yang kabur. Sekali dia bilang, seorang itu seorang yang <em>easy going</em>. Mudah diajak kemana saja dan selalu menampakkan keceriaannya di segala suasana. Sekali lain dia bilang, ini sudah jalan yang harus dipilihnya, menyukai lalu memiliki seorang itu. Dan sekali lain dia pun bilang, mungkin seorang itu bukan yang terbaik buatnya, tapi, dia yang terbaik buatnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Bermacam-macam pula pendapat orang tentang hubungan mereka. Ada bilang, dia telah menyalahi aturan agama, tak boleh berkasih-kasihan sebelum pinangan jadi nikahan. Yang lain bilang, bolehlah dia bermesra-mesraan, tapi janganlah dilakukan ditempat umum macam taman ini. Berlakulah berbagai macam perkatan orang ini pada opini khalayak. Taklah sampai ia dikucilkan, tapi telah dipandang orang ia sebagai orang murahan, karena telah bergaul dengan seorang yang murahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Tak apalah orang bilang seorang itu sebagai orang murahan, tapi, apa mau dikata, seorang itu miliknya, punyanya. Terserahlah apa kata orang, tapi, dia telah bangga karena memiliki seorang itu sebagai orang yang selalu menemani ke mana ia pergi. Orang-orang itu pada cemburu pada pikirnya suatu kali, karena dia telah mendapati seorang yang telah begitu setia. Apatah di zaman sekarang ini. Zaman yang perpisahan suami istri terjadi dimana saja. Di zaman orang senang berganti pasangan seperti ganti pakaian saja. Tentulah cemburu semua orang demi melihat kami begitu rukun, ke mana selalu bersama dengan saling menjaga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"><span> </span>Tentang seorang itu, baiklah akan kuceritakan sedikit tentangnya. Bagi kebanyakan orang seorang itu tak sama sekali cantik. Murahan dan gampang digoda. Tapi, sungguh pun begitu dia begitu setia pada seorang yang memilihnya. Kecantikannya bukan terletak pada wajahnya, tapi pada perilakunya yang begitu menyenangkan. Selalu ceria setiap saat. Bermurah senyum pada semua. Dan kalau dipandang lebih dekat, kau pun akan mengerti kenapa dia jatuh cinta pada seorang ini. Dia mempesona. Kulitnya lembut dan empuk. Memberi kenyaman pada setiap pelukan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Segala keindahan hidup telah direguknya bersama seorang itu disampingnya. Ke mana dan di mana, selalu bersama. Mendaki bukit tinggi lalu saling berjanji untuk saling menepati cita-cita, disaksi tenggelamnya surya di jelaga senja. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Semuanya berjalan baik, sampai di suatu malam muram. Begitu muram, sampai tangan di muka tak kelihatan. Gemuruh bersusulan di langit berawan hitam. Ketika itu, aku pergi sebentar, tinggalkan ia pada kumpulan beberapa jenisnya. Cuma sebentar, menengok orang-orang yang sedang merapat. Hanya sebentar dan begitu aku kembali dia telah lenyap. Tanpa jejak!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span class="gen"><span lang="IN">Dia yang begitu kusangka setia telah pergi. Aku ditinggalnya sendiri, tanpa ucap pisah apa salam rindu. Aku kecewa sungguh, hati memendam amarah, mendendam deru. Kubuang saja semua rasa untuknya! Muak aku menggunung, memuncak dalam kegetiran. Kulupakan saja dia! Toh dia hanya seorang sandal jepit! Sanpit!</span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=65&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2008/07/16/romantika-%e2%80%9csan-pit%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki Akar dan Batu Biasa</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/lelaki-akar-dan-batu-biasa/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/lelaki-akar-dan-batu-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2007 13:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/lelaki-akar-dan-batu-biasa/</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki Akar dan  Batu Biasa?
 
Istriku
Dan tak lagi ada manusia yang kini lebih kucinta selain istriku.
 
Entah apa yang akan diucapnya bila tahu aku datang lewat tangan hampa ini. Aku takut akan kecewanya. Cintanya padaku tak kuragukan, tapi aku ragu, bila ia harus kecewa untuk kesekian kali dan kesekian hari. Entahlah, Dukun Beranak kampung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=33&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:Castellar;">Lelaki Akar</span><span style="font-size:10pt;font-family:Castellar;"> </span><span style="font-size:15pt;font-family:Adler;">dan</span><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;"> </span><strong><span style="font-size:18pt;font-family:Chiller;">Batu Biasa</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Ghostwriter;">?</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Castellar;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Istriku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan tak lagi ada manusia yang kini lebih kucinta selain istriku.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Entah apa yang akan diucapnya bila tahu aku datang lewat tangan hampa ini. Aku takut akan kecewanya. Cintanya padaku tak kuragukan, tapi aku ragu, bila ia harus kecewa untuk kesekian kali dan kesekian hari. Entahlah, Dukun Beranak kampung bilang ia hamil. Dan betapa bahagia hatinya bila inginnya dipenuhi. Suami macam apa aku?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Pintu itu tampak betapa kokoh. Bukan karena asal kayu jatinya, tapi karena dirinya di balik pintu. Apa dia – akhirnya – harus marah atau dia menatapku dengan senyuman dimuka – seperti biasa. Terasa sangat berat untuk sekedar membuat pintu ini terbuka. Saat kusentuh punggungnya – si pintu – dan tinggal menekannya langkahku terhenti: ragu. Bagaimana hati ini akan menghadapi muka sedihnya. Bagaimana diri ini akan tetap menjadi orang yang dicinta saat mukanya berubah masam karena kecewa. <span id="more-33"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Hatiku diliputi keraguan. Seakan alam berputar dan tersedot aku ke pusat pusaran, dalam dan semakin dalam, semakin dalam semakin gelap, semakin gelap semakin hitam. Dan putaran itu terhenti: Masuklah! Suaranya begitu tegas, memecah dan mengacau arah pusaran dan terpental aku kembali ke alamku dan sedikit keberanian yang terkumpul cukup untukku membuka pintu dan dia tertunduk di balik kelambu menatapku dengan hati dan aku berdebar jantungku menetes keringatku bergetar tubuhku: aku takut. Kutahu hasilnya sama. Tapi, bukankah masih bisa kau coba lain kali, katanya lembut, kelambunya terbuka dengan senyum dibibir tanpa luka tanpa kecewa dan aku makin cinta. Kenapa dia masih tersenyum saat harus kecewa dan berlembut kata saat harus marah: karena dia istri wanita manusia terbaik yang diciptakan untukku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><!--more--><!--more--><span style="font-size:10pt;">Kelambu putih baju putih kulit putih bercampur dengan merah bibir rambut hitam tergerai: komposisi yang sempurna untuk wanita secantiknya. Senyum yang merekah tulus menembus ke dalam hati ke kedalaman jiwa ke terindahan rasa. Maaf hanya jadi kata yang meluncur di bibir untuk menenangkan diri sendiri dan meyakinkan hati: dia tak kecewa atau marah atau bermuka masam. Mungkin lain kali kau akan mendapatkannya, bagiku kau kembali dengan murung atau senyum sama saja: kau suamiku; dan kau tetap istriku bilapun kau marah kecewa bermuka masam sekalipun. Aku mengecup keningnya. Aku memeluknya dalam pelukannya yang erat dan membisikkan kata untuk nantikanku di surga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan mereka mengenalku sebagai yang lain, bukan sejatinya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Di bumi mana dia tak dikenal?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">“Sungguh bergetar lututmu karena takut tak berhingga bukan pedang, bukan parang atau kujang bahkan tombak sekalipun, dia sama sekali tak pakai senjata! Lalu apa membuat lutut bergetar? Muka seram-tangan kekar-besar badan-keras watak-main bentak-nyalah! Sungguh tak berani kau menyela inginnya bilapun keris-tombak-pedang-parang-kujang ada ditanganmu sekaligus. Kau jadi pengecut yang lebih dungu dari keledai paling dungu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">“Tidak layaknya bandit-rampok-begal lain, dia hanya sendiri. Mencegat saudagar lewat tengah hari-malam-pagi di tempat tak kau duga. Pedati ditarik lembu hitamnya selalu penuh saat kembali, entah kemana dan dimana. Mukanya buruk dan seram dengan gigi taringnya mencuat di ujung bibir dengan hidung besar dan lubang mendatar – mirip hidung babi – dengan mata besar tanpa kelopak dengan dahi penuh kerutan tak karuan dengan alis semrawut dengan jenggot menjuntai terurai dan lebat layak ijuk di sapu ijuk dengan telinga meruncing di ujung atas menjuntai di ujung bawah dan melebar di tepi dengan pipi melekuk ke dalam menampak rahang kuat dengan seluruh bulu di wajah dengan seluruh rambut di kepala yang terlepas melewati pundak dan menutup punggung bahu: kumal-hitam-kotor. Bila kau menatapnya, matamu seolah tersirap dan menelan seluruh wajahnya dalam ingatanmu dan selama tujuh malam tidurmu dihantui buruknya mimpimu dan kujamin kau akan lebih sering terjaga karena takutnya. Apa yang diminta kau beri sekalipun itu permata paling mahal yang pernah kau punya sekalipun kuda paling bagus kuat dan larinya paling kencang sekalipun budakmu paling patuh-berharga-pandai-kerja keras sekalipun, sekalipun, sekalipun!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">“Dengarlah detak jantungmu saat menatapnya, seakan ia menghentak-hentak dadamu hendak keluar saja darimu dan terbebas dari rasa takut yang sangat. Dengarlah getar hatimu yang ingin kau lari saja dengan memalingkan muka darinya. Dengarlah gemeretak lututmu yang ingin lepas saja dari sendinya lalu lari jauh darinya. Kita tak lagi punya cukup keberanian untuk hanya sekedar bertanya kenapa dan apa yang terjadi pada diri kita. Seolah ada kekuatan besar di luar diri kita yang menyedot habis seluruh keberanian dari segala sendi tubuh dan hanya menyisakan ketakutan yang mengikis habis kesombongan dan kebanggaan akan kekuatan tubuh, kekayaan, dan kekuasaan yang dimiliki. Kita hanya budak dihadapannya. Begitu pasrah pada perintah dan tunduk pada kemauan sang Tuan, sedikit melawan hardik keras mendarat di gendang telinga dan pukulan di perut, tamparan di pipi, tendangan ke kepala sudah siap menunggu giliran. Kita benar-benar pada ketakutan yang sangat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">“Bahkan kalaupun seram mukanya dan keras wataknya tak diragukan lagi, dia orang baik, setidaknya menurutku. Hari itu aku sungguh mengalami kerugian dalam perniagaan di kota. Aku pulang dengan perasaan penuh kecewa dan di satu jalan antara Kota dan Kampung dia datang. Ingin rasanya aku berlari dan tinggalkan semua barang dagangku. Tapi, &#8230;&#8230;.sungguh tampak dari wajahmu suatu kerugian. Jangan murung! Apapun yang kau bawa, berikanlah semua pada keluargamu dan ini tambahan untukmu&#8230;&#8230;.. dia melemparkan sekantung keping emas ke arahku. Aku hanya diam mematung: tak mengerti. Siapa dia? Yang sebenar-benarnya makhluk jahat berbuat kebaikan seperti ini padaku. Dan di kampung-kampung yang kulewati, telahlah orang-orang mengenalnya. Dia datang dan pergi begitu saja dengan harta melimpah ditinggalnya. Sungguh dia dewa kami. Biarpun buruk mukanya dan keras perangainya, dia Dewa kami.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">“Bukan sekali atau dua kali kami berusaha menangkapnya tapi dari ratusan kali upaya kami tak sekalipun tak gagal. Dia telah merugikan puluhan pejabat negara dan ratusan saudagar. Tak peduli seberapa curang mereka dalam mendapat kekayaan, tindakannya – merampoki mereka di jalan – sungguh kejahatan yang tak dimaafkan. Namun, sungguh sulit sekali melacak adanya. Suatu kali orang <em>bilang</em> dia di Kampung anu dan kami menyisir habis seluruh isi kampung, yang kami dapat hanya dampratan atasan. Lain waktu ada laporan dia dibukit anu dan seluruh penjuru bukit telah dikepung dan hanya didapati sisa api unggun tanpa tahu kemana hilangnya. Ada pula yang bilang dia di gua anu dan yang kami temukan hanya kotoran kelelawar, bau dan kotor. Akhirnya dukun Anu <em>bilang</em> dia bukan bangsa manusia jadi perlu jasa para Dukun jika ingin menangkapnya. Maka dikumpulkanlah sekalian dukun dari segala penjuru negeri. Mereka baca berbagai mantra dan mendatangkan Jin dari berbagai bangsa dan hasilnya adalah penghamburan uang negara! Semenjak itu segala profesi dan prosesi yang berhubungan dengan dukun dilarang di seluruh negeri. Dan kami tak lagi mencari dan membiarkan semua yang harus terjadi, terjadilah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Dan tak seorangpun yang mau bertemu dengannya dapat menemukan dan tak seorangpun yang dapat menolak kehadirannya saat ia datang. Dan di bumi mana dia tak dikenal?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Batu Biasa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan benda penuh keajaiban ini adalah misteri. Penuh keajaiban dan obat segala sakit.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Dan tersebar kabar ke seluruh negeri, batu yang kelewat ajaib. Kata seorang batu itu hitam saja, kusam dan sederhana. Tak ada motif tertentu dan permukaannya kasar, layaknya batu kali di pinggir sungai. Wujudnya lonjong. Tapi, kata seorang itu batu akan berubah wujud – jadi bola atau bulat telur atau oval atau kapsul atau wujud tak nyata, saat disentuh orang tepat saat tepat. Warnanya berubah hijau atau ungu atau biru atau merah atau putih atau kristal atau pekat hitam, tergantung siapa menyentuh dan kapan menyentuh. Permukaannya jadi kilapan sinar dan kilauan cahaya, lembut dan licin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kata seorang itu lagi, batu itu kini ada pada seorang Mahaguru, pertapa sakti tanpa guru. Jarang orang dapat menemuinya. Katanya, batu itulah yang menentukan dengan siapa dia bertemu dan kapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Khasiat batu itu sungguh tak terbatas kecuali oleh kekuasan Tuhan yang menciptanya. Bilapun kau punya keinginan selangit bila mulia permintaan itu niscaya terkabul. Yah, tentu saja hanya manusia pilihan – batu itu – saja yang dapat menggunakannya, bahkan mahaguru yang pertapa sakti itu sekalipun tak pernah bisa menggunakannya – lagipula, katanya, dia sudah terbebas dari segala keinginan duniawi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Dan belum ada kabar lagi bahwa ada lagi orang yang menggunakan batu itu setelah cerita tentang seorang penguasa yang membebaskan daerahnya dari penyakit yang mewabah. Banyak orang mencari, pulang dengan kesiaan. Bilapun ada yang bersungguh selalu ada harapan untuknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh tak ada maksud bagi batu itu untuk melawan kehendak takdir. Dia sama sekali tak dapat merubah takdir seorang. Bilapun ada yang menggunakannya itupun karena dia – batu itu – adalah bagian dari takdir orang itu. Dan boleh <em>dibilang</em> dia batu ujian yang diturunkan Tuhan untuk menguji keimanan seorang demi seorang hambanya. Siapa percaya batu itu ajaib nyatalah sesat jalannya. Siapa yakin Tuhannya ada karena batu itu ada, lebih sesat lagi! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Batu itu obat untuk segala sakit, dari fisik sampai hati. Batu itu pemberi petunjuk untuk pilihan-pilihan sulit dan masalah pelik. Bukan karena keajaibannya tapi keajaiban yang tertumpah sebagai wahyu Tuhan untuknyalah yang membuat batu itu sungguh ajaib.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Banyak orang tak bisa membeda antara kekuatan alam dan kekuatan Tuhan. Kekuatan alam seperti halnya batu itu tak bisa berdiri sendiri dan muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba. Selalu ada kekuatan yang mengatur dan menguasainya secara mutlak. Sangat berbeda dengan kekuatan Tuhan yang mutlak adanya berdiri sendiri dan muncul tanpa permulaan dan tak berakhir. Bahkan kekuatan alam adalah manifestasi kekuatan-Nya di alam. Begitu pula dengan batu itu. Kekuatannya sama sekali tak ada. Yang ada adalah manifestasi kekuatan Tuhan lewat wahyu dan perintah-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Itulah wejangan Mahaguru saat ditemui seorang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Batu itu batu biasa, lanjut Mahaguru. Hati orang pilihanlah yang merubahnya jadi batu tak biasa. Dengan ketulusan dan kemurnian jiwa yang menyentuh langsung intinya, batu itu mulai menebar keajaibannya. Bacalah bahasanya dengan jiwamu niscaya kau mengerti. Batu itu dicipta untuk seluruh manusia tapi sedikit sekali manfaat yang telah didapat dari batu itu karena jiwa manusia yang semakin kotor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Dan tersiar kabar batu itu tak lagi ditangan Mahaguru. Kata seorang, batu itu kini bisa datang pada siapa yang mencarinya – tak perlu lagi mencari sang Mahaguru. Dia bisa muncul di mana dan kapan yang mana saja. Maka seharusnya berlomba manusia mancarinya, bukan untuk keajaibannya semata tapi untuk jalan hidupnya. Terangilah jiwa untuk jalan panjang menuju Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan aku mencarinya untuk istriku.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Anak Kecil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan dia telah merubah hidupku dengan senyum dan kepolosan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Ah, sungguh berani sekali mereka. Tak takutkah mereka akan mati? Dan sungguh cepat kuda mereka. Biar kuloncat terbang pohon ke pohon tetaplah mereka dapat mengejar. Tak kah kau lihat kuda putih mereka bergerak sekehendak penunggangnya. Sungguh elok mereka – para penunggang kuda. Jubah putih tebal selimuti tubuh mereka dari dingin embun hutan malam. Dan apa benda putih itu yang menutup kepala mereka? Tambahlah bagus penampilan mereka dengan tutup kepala. Sayang, cukuplah sekali hentakan untukku dan robohlah batang pohon menutup jalan. Bilalah mereka tak gesit tertimpahlah mereka. Ha&#8230;ha&#8230;ha&#8230;&#8230;&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tertawalah dengan keras. Dan jiwa semakin rapuh. Nafsu yang kuat menguasai diri. Kunang-kunang hanya mengamati. Dia tak mengerti segala luapan hati. Tapi lelaki buruk muka itu terus tertawa dan bicara. Sebentar kunang-kunang bercahaya sebentar gelap. Berusaha lepas dari genggaman tangan lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Ssstt&#8230;.tak kah kau dengar. Rasakanlah, angin bergerak tak sebiasa tadi. Ada tamu ingin  bertemu. Bisa kau lihat ke belakang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kunang-kunang terbang lepas dari tangan lelaki buruk muka melawan arah angin. Naik-turun dalam satu keteraturan gerak lurus. Ia lalu mendarat di rambut putih kakek jubah putih. Wajah terang Kakek jubah putih sungguh menarik bagi sang kunang-kunang. Wajahnya tenang cahaya bintang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Bukan kah malam ini cukup dingin bagimu Kek? Tulang tuamu bisa beku, mengeras dan  merapuh. Tapi, bagaimanapun terimalah penghormatanku atas kesedianmu menemaniku,  di sedingin malam ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tak usah sungkan anak muda. Cukup berhenti dari kelakuan berandalmu, aku lega dan  bisa nyenyak tidur malam ini. Sudahlah cukup. Bukankah sudah adil pemimpinmu.  Kurangkah bijaksana ia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kek, sejak muridmu jadi penguasa, dia telah menunjukkan betapa bijak dirinya. Tapi, tak  menjadi alasan bagiku untuk menghentikan semua yang telah aku lakukan. Tak berhenti  sampai wajah ini&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tak kah ada cara lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tidak!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Atau kau tak pernah mencari?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tidak! Sungguh pun aku tak membunuhnya, muka ini memang pantas untukku. Dan  biarkan aku terus melakukan hingga aku mati lelah. Kutukan ini tak kan pernah lepas.  Tak akan. Selama masih ada kejahatan di negeri ini, aku tak akan bisa terlepas dari  kutukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh pun kau tak membunuhnya kau layak menegakkan kebenaran, sungguh pun kau  tak dikutuknya. Tak bisakah kau cari cara lain. Pencuri, bagaimanapun tak bisa ku  maafkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Lalu apa hendak kau buat. Dengan umurmu, kau tak bisa menipu. Kau tak kan menang  sendiri melawanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Bukankah kini kau tak lagi bisa menggerakkan tubuhmu lalu bagaimana kau bisa  melawanku – kakek tua yang kau anggap lemah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki buruk muka membeku terpaku. Tak lagi ada gerak yang diperbuat. Kunang-kunang melintas melintang berkeliling memutar di tubuh murka lelaki buruk muka. Bahkan, untuk bicara bibirnya kaku. Sungguh tubuhnya sama sekali tak menurut kehendak tuannya. Segala kekuatan keluar melawan tak berdaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Keras kepala. Hentikan perlawananmu. Sungguh pun kau keluarkan seluruh tenagamu,  kau semakin terbelenggu. Menyerahlah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Suasana beku menyilimuti mereka berdua. Kunang-kunang diam dalam terang cahayanya. Kakek jubah putih diam dalam tenang cahayanya. Lelaki buruk muka diam dalam murkanya. Dan hutan terdiam dalam hening malamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tak berguna. Kau ingin mati, rasakanlah. Tapi, tak adakah lagi yang berarti bagimu. Tak  kah kau mencari cintamu kembali. Bilapun suci perempuan itu, dia sudah mati. Dalam  kerupawanannya kau menyimpan dendam untuk dirimu sendiri. Sungguh bodoh, bila  hidupmu untuk mencinta satu wanita yang kau bunuh dengan tanganmu sendiri. Wanita  yang mengutukmu menjadi seburuk ini. Dan kau tak bisa lepas dari kutukannya, bayang- bayang rasa bersalah yang mengutukimu selamanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki buruk muka geram tak terkira. Dua geraham saling bergesek pelan dan bergesar berlawan. Tubuhnya bergetar pelan, tangannya bergemeretak pelan, kepalanya menunduk pelan dan&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> DIAAAAAAAAAM!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dalam gerak sekejap kepalan tinju mendarat dimuka Kakek jubah putih dan terpental menabrak pohon tubuh lelaki rapuh dengan darah mengucur di ujung bibir memerah jubah putih dengan tawa dia mengejek lengah dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kau ingin membunuhku kakek tua yang tak berdaya ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Sekali lagi kau ucapkan sesuatu tentang dia kubunuh kau!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tak kau tahu, aku bahkan mencintai dia melebihi cintamu padanya! Dia cucuku! Cucu  tercantik yang tak tergantikan. Tidak kau tahu sungguh bangga diriku melihat betapa  cerdasnya dia. Dan sungguh, kenapa dia harus mengenalmu? Bilapun itu takdirmu –  untuk bertemu dengannya, tak bisa kah menahan diri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kek, biarlah aku tak pernah bertemu muka dengannya, biarlah aku tak pernah mendengar  cantik rupanya, biarlah aku tak pernah di negeri ini, tapi, aku pasti menemukannya. Dan  tak kan kulepaskan hingga aku memiliki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Hentikan semua ini, untuknya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku tak akan berhenti, untuknya! Bilapun kau halangi! Bilapun di hadapan seribu prajurit  kuda menghadang. Aku tak akan pernah berhenti sampai mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Bodoh! Dia tak akan menghendaki hal ini terjadi padamu. Bilakah kau mengerti?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku tak bisa berhenti, bilakah kau mengerti!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Lelaki bodoh. Walau aku bisa aku tak pernah tega, membunuhmu. Bilapun kau hidup,  kau akan mati. Bukan dengan tangan ini, masih ada ribuan tangan yang menginginkanmu  mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kakek jubah putih mengusap pelan darah yang mulai membeku di bibirnya lalu berbalik dan menjauh meninggalkan lelaki buruk muka dalam sendiri yang hanya terdiam sejurus kemudian memegang dadanya dan tertumpah darah dari mulut ke rumput hutan hijau yang memerah darah yang menerima lembut jatuh dirinya dalam terpejam mata dengan mengalir pelan darah dari mulut dan hidung dengan muka yang memucat dengan memuncak kesadaran hilang! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kunang-kunang melintas pelan di antara tubuh roboh lalu hinggap di ujung daun rumput tak mengamati gerak kecil si hijau berekor panjang yang dalam sekejap menjulur lidah mengikat erat tubuh kecilnya dan <em>kress</em> tubuhnya remuk dalam kunyahan seremuk hati lelaki buruk muka mengingat kesedihan penuh kepedihan. Bagaimana bisa dia membunuh orang paling dicinta?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Langit malam mulai bosan. Rembulan mulai memudarkan sinarnya untuk ditukar dengan cahaya fajar. Ayam jantan berkokok semangat menyambut berakhirnya malam dengan fajar hangat. Warna-warna kemilau mengawal datangnya bintang besar yang mendaki pelan agar kelihatan oleh sekalian penghuni alam dan teranglah alam dalam setiap kenaikan dakiannya. Sinar hangat mulai dipancarkannya melepas kebekuan belenggu malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kehangatan merayapi seluruh tubuh lelaki buruk muka. Membelai lembut pipi dengan ciuman mesra menggosok dada dengan tekanan lembut menggelitik kaki dengan sentuhan pelan dan jiwanya pun mulai memasuki alam sadarnya dengan mata membuka pelan perlahan sebagian lalu terpejam untuk kembali terbuka lebih lebar dan tangannya mulai digerakkan pelan ke arah kepala dan tubuh terlentang dengan tangan terbuka telentang saling berjauhan berlawanan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Menarik napas panjang menikmati udara segar pagi dan mengeluarkannya pelan dengan mata terpejam dan kulit penuh rasa menikmati kelembutan hangatnya sinar mentari pagi. Saat dia membuka matanya di hadapan buruk mukanya mengamati tenang, sungguh kaget bukan kepalang! Siapa dia?!! Yang bermuka seburuk aku dengan sama persis!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Oh&#8230;.kau sudah bangun. Semalam demammu tinggi sekali. Aku jadi khawatir, jangan- jangan kau akan mati. Syukurlah kau bisa melewati masa-masa kritismu. Kau berdarah  banyak sekali. Dan menurut analisaku, kau setidaknya telah terbaring disini selama  beberapa hari, setidaknya lima hari?! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Siapa kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kau tak mengenal anak tampan ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tampan? Mukamu&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Ups&#8230;..pantas! Aku lupa membuka topeng keren ini. Beli dimana? Atau buat sendiri. Aku  suka taringnya, benar-benar nyata taring harimau! Dan hidung babinya, berlubang terlalu  besar dan&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kenapa kau bisa melepaskan topeng itu dari mukaku?!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku cuma ingin mencobanya. Tak usah marah seperti itu. Lagi pula kau akan sama tampannya denganku saat kau melepas topengmu. Perlu cermin untuk membuktikannya? Dirimu pasti sungguh menderita sampai-sampai harus menyembunyikan wajah tampanmu. Siapa rupanya yang telah mencuri hatimu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa yang kau tahu anak kecil?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Penderitaan tiada akhir dari rasa kehilangan yang sangat atas orang yang dicinta tak  harus selamanya membuat kita menderita. Cinta memang luar biasa, dalam hal  membuat orang menderita. Tapi, cinta pun luar biasa dalam hal membuat orang bahagia.  Dan kau lah yang memilih keluarbiasaan cinta mana yang ingin kau rasakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Anak sekecilmu bicara tentang cinta?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aku seorang yang cerdas! Kau kumpulkan seribu orang cerdas senegeri belum tentu bisa  mengalahkan kecerdasanku. Dan cinta adalah kecerdasan unik dalam diriku. Tak kau tahu  wajah tampan ini adalah impian setiap gadis kecil. Tapi, cintaku hanya untuk seorang.  Dan seorang itu mati memakan sup jamur buatanku, sungguh tragis. Aku sangat sedih.  Dialah gadis pujaanku yang cantiknya sepadan dengan ketampananku. Aku mengurung  diri dalam kamarku selama beberapa hari. Tanpa makan dan minum. Semuanya berakhir  karena aku sangat lapar. Bagaimanapun aku hanya seorang anak kecil waktu itu. Dan  lagi, sebelumnya, Kakakku yang tercantik sedunia mengetuk pelan pintuku dan berbicara  lembut<em>: tak kah kau biarkan dirimu bahagia untuk cintamu?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jawabmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh aku menderita. Tak kah kau merasakannya kakak. Lalu dia berkata <em>penderitaan  memang bagian dari cinta. Tak ada cinta yang bisa lepas dari penderitaan. Dan  penderitaan seharusnya melepaskan dirimu dari belenggu perbudakan cinta.  Membebaskan dirimu dari cangkang telur yang melindungimu dari penyesalan. Tidak  kah kau bisa memandang penderitaan itu seperti sebuah telur. Janganlah kau anggap  telur itu mengurungmu di dalamnya tapi, bukankah ia melindungimu sampai akhirnya  kau cukup kuat untuk menjadi makhluk baru dengan kekuatan dan kesiapan.  Menaikkanmu ke derajat cinta yang semakin sejati. Tak kah kau mengerti?</em> Dengan  segala kecerdasan yang kumiliki aku mengerti. Yah, cinta memang bisa membuat kita  terkurung dalam kulit telur. Kitalah yang menentukan, keluar dari telur itu sebagai  makhluk baru atau membusuk karena terlalu lama berada didalamnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Telur? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kau kelihatan lapar saat mendengar kata itu – telur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tidak. Aku hanya mulai memahami sesuatu. Dan memang aku lapar. Sejak kemarin – ah  dia tak menyadari berapa lama dia tertidur! – aku belum makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Mau kubuatkan sup jamur?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Bagaimana kalau telur rebus?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kau tahu bagaimana cara masaknya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki yang tak lagi bermuruk muka tertawa pelan mendengar celoteh anak dan si anak tersenyum malu “ aku kan cuma bercanda!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Mencari Batu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan untuk istriku, batu itu mesti ajaib.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tahu kau, suamiku. Tentang batu yang kelewat ajaib?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Bila kau menginginkannya akan kutemukan untukmu. Walau&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tak usah. Kau tahu batu itu bisa menyembuhkan segala penyakit. Batu itu&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Bisa membuatmu melihat indahnya dunia ini dan kau tak lagi berada dalam kegelapan  pandanganmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kau pikir dunia akan lebih indah bila aku melihatnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Dalam pandanganku. Kau bisa melihat bagaimana bunga-bunga di taman bermekaran  kuncup tanaman keluar dari benihnya dan burung-burung itu membuat sarang di dahan  yang cukup tinggi. Kau bisa melihat langit biru dan matahari terbit dalam keindahan dan  tenggelam dalam keanggunan. Kau bisa melihat bintang berkedip bergantian dan melihat  bulan purnama yang terasa begitu dekat semakin kita memandang. Aku akan senang  menemanimu di saat-saat indah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tidak, suamiku. Kegelapanku hanya menurut pandanganmu saja. Aku bahkan melihat  semua hal yang kau katakan tadi dengan lebih indah. Dengan cita rasa lebih dalam. Aku  bisa merasakan setiap gerakan lembut bunga mekar yang keluar dari kuncupnya dan  kelegaannya keluar bebas menunjukan indahnya. Dan sungguh saat aku memandang  langit bukan hanya kebiruannya tapi juga kemahaluasannya yang kulihat. Membentang,  membebaskan kita dari himpitan ruang. Bilapun aku tak melihat indahnya matahari terbit  tapi aku bisa merasakan betapa lembut sinarnya hangat membelai. Pada setiap pergeseran  pelan kemunculannya, dia seolah memberi kabar semua makhluk untuk bekerja lebih  keras penuh semangat. Dan pada tenggelamnya di Barat, dia seolah ingin mengobati  kelelahan semua yang telah bekerja keras seharian dengan keindahan caranya tenggelam:  menyisakan bola merah-jingga dan mewarnai langit barat dengan warna tenggelamnya –  merah-jingga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tidak kah kau ingin melihatnya dengan matamu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Haruskah? Sedang – melihat – dengan mata kita sering tertipu. Kita sering melihat benda  – dengan mata – bukan pada hakekat sebenarnya hanya pada tampaknya ia pada  penglihatan kita. Seperti saat kita melihat daun hijau yang kemudian menguning  mencoklat dan berguguran. Maka dikatakan daun hijau adalah daun pohon yang masih  muda sedangkan yang telah berubah coklat telah semakin menua dan akhirnya jatuh  karena pangkal daunnya –yang tua – tak lagi mampu menahan terpaan angin. Dan setelah  itu kita berhenti disini. Tidak kah kita melihat ada sesuatu yang telah menyebabkan daun  itu jatuh? Pohonkah? Atau daun yang lelah bergantung pada dahannya? Atau anginkah?  Ataukah Yang memperjalankan waktu sehingga daun itu sampai pada keadaan tuanya?  Ataukah Yang memerintahkan angin untuk bergerak dari diam asalnya? Tidakkah mata  kita memikirkannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku akan tetap mencari batu itu untukmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apakah itu menyenangkanmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Suami mengangguk dan dengan penuh semangat merenggut tangan istrinya ke dalam gengamannya lalu mencumbunya mesra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kau melihat indahnya dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Pergilah dan temukanlah sepanjang siangmu dan kembalilah beberapa saat setelah  matahari tenggelam. Kau tahu aku akan sangat merindukanmu saat pergi, maka berhati- hatilah. Aku akan selalu berdoa untuk keselamatanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sebuah kecupan hangat dikening Istri menjadi tanda perpisahan yang begitu berarti untuk kepergian Suami sepanjang hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kuda dikeluarkan dari kandang dan dengan cepat bergegas melesat. Mencari batu yang entah dimana dan kemana? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Bukanlah di gunung hutan atau sungai kau akan menemukan batu itu tapi di hatimu lah kau akan menemukannya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Bisik seorang bijak padanya di suatu mimpi sama di sekian kali tidurnya. Benarlah kata seorang bijak itu. Telahlah ia daki tiap gunung tinggi di segala penjuru mengarungi semua sungai dan menyisir tiap jengkal hutan dengan hasil nihil. Temukan batu di hati?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Dia lelah selalu pulang dengan tangan hampa. Dia lelah dengan segala pencarian sia-sia. Segala kelelahannya tertumpah pada sorot lesunya memandang sedih ke arah tenggelamnya mentari. Di padang rumput dia berhenti mencari hanya berdiri menentang angin yang menerpa kencang. Lalu berteriak kencang keluarkan semua kemuakan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aaaaaa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.aaaaaaaH!!! Setelah puas dia mulai mengatur napas terengah-engah akibat teriakan kerasnya. Lalu berlutut lemah dan mulai meneteskan air mata kekesalan kesedihan kemarahan dan ketidakberdayaannya. Isakannya sungguh telah menggetarkan rumput-rumput disekitar. Dan bermulalah goyangan harmoni rumput-rumput itu. Bergoyang dengan teratur dalam suatu gerakan indah. Membentuk suatu formasi indah dalam bentuk yang teratur. Rumput-rumput itu seolah bicara. Dan dengan tanya tak mengerti dia mulai mengikuti setiap gerakan rumput-rumput dengan pandangan waspada. Dan dengan memejam mata dia melihat rumput-rumput itu bicara ramai dan tak teratur. Napas panjang ditariknya dan dalam setiap hembusan dia semakin mengerti bahasa rumput yang bernyanyi itu. Dia lalu tenggelam dalam penghayatan nyanyian rumput terlelap dalam kesadaran tertinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Senyum mengembang dari seorang isteri karena tak sabar menunggu suaminya menikmati hidangan istimewa darinya. Telah ia maklum bahwa suaminya mulai lelah mencari dan malam inilah saatnya dia berhenti walaupun dengan tangan hampa, itulah perjanjian diantara mereka berdua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Seorang Bapak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan sungguh dia Bapak bijak untukku dan lalu istriku.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Di mana rumahmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Di puncak bukit sana! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jauhkah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jika bergegas, sebelum siang kita akan sampai. Eh, kau ternyata lebih tampan setelah  mandi, seperti aku. Berapa tahun kau tak mandi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aku masih belum mengerti. Anak sekecilmu di hutan semalaman. Apa yang kau lakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aku sudah biasa keluar masuk hutan di malam hari. Mencari obat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tak takut ada orang jahat mencelakaimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Siapa tega membunuh anak setampan ini? Lagi pula tak akan mudah orang biasa  membunuhku. Selain tampan dan cerdas, aku cepat dan kuat. Ayahku seorang tabib yang  <em>jago</em> silat. Dia mengajari semua ilmu yang dimilikinya padaku. Baru sedikit sih, tapi&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kamu cerdas&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tepat! Kau cerdas juga. Ayo bergegas. Naiklah ke kuda. Sebentar&#8230;sebentar, aku duluan.  Aku mau duduk di depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kuda berlari kencang lewati jalanan hutan. Angin kencang menerpa wajah kuda membawa bulu lebat kepalanya berlarian searah terpanya. Hentakan-hentakan kuat pada tali kekang membuatnya berlari semakin kencang. Anak tampan memegang kuat tali kekang pada simpul dalamnya sedang lelaki memegang simpul lebih luar. Mereka mengayun tali kekang bersama seirama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sementara, dengarlah irama hati sang lelaki. Begitu teratur dan tenang. Seperti biasa memang tetapi lebih pelan dan lembut. Seakan dirinya terbebas. Ada kelegaan mendalam saat topeng itu terlepas dari wajahnya. Seolah dia tak lagi mengingat segala kutukan. Tidur panjang mimpi mengerikan berakhir mengharu dalam kesadaran hangat mentari dan pertemuan unik dengan bocah mimpi pelepas topeng ngeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tidaklah dia melupa gadis dicinta dan kutuk nyatanya tetapi hatinya telah begitu tertarik dengan kata anak tampan tentang cinta dan derita juga ucapan sang Kakak diujung cerita sungguh tak menyangka ia akan begitu mudah terbuka hati dengan cerita sederhana yang keluar dari bocah muda dan kini alam begitu terbuka untuknya menyambut dengan kedua tangan melebar hendak merangkul dirinya sebagai bagian hilang dari susunan semesta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki irama angin sepoi yang kuda memelan dalam geraknya menaik bukit pelan dalam telapak bertapal kaki kuda berusaha seimbang depan-belakang sementara penunggang berdua saling memegang tali kekang kencang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dalam jauh jarak terlihat pondok sederhana dari kumpulan kayu kuat pilihan megah  memecah ladang sekitar penuh subur hijau daun jagung kedelai dan huma padi juga buncis dan bawang dalam susunan tanam teratur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki berumur menyambut dengan tenang menghampiri si lelaki yang telah turun dan menurunkan anak dari kuda yang tepat berhenti di depan pintu rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Selamat datang di rumah sederhanaku anakku. Sungguh lelah perjalananmu. Masuklah  dan istirahatlah setelah mencicipi jamuan sederhana dariku sebagai penghormatanku  untukmu, tamuku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki diam terpana menerima keramahtamahan tuan rumah yang tak disangka lalu masuk ke dalam dan mencicip hidangan yang tersedia rapi di meja seolah telah siap untuknya yang tak pernah <em>bilang</em> akan datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Biar kutemani sebentar karena aku harus menyelesaikan urusanku dengan Anak nakalku  ini. Setelah itu anggaplah rumahmu sendiri. Kamarmu di belakang sebelum dapur bila  kau sudah sangat lelah dan hendak tidur saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki hanya mengangguk pelan dan menikmati hidangan lezat yang pertama kali tercicipi lidahnya, <em>ah siapa yang memasak semua ini? Sungguhlah dia sangat pandai memasak. Nanti mungkin akan kutanya pula pada Bapak Anak tampan, agar ia mengajariku memasak seenak ini.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sang Bapak masuk ke ruang obat memeriksa hasil kerja si Anak Tampan sebagai hukuman karena membunuh kucing kesayangan putrinya – yang si Kakak Anak Tampan – dengan ramuan aneh yang disangkanya akan membuat kucing sembuh dari sakit demam akibat makan tikus percobaannya. Dengan teliti dia memeriksa setiap bagian dari sekantung obat yang dibawa si Anak Tampan yang mengharap cemas: tak ada yang tertinggal atau terlewat tak dapat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki merasa lelah dan hendak tidur saja karena berkuda telah menguras sisa kepulihan tenaganya setelah tak sadar selama lima hari (?) dalam dekapan hutan. Maka melangkah kakinya ke arah dapur hendak masuk kamar yang telah tersedia untuknya yang entah bagaimana Bapak Anak Tampan bisa tahu dia datang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Anak Tampan lega tak kurang sedikitpun obat yang diminta Bapaknya. Bapak tersenyum lebar puas atas kerja anaknya lalu menyuruhnya bermain di halaman depan atau melanjutkan percobaan anehnya di halaman belakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki yang sudah mulai membuka pintu kamarnya berhenti mencium sesuatu yang gosong, terbakar keterlaluan. Dia bergegas ke dapur mencari sumber bau dan menemukan di atas sebuah tungku serbuk hitam gosong dalam kuali tembaga yang ia angkat dengan tangan menahan panas dan meletakannya di samping tungku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lalu ia bergegas mencari seorang <em>teledor</em> yang membiarkan masakannya gosong tak karuan dengan langkah kaki sedikit dipercepat karena rasa kesal akan kegagalan kemungkinan mencoba satu lagi masakan lezat dari sang maestro masak. Dia melabrak setiap pintu yang bisa dilewati seolah rumah ini miliknya dan telah ada orang bodoh yang telah membiarkan masakan lezat gosong di rumahnya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ah, masakan lezat tadi rupanya sudah mengikat hatinya dalam kecintaan yang mendalam dan membuatnya mabuk kepalang. Tak lagi ia sadar apa hendak diperbuatnya telah buta matanya oleh harum aroma masakan yang baru saja menyesaki dadanya selama makannya. Dia terus menabrak setiap pintu dan berputar terus dalam putaran yang semakin kencang antara dapur ruang makan tamu yang sengaja dibuat berada dalam satu ruang putaran dengan pintu yang saling terhubung satu sama lain. Dia lelah dan berhenti karena terus memilih pintu yang sama yang membuatnya berputar dan akhirnya dia sadar. Maka dipilihnya satu pintu lain di ruang makan. Saat membukanya, di hadapannya terbentang lorong panjang dengan pintu di kanan-kirinya yang diakhiri oleh sebuah pintu di ujung lorong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Bapak meramu obat untuk memulihkan kesehatan sang tamu di dapur raciknya. Mencampur secara teliti bagian-bagian obat yang diperlukan dengan komposisi tepat. Menakar penuh perhitungan setiap bagian yang diperlukan. Lalu merebus beberapa campuran dan menumbuk halus bagian lainnya. Semuanya dikerjakan dengan hati-hati sepenuh hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Saat dia membuka pintu pertama di kiri lorong tahulah ia bahwa ruangan-ruangan dalam lorong ini adalah tempat penyimpanan ramuan-ramuan obat. Setiap ruangan menyimpan ramuan yang berbeda. Semuanya tersusun dalam lemari rapi. Di setiap pintu tertulis jenis ramuan yang berada di balik ruangan. Rasa kagum membuat lelaki terus melangkahkan kakinya sampai ujung lorong dan di pintu terakhir di ujung lorong dia berhenti terpaku melihat keindahan sederhananya pintu jati itu kokoh berdiri tanpa rautan ukiran seperti pintu-pintu lainnya di lorong ini. Betapa tampak kuat dan megah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Bapak pergi menuju dapur hendak mengambil ramuan terakhirnya yang sengaja di masak gosong dalam kuali tembaga dan dia menemukannya telah gosong tak sempurna disamping tungku tanahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jangan masuk!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Terdengar suara dari ruangan ketika lelaki hendak membuka pintu jati diujung lorong dengan merdu dan lembut wanita yang menyentaknya tiba-tiba dan membuatnya mengurungkan niat sementara untuk kemudian terus mendorong pintu karena hasrat ingin bertemu dengan pemilik suara yang telah menghipnotisnya dengan kemauan tak tertolak: melihat wajah pemilik simfoni merdu ini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Terlambat! Begitulah penyesalan sang Bapak ketika meyaksikan pintu kamar anak perempuannya terbuka sementara lelaki tak mampu berkata menyaksikan kembali orang yang telah mati dalam diri seorang wanita dihadapannya. Ia telah menemukan kembali cinta bersemi dalam hati dalam wajah lembut gadis dihadapannya. Tatapannya terus tak terhenti memandang cahaya yang terpancar dari sorot mukanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tuan, apakah kau akan membiarkan aku terus memandangnya sementara dia hanya diam.  Hadanglah pandanganku ini karena aku tak sanggup menahannya. Dan sungguh setelah  ini aku akan menderita karena rindu akan menghiasiku dengan mimpi-mimpi palsu  tentang diriku dengan dirinya. Tuan aku telah mematikan semua rasa cinta bersama  matinya wanita paling kucinta. Dan kini dia telah mengobarkannya kembali dalam  sekejap. Jika tak kau hentikan segera aku akan menjadi gila karena merasa mengkhianati  cintaku padanya – wanita yang telah mengutukku karena cintaku padanya. Merasa seolah  terbebas dari kutukannya. Atau dia telah menyiapkan kutukan baru untuk kujalani dengan  membebaskan aku dari kutukan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dan gadis itu mulai menangis, malu. Bagaimana bisa seorang lelaki asing melihatnya tanpa penghalang. Lalu perlahan dia menutup kelambu ranjangnya. Dan isak tangisnya semakin keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jauhkan dia dariku ayah. Sungguh aku tak dapat menduga dia akan membuka pintunya  setelah kularang dan aku telah lalai dari menutup kepalaku ketika menyadari dia telah  berada dalam kamar ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kau sungguh tak sopan tamuku. Masuk ke kamar anakku tanpa izin. Walaupun kau  seorang raja – karena telah menjadi tamuku, di sini, aku adalah aturan. Dan tak seorang  pun di rumah ini yang bisa lepas dari hukumanku. Tak juga kau!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Hukumlah aku atas kelancangan ini. Atas naluri liarku yang memaksaku masuk ke  kamar ini. Tapi, dengarlah pendapatku tentang anak gadismu. Sungguh dia adalah wanita  yang memesona. Bila harus aku jadi budakmu maka akupun rela asal bisa terus bersama  dengannya. Tapi, tidaklah aku bisa mencintai seorang wanita dengan kutukan yang masih  mengotori diri ini. Sungguh aku adalah pemuda terkuat di negeri ini. Tapi, aku hanya  seorang lelaki lemah yang tak bisa melawan kutukanku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jadilah budakku selama delapan tahun dan setelahnya kau bisa mencukupkannya menjadi  sepuluh tahun sebagai kesempurnaan rasa penyesalanmu. Dan setelahnya kau kuizinkan  menikahi anakku atau sesuai keinginannya bila ia menolakmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Dia menolakku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh bilapun buta matanya tak pernah ada lelaki yang membuatnya tertarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa pula aku baginya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tunggulah setelah delapan tahun. Atau sampai anakku memutuskan sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sebuah cerita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan setiap cerita selalu punya makna.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dan setelah selesai menyantap makan malamnya dia hanya ingin berdua dengan istrinya. Maka keluarlah Bapak dan anak lelakinya dari ruang makan dengan bayi mungil yang tenang karena kenyang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Semuanya sudah selesai. Aku tahu kau tak menemukannya bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku sudah lelah mencarinya. Aku kira aku akan menyerah saja dan tak lagi mencari.  Siang tadi, aku hanya diam duduk seharian di padang rumput hutan belakang. Dan&#8230;&#8230;&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia mulai mengeluarkan air matanya dan masih tetap berusaha untuk tidak menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Sudahlah. Apa kau pikir aku bisa melihat adalah sesuatu yang sangat kuharapkan? Tidak,  cukup kau di sisiku itu sudah cukup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku menemukannya! Di sini, di hatiku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia menuntun tangan istrinya menyentuh dadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Rasakanlah. Kau akan melihat indahnya dunia. Dan kita bisa pergi bersama menatap  purnama. Melihat bunga-bunga bermekaran. Menatap indah matahari tenggelam. Berdua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Istrinya tersenyum, bahagia karena suaminya bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Apa itu menyenangkanmu? Lakukanlah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tataplah aku. Pejamkan matamu lalu bukalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia membelai lembut pipi istrinya dengan kedua tangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Apa yang kau lihat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Istrinya membuka matanya pelan. Dan setitik lalu kumpulan sinar menyerbu ke arah matanya sedikit menyilaukan dan dengan tak percaya dia menatap wajah lelaki di hadapannya, tersenyum puas. Lalu menyentuhkan tangannya ke muka lelaki dengan belaian lembut dan lelaki merebut tangan itu dari mukanya lalu mengecup lembut. Lalu berpelukanlah mereka, bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Istrinya memutar pandangan ke seluruh ruangan sedang dia menyiapkan sebuah kursi untuk duduk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Duduklah biar kuambilkan teh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia lalu berlalu ke dapur dan&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sang Istri berlari ke dapur setelah mendengar bunyi gelas pecah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku menjatuhkannya? Yah, aku tak sengaja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kau tak apa-apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Tidak. Aku baik-baik saja. Kau saja yang bawa tehnya. Ayo kita kembali ke ruang  makan. Pasti menyenangkan. Kau bisa menceritakan apa saja yang kau lihat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Suamiku, kau akan menabrak tembok bila berjalan ke arah itu. Pintunya sebelah sini. Kau  bercanda yah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Yah&#8230;aku bercanda. Aku&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Istrinya memandang heran. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan darinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Suamiku, lihat aku. Tidak sebelah sini, kenapa membelakangiku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia berputar dan membelakangi istrinya. Istrinya mulai menangis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Jangan menangis istriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia hanya meraba tembok dan akhirnya menyadari dirinya salah arah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Istrinya mengibaskan tangannya di depannya. Dan matanya sama sekali tak merespon gerak tangan istri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Hari itu, istrinya menangis untuknya seharian. Setelah itu kehidupan akan berjalan terbalik di antara keduanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Cerita lalu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan setiap kenangan adalah masa lalu, masa yang dikenang dengan sayang.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan dalam setiap mimpi dia selalu mengganggu. Akankah aku sang dewa pencuri ini telah kecurian, sebuah hati. Biarlah apa kuberi biarlah apa kucuri biarlah apa hendak diminta segera akan kuberi. Tapi, dia hendak mencuri hati. Satu-satunya yang membuatku tetap merasa manusia.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Siapakah dia? Begitu manis tuturnya dan senyum tulus mengembang begitu rupa menawarkan bunga bermekaran di jiwa. Lelaki tampan. Tetapi, apalah arti lelaki. Mereka selalu tertipu oleh rayuan rupa. Sekali mereka bermuka manis pada satu wanita lain kali bila ditemukannya manis rupa lain mulailah dia berubah sikap, memuja dan mengagungkan rupa jelita yang paling jelita dalam pandangan lelaki. Sedang mereka tak pernah puas pada satu rupa jelita. Inginlah mereka memiliki semuanya. Akankah dia sama seperti lelaki lainnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kenapa dia mencuri? Karena mencuri itu seni, katanya. Mencuri bukan sekedar memindahkan barang dari satu tangan ke tangan yang lain. Mencuri adalah kemampuan tipu daya dan siasat akal. Kemampuan memperhitungkan waktu dan meramal rentetan setiap kejadian. Mencuri adalah sebuah seni kompleks. Di dalamnya terdapat berbagai kemampuan yang harus dilatih, dari keterampilan tangan, mata, hingga ketajaman insting. Ketangkasan dan kecepatan bergerak adalah syarat perlu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Siang hari dia adalah pemuda elok dengan perangai malaikat suci. Siapapun hendak di tolong menurut kesanggupannya. Tapi, saat malam, dia adalah seorang dewa dalam hal mencuri. Tak ada harta dan benda yang tak bisa dicurinya. Mencuri surat rahasia sampai permata, pernah dilakukannya. Namun, tak seorang pun tahu siapa dia. Dia bagai seorang <em>phantom</em>. Tak terlihat dalam setiap geraknya tapi nyata kejahatannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kapan dia hendak berhenti mencuri? Saat dia tak lagi bisa menikmatinya. Saat dia menemukan hal yang lebih menarik hatinya. Dan apakah ada hal yang lebih menarik dari gadis muda yang ditemuinya di sisi danau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Tak lagi ada hal yang begitu menyenangkan dilakukan di sore hari selain menatap indah mentari penutup hari di tepi danau Jauhari. Jingga sinar terbias di ujung tepi danau, membentuk bayangan matahari tenggelam dalam goyangan pelan gelombang air. Sesekali terpecah oleh riak air loncatan ikan danau. Sesekali bergerak cepat oleh arus angin yang menerpa permukaan air danau. Sesekali berada dalam ketenangan diam danau.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan sesekali kulihat gadis itu diam duduk sendiri memandang ke arah tenggelam mentari.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tak ada lagi hal yang begitu menyenangkan dilakukan di sore hari selain menatap indah mentari penutup hari di tepi danau Jauhari. Lembayung jingga berkibaran di ujung dalam bayangan di cermin air danau. Sesekali begitu jingga. Sesekali begitu merah. Sesekali merah jingga. Sesekali merah muda. Sesekali begitu gelap dan hitam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dan sesekali kulihat lelaki itu diam duduk sendiri memandang ke arah tenggelam mentari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Hari ini dia terlihat begitu tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Hari ini dia terlihat begitu cantik.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia mendekatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Aku akan mendekatinya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia menyapaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Seperti halnya kamu, aku begitu menyukai saat-saat seperti ini, disini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku hanya diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dia seolah tak memperdulikan apa yang kukatakan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku tak bisa menjawabnya. Hatiku sungguh berdebar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Saat matahari tenggelam dalam ketenangan senja. Saat kita dengan begitu tenang  membiarkan ia secara perlahan menghilang di ujung barat. Saat terakhir kita bisa melihat  cahayanya yang menjingga begitu indah. Saat&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kita bisa mengharapkan besok ia akan tenggelam dengan lebih indah. Mengucapkan kata  perpisahan yang berbeda dari hari ke hari yang membuat kita selalu datang ke sini  mendengarkan nyanyian merdu melodi jingganya. Dan rasa rindu akan membuat kita tak  sabar menunggu senja esok di sini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Akhirnya dia menyahut dan hatiku telah tertaut dalam pelukan katanya begitu lembut.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia telah memaksa aku bicara. Dan dengan begitu mudah aku terperdaya oleh ucapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan dalam setiap pancaran sinarnya dia telah menyisakan kehangatan dalam hatiku. Akankah dia datang sore ini? Menambah kehangatan hati ini? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Dalam sebuah malam aku telah menyelinap masuk kedalam rumahnya dan meletakan surat tepat di depan cermin kamarnya. Surat indah kata jingga mentari pada langit senja. Surat undang dalam kata nyanyian gurun pada derasnya hujan. Berharap ia membaca dan datang cepat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ada seseorang menyelinap kata Ayah. Tak ada barang yang hilang kata penjaga. Ada surat tepat di depan cerminku. Tentang perasaan seorang lelaki pada gadis dipuja. Tentang harapan untuk datang disenja di tepi danau matahari jingga. Berharap aku datang dan tiba cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Seorang lelaki tua berjalan cepat ke arahku. Dengan gerak cepat dia telah berada di muka.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Pencuri. Kau sama sekali tak pantas untuk cucuku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Cucumulah yang pencuri. Dia telah mencuri hatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Jauhkan tanganmu darinya. Biarkan dia tetap menjadi dirinya. Jangan kau sentuh dia  dengan tangan kotormu. Menjauhlah. Kecuali kau hendak berhenti mencuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Maulah aku berhenti. Apalah arti mencuri dibanding perasaan menggebu untuk segera  milikinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Sayangnya tak ada pencuri yang bisa dipercaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kau boleh membunuhku bila aku ingkar janji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Ikut aku. Bila kau benar-benar hendak berbohong tentu matimu adalah hal mudah  bagiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki itu datang ke rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aku hendak melamar anak gadis Tuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa kerjamu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki itu diam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Apa harus jujur, katakan aku pencuri? Bukankah dia akan membunuhku bila berbohong? Ah, tak takutlah aku mati. Tapi, apakah dia mau menerima seorang pencuri sebagai menantu? Ataukah gadis itu akan menerima pencuri dalam hatinya? Bukankah aku akan berhenti!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aku seorang pencuri yang hendak berhenti. Aku&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa?! Berani sekali seorang pencuri hendak menikahi anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tidak. Aku tak akan lagi mencuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Pergi kau! Pencuri mana yang bisa dipercaya?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dengan kasar ayah gadis mengusir si lelaki. Dengan kasar ia menghempaskan tubuh lelaki ke tanah depan rumah. Lelaki terhempas pasrah tapi tak menyerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia seorang pencuri? Bagaimana bisa? Sungguh baik tutur kata dan perangainya. Lalu, bagaimana mungkin dia adalah seorang pencuri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tak kah kau memberinya kesempatan anakku. Sungguh di matanya ada kesungguhan  untuk berhenti. Kenapa kita tak memberi dia sedikit jalan menuju kebaikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Ayah, seorang pencuri selamanya akan tetap mencuri. Jika kita memberinya kesempatan,  habislah harta kita karenanya. Lagi pula, apa kata orang nanti tentang derajat kita,  menerima pencuri sebagai menantu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Siang hari dia malaikat suci tapi saat malam dia bisa sejahat-jahatnya manusia. Keseimbangan akalnya terganggu saat malam menjelang, seperti kerasukan, dia menjelma pencuri jahat tak berperasaan. Dan pikiran jahatnya telah menyiapkan dia sebuah rencana:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ada ketukan pada jendela. Aku mendekat memeriksa. Dengan perlahan membuka jendela dan hanya ada gelap malam. Tiba-tiba ada tangan yang menyergap dan  menarikku keluar lewat jendela. Dia menutup mulutku agar tak teriak dan mengikat tangan dan kakiku dalam satu gerak cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Anakku diculik! Kerahkan semua orang untuk menemukannya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kenapa? Kenapa kau lakukan ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Aku cinta kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tak adakah cara lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Untuk memilikimu? Ayahmu tak akan suka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Dia bisa membunuhmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Akulah yang akan membunuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kau tak akan kumaafkan bila membunuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tuan, kami menemukan tempat persembunyiannya. Tempat dia menyembunyikan putri  Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kepung mereka!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa yang hendak mereka lakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Meyerahlah, kau tak akan sanggup menghadapi mereka semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Bahkan orang sebanyak ini tak sanggup menangkapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tak perlu ragu akan kepandaiannya bertarung, anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kembalikan anakku!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Setelah dia jadi istriku, bagaimana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kau mau mati? Ku beri!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Dia bodoh sekali. Bagaimana dia bisa mati hanya dengan satu pukulan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Kau membunuhnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Dia harusnya lebih kuat. Dalam perkiraanku&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Aku tak akan pernah memaafkanmu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> Bagaimana bisa kau bunuh anakku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Bukankah hal ini menyenangkanmu? Kau tak lagi harus lelah hati karena buruk  perangainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tetap saja dia anakku. Dan kau pun harus mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dalam satu pukulan kuat yang mematikan dan tak terelakan lelaki tua terkunci mati. Ajalnya hanya soal menunggu waktu. Dia benar-benar telah lengah. Tiba-tiba sang gadis menghalangi cepat dan&#8230;&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Kek, berjanjilah jangan bunuh dia. Biarkan dia menjalani kutukanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Gadis bodoh, kenapa tak kau biarkan kakekmu ini mati saja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa yang kau lakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki sombong, dengarlah apa yang kukatakan. Kau tak akan pernah berhenti mencuri.  Wajah tampanmu sungguh buruk sekali oleh perangaimu. Dan tahukah kau,  bagaimanapun aku tetap tak bisa berbohong, aku sungguh mencintaimu, bahkan kalau  pun kau seorang pencuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Apa yang kulakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Lelaki bodoh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tak akan lagi ada wanita dalam hidupku! Aku berjanji&#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230;&#8230;..aku  berjanji&#8230;&#8230; &#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230; &#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230; &#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230; &#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230;  &#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230; &#8230;..aku berjanji&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;"> <em>Mukanya buruk dan seram dengan gigi taringnya mencuat di ujung bibir dengan pipi melekuk ke dalam menampak rahang kuat dengan hidung besar dan lubang mendatar – mirip hidung babi – dengan mata besar tanpa kelopak dengan telinga meruncing di ujung atas menjuntai di ujung bawah dan melebar di tepi dengan dahi penuh kerutan tak karuan dengan alis semrawut dengan jenggot menjuntai terurai dan lebat layak ijuk di sapu ijuk dengan seluruh bulu di wajah dengan seluruh rambut di kepala yang terlepas melewati pundak dan menutup punggung bahu: kumal-hitam-kotor. Bila kau menatapnya, matamu seolah tersirap dan menelan seluruh wajahnya dalam ingatanmu dan selama tujuh malam tidurmu dihantui buruknya mimpimu dan kujamin kau akan lebih sering terjaga karena takutnya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;">Bahkan kalaupun seram mukanya dan keras wataknya tak diragukan lagi, dia orang baik, setidaknya menurutku. Hari itu aku sungguh mengalami kerugian dalam perniagaan di kota. Aku pulang dengan perasaan penuh kecewa dan di satu jalan antara Kota dan Kampung dia datang. Ingin rasanya aku berlari dan tinggalkan semua barang dagangku. Tapi, &#8230;&#8230;.sungguh tampak dari wajahmu suatu kerugian. Jangan murung! Apapun yang kau bawa, berikanlah semua pada keluargamu dan ini tambahan untukmu&#8230;&#8230;.. dia melemparkan sekantung keping emas ke arahku. Aku hanya diam mematung: tak mengerti. Siapa dia? Yang sebenar-benarnya makhluk jahat berbuat kebaikan seperti ini padaku. Dan di kampung-kampung yang kulewati, telahlah orang-orang mengenalnya. Dia datang dan pergi begitu saja dengan harta melimpah ditinggalnya. Sungguh dia dewa kami. Biarpun buruk mukanya dan keras perangainya, dia Dewa kami.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;">Dan tak seorangpun yang mau bertemu dengannya dapat menemukan dan tak seorangpun yang dapat menolak kehadirannya saat ia datang. Dan di bumi mana dia tak dikenal?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:324pt;text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:324pt;text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:324pt;text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;">Aksara,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;">27 September 2006 – 4 Ramadhan 1427 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;">Re-edited 29 Januari 2007 – 09 Muharam 1428</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;">Last-edited 26 Maret 2007 – 07 Rabiul Awal 1428</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:324pt;text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:324pt;text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:324pt;text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:270pt;text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10.5pt;">Ullz Opfse Qavse</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=33&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/lelaki-akar-dan-batu-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khatir</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/khatir/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/khatir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2007 13:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/khatir/</guid>
		<description><![CDATA[Khathir*
 
Kakek tua buta berjalan pelan dituntun seorang anak kecil yang membuka telapak tangannya menengadah ke atas. Kakek tua  berjalan kemana anak kecil  mengarah. Gemirincing receh kadang berbunyian jatuh dari tangan  anak kecil. 
 “Apa itu, Cu ? ”
“ Uangku jatuh Kek!”
“ Oh&#8230;..”
Mereka terus berjalan sampai lelah datang. Mereka berhenti jika lelah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=32&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Khathir*</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Kakek tua<span> </span>buta berjalan pelan<span> </span>dituntun seorang anak kecil yang membuka telapak tangannya menengadah ke atas. Kakek tua <span> </span>berjalan kemana anak kecil <span> </span>mengarah. <em>Gemirincing</em> receh kadang <em>berbunyian</em> jatuh dari tangan <span> </span>anak kecil.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Apa itu, Cu ? ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“ Uangku jatuh Kek!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“ Oh&#8230;..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Mereka terus berjalan sampai lelah datang. Mereka berhenti jika lelah, dimanapun itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di bawah pohon tinggi dengan daun melindungi. Kadang dengan kicauan burung dan nyanyian angin semilir menghapus keringat. <span> </span>Kadang dengan seteguk air segarkan tenggorokan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di bawah bangunan kosong dengan kursi reot yang mengeluarkan bunyi-bunyi aneh khas. Dengan bunyi tikus yang ber-<em>cit-cit</em>. Dengan kicau burung gereja jantan berebut pasangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span id="more-32"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Kadang jika tak beruntung, duduk di pingir jalan. Dan uang receh berlayangan ke wadah kecil anak kecil<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Cu, berikan uang ini pada pengemis di samping kita!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Baik, Kek!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kita beruntung Cu, masih bisa jalan tanpa kelaparan. Pandanglah mereka dekat. Kasihanilah para fakir. Hak mereka pada harta kita berikanlah. Tunaikanlah kebaikanmu, dimanapun kau bertemu. Kita menjaga, maka kita dijaga. Kita menolong, maka karunia, kemudahan mengalun disetiap keadaan. Diri kita bukan milik kita. Tunaikan haknya. Mengerti, Cu?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sedikit, Kek.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Kakek tersenyum. Sinar kebanggaan terang dimatanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di tempat lain, seorang muda dengan mobil mewahnya telah sampai di kantor. Gedung mewah dengan fasilitas <em>wah</em>. Resepsionis gadis dengan wajah <em>modis</em>. Satpam tampan gagah perkasa. <span> </span><em>Cleaning service</em> telaten dan tekun bekerja. Pesuruh patuh dan rajin disuruh. Ditambah sekretaris seksi pengundang birahi yang sarjana dan bisa dijadikan pasangan simpanan. Gedung ini berlantai sepuluh yang dilengkapi fasilitas <em>lift</em> yang siap mengangkut muatannya dengan waktu cepat. Keefisienan dijaga di kantor ini. Semua datang tempat waktu. Dan memang harus begitu. Aturan ditaati kecuali oleh petinggi. Memang<span> </span>ada satu-dua petinggi yang taat dan bukan Lelaki –yang seorang muda – ini, <em>General Manager</em><span> </span>pemasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Ini kopinya, Tuan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Siapa yang pesan kopi!! Aku minta susu!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tapi, Tuan tadi&#8230;.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kamu ini cuma pesuruh! <em>Rewel</em> amat sih. Aku minta susu!!! Sekali lagi aku minta susu! Segelas susu putih segar. Susu murni!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Pelayan tua keluar dengan kopinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Sorenya&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Wanita muda jelita, beda: tidak seksi, bersahaja dan sederhana, mengetuk pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Masuk!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Selamat sore, Pak! Ini Laporan penjualan produk kita tahun kemarin dan laporan perkembangan pasar kita sepuluh tahun terakhir. Silakan dilihat, Pak. ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Simpan saja di meja, manis. Malam ini kamu kosong?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Maksud Bapak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Temani aku makan, mau tidak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Berdua?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tentu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Maaf, Pak. Saya tak biasa keluar rumah di malam hari. Saya wanita, harus pandai menjaga diri. Lagi pula tak baik, Bapak kan sudah punya istri. Dan….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aaah! Itu bukan masalah. Bisa diatur.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Apapun maksud Bapak, saya tetap menolak permintaan Bapak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Ini bukan permintaan, ini perintah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kekuasaan Bapak terhadap saya ada batasnya. Dan Bapak harus menghormati itu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Dasar karyawan baru! Kamu ini, berani membantah yah! Pokoknya kamu harus temani saya! Kalau tidak&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kalau begitu, baiklah&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tersenyum menang, wanita berdiri tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Jam 8 malam. Saya tunggu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Jam 8 pagi. Bapak akan menerima surat pengunduran diri saya. Selamat sore!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki kaget, wanita keluar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sekretaris <em>goblok</em>!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Kesal. Pintu dibanting: “Brukk!!!”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Sekretaris telah lama pergi saat pesuruh tua membawa segelas susu: segar! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tuan susunya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kopi! Aku minta kopi kental! Dan jangan banyak <em>bacot</em>!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Baik, Tuan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Stres. Manajer muda ini dibuat stres oleh laporan dari sekretaris barunya. Hatinya gundah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Apa ini?!! Dia gila!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Sepertinya kopinya kurang kental. Rokok terakhir dari dua bungkus rokok paginya telah dikikis pangkalnya oleh bara merah. Asap mengepul di ruangan dinginnya. Dia menyadari sesuatu dengan beribu kesal dan sesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di lain waktu, lelaki berumur mendorong gerobaknya penuh lelah. Gerobaknya penuh dengan: kardus: coklat dan sedikit kotor; botol-botol bekas air mineral: bening dan sedikit bersih; besi-besi berkarat: coklat dan sedikit rapuh. Dia pekerja keras. Lelaki yang tak pernah libur dari gerobaknya. Keluarganya adalah keluarga besar. Anaknya sembilan ditambah adik kecilnya yang meyatim piatu: dua. Dia tak bisa berhenti dari gerobaknya. Pernah dia berhenti dan menjadi kuli bangunan: upahnya disunat mandor dan kepalanya bocor tertimpa balok. Keluarganya kelaparan. Atau pernah juga ia jadi pedagang asongan: dikejar tramtib dan diperas preman. Keluarganya makan dua hari sekali. Pernah juga dia jadi kernet minibus: diperas supir dan tangannya patah, jatuh dari minibus. Keluarganya mulai berhutang untuk makan sekali sehari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Inilah jalannya, menjadi dekomposer pembangunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Dia mempunyai istri yang cantik dan penyabar. Cukup sabar untuk seorang yang cantik dan hidup miskin. Sangat sabar bagi seorang Ibu yang telah melahirkan sembilan anak. Super sabar untuk:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Anak saya sembilan: tiga SMP, tiga SD, tiga lagi belum sekolah. Ditambah dua adik suami yang masih kecil. Jadi jumlah anggota keluarga kami 13 orang Pak RT.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Oh&#8230;pantas Ibu miskin. Angka sial <em>tuh</em>, Bu. Tigabelas! Anjing saya yang dari Jerman mati saat minum susu yang ketigabelasnya. Terus, berlian mahal saya dicuri tanggal tigabelas bulan lalu. Dan tahu tidak Bu, itu <em>tuh</em> gara-gara saya beli berlian yang mahal itu tanggal tigabelas. Tiga belas juta Bu, bayangkan,13 juta! Terus, adik saya yang menikah tanggal tiga belas, tiga belas tahun yang lalu, meninggal karena pesawatnya jatuh di pinggiran kota Paris kilometer tigabelas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Wajah Bu RT memuram. Hampir menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“ Iya Bu, angka tigabelas itu angka sial. Jadi lebih baik Ibu mengubah jumlah anggota keluarga Ibu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“ Maksud Pak RT?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Saya siap kok mengeluarkan Ibu dari keluarga sial ini. Saya siap membuat Ibu sejahtera.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Untuk kebaikan kita bersama, Bu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Maksud Bu <span> </span>RT” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Saya rela suami saya menikah lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Muka Bu RT terlihat pasrah, roman Pak RT begitu cerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Apa?!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Uang belanja rumah tangga biar saya yang tanggung. Saya masih sanggup <em>kok</em> memberi Ibu sepuluh juta perbulan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Apa maksud kalian?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Untuk surat gugatan cerai biar pengacara saya yang urus. Anak Ibu boleh ikut dirumah Ibu nanti. Tapi, adik suami Ibu tak perlu dibawa. Merepotkan! Nanti akan kami bantu <em>kok</em>, agar suami Ibu mau menceraikan Ibu. Dan menjauhkan Ibu dari kemiskinan, selamanya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Mantap, Bu Rt menjawab tanpa ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Terus, suami saya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tenang, Bu. Suami saya akan mempekerjakannya di perusahaan saya yang di Malang. Atau mau yang di Surabaya, Jakarta, Makassar, atau Bandung. Terserah dia <em>lah.</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“O&#8230;oh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Jadi, Ibu bersedia menikah dengan saya dan menceraikan suami Ibu yang miskin itu?!” <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Pak RT berseru terlalu semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tidak!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Jawaban singkat. Semua diam tertunduk. Istri tersenyum menang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Rumah mereka sederhana. Sudah bertembok dan beratap seng. Panas dan berkeringat, itulah yang terjadi saat kita masuk kesana. Tapi, di sana ada kedamaian. Ada kebahagian. Anak-anak yang penurut dan cerdas. Pekerja keras dan disiplin. Penuh keriangan dan pandai menghibur. Rumah penuh warna: ceria dan penuh kasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di tempat bising, seorang Lelaki – yang <em>General Manager</em><span> </span>pemasaran, menenggak gelas <em>whiskey</em> kesepuluhnya. Matanya merah, mukanya merah, kepalanya naik turun serasa berat. Di sampingnya, wanita, bosan menatap muka merah si Lelaki. Mulut bau, muka kusut, rambut acak, duit <em>cekak</em>. Wanita itu pergi. Dengan dompet di tangan. Lelaki muda hanya diam, <em>melongo</em>. Menatap dompetnya berpindah dari kantung celana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Seorang Penjaga, berbadan kekar dan besar, menarik Lelaki keluar. Lalu membuangnya di trotoar. Kesadaran Lelaki mulai pulih karena bantingan si Penjaga. Ia berjalan perlahan dengan langkah tertahan. Mendekati mobil merah, menyala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di rumah tua, besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“<em>Kok cuma segini</em>. Mana yang lain?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tak ada.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Heh! Kamu itu tadi <em>ngemis</em> dimana sih?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aku tak <em>ngemis</em>. Itu dari Kakek.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Dasar! Anak kurang ajar! Berani <em>yah</em> kamu melawan Ibu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aku tak mau <em>ngemis</em> lagi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Oh…jadi kamu mau kelaparan? Kamu kira harta Kakekmu ini cukup untuk biaya sehari-hari kita. Dia cuma punya rumah tua ini! Melarat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Semuanya diam, hening sesaat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Ibu, aku mau sekolah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sekolah? Duit dari mana?!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Dariku!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Seorang lelaki tua – yang Kakek tua – muncul, di depan seorang Ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Ayah…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aku sudah tahu semuanya. Teganya dirimu. Dia anakmu. Anak anakku, suamimu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Ayah…aku…”<!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" alt="" width="2" height="2" /><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     \s   &amp;lt;![endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Beruntunglah bila kau sadar. Kau tak mengerti. Anakku begitu mencintaimu. Tapi, kau……..teganya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aku….aku putus asa. Ayah tak pernah memberiku uang belanja dan……….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kau tak pernah memintanya. Ini.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua memberikan sebuah amplop pada seorang Ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sampai saat ini, kau masih belum bisa menganggapku ayahmu. Kenapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sejak kecil, aku yatim piatu, aku…..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sudahlah. Aku mengerti. Aku mau pergi. Kunci rumah!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Maafkan aku ayah….aku…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua tersenyum. Ibu mendekat, mendekap, menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kau harus banyak belajar dari hidup, Anakku. Uang bisa dicari. Kasih sayang siapa yang memberi? Sayangilah anakmu. Hilangkan dendammu<span> </span>pada cucuku. Anakku mati karena sudah waktunya. Cucuku, dia hanya melakukan takdirnya. Maafkanlah!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Maafkan aku, Ayaa…h…….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua berlalu. Tinggalkan anak dan Ibu. Entah kemana menuju. Hanya ingin melenyapkan rasa hati ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di rumah sederhana, kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Anak kita sakit, Mas. Dia butuh obat. Sepertinya kambuh lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Ada sedikit uang, mungkin cukup.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Seorang Ibu menatap suami. Tangannya memegang kening sang anak: panas. Lelaki – yang suami Ibu – bangkit dari duduk. Mengambil jaket <em>kucel</em>, lalu pergi……</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Hati-hati, Mas!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aku cuma ke Apotek. Tak usah khawatir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Aku….. sudahlah. Hati-hati!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Iya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki pergi meninggalkan Ibu. Ibu diam. Hatinya tak nyaman. Ada hal buruk yang akan terjadi, tergambar jelas dalam firasat Ibu. Ia berdoa: “Tuhan lindungilah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua bernyanyi. Dengan suara hati.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk bernyanyi. Dengan sesal hati.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki bernyanyi. Dengan harap hati.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Angin bernyanyi dengan kabar <span> </span>semesta. Malam terang bulan, temaram dan kelam. Bintang berkedip satu dua, bersahutan. Langit malam tak berawan mengepung malam dengan kalam, berirama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Mobil ngebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua <em>nyebut</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki, kening kerut. Berfikir lembut. Tentang hidup. Sudahlah dia mengabdi. Tuhan disembahi. Keluarga dinafkahi. Kini dia menunggu hari. Hari dimulaikannya diri. Bagi semua pengabdi Tuhan Esa. Di dunia, di akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua berjalan pelan di pinggir jalan setapak, tak beraspal. Penuh pikir, penuh renungan. Hidup telah lamalah ia jalani. Pahit-manis kehidupan sudah dirasai. Hidupnya hanya menunggu mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk memadu rasa: kesal, sesal, duka, luka, alpa, perih, rintih, segala rasa! Semuanya bertubrukan dalam alam pikiran.<span> </span>Rasa taubat keluar dari tubrukan dan menjelma menjadi pikiran tunggal. Saatnya kembali pada diri suci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Mobil kebut memelan. Tadinya hendak pulang. Entah karena apa dia ngebut lagi. Ternyata salah jalan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk setengah sadar, membuat mobil jalan terlalu pinggir. Dalam setengah sadarnya lihatlah ia lelaki tua di depan mobil, terperanjat!<span> </span>Cepat, banting <em>stir</em> kearah berlawanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua kaget bukan main, menghindar ia dari bahaya, tapi tetap kena: keserempet! Tubuh terpental karena sedikit senggolan, jatuh tersungkur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Mobil melaju kepinggir seberang. Mobil waspada pada Lelaki dipinggir jalan. Sepertinya akan tabrakan! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk mulai sadar. Mobil direm sekuatnya. Tapi: “Jder!!”. Lelaki terpental. Tersungkur di tanah. Darah mengucur, entah dari mana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Hei! Bawa lelaki ini ke Rumah Sakit, cepat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki tua – yang ternyata tak pernah buta – membungkuk, memeriksa, lalu mulai mencoba mengangkat lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Iya, Kek!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk sadar. Dia telah menabrak orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki masuk mobil. Mobil lari ke rumah sakit. Lelaki tua ikut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di rumah putih, bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Dia mati. Saya membunuhnya, Kek.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sudah hubungi keluarganya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Istrinya di sini. Anaknya sakit.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Seorang wanita, muda, dengan mata kemerahan, pipi merah dan hidung merah – sepertinya habis menangis ­– berdiri tiba-tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Anakku mati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kau……….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Mana suamiku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Maafkan aku, ini salahku, tuntutlah aku, apapun itu, lakukanlah……..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Mana suamiku?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Sabarlah, Nak! Ujian berat telah menimpamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Suamiku………….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Seorang istri – yang wanita muda – menangis pelan. Lalu berhenti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kau yang menabraknya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Yah. Dan kau boleh menuntutku. Aku pasrah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kau tahu…..dia…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Dia membeli ini. Obat yang baru bisa ditebus hari ini. Dan aku membunuhnya. Dan itu berarti aku…membunuh anakmu juga. Obat ini…..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk menangis sesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Tapi, aku…aku…aku akan menanggung semuanya…..bila….bila…bila kau ingin aku mati….matilah aku!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kematianmu sama sekali tak akan berguna. Suamiku akan sedih bila aku melakukan hal itu padamu. Sudahlah….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Seorang istri menangis pelan, duduk di bangku panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">“Kematian adalah tanda kekuasaan. Tanda betapa lemahnya manusia. Menangislah, tak usah meratap. Yang kau miliki, tak kau miliki. Barang dipinjam harus dikembalikan. Bersabarlah. Karena kita tak<span> </span>pernah (bisa) membayar uang sewa untuk nyawa kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Semua diam. Hening tanpa bunyi, sunyi. Sampai datang perempuan putih berbaju putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Tuan yang bernama Yusup?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Yah!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Bisa ikut kami sebentar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Ada apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Istri anda meninggal…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Anak anda selamat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki mabuk – yang tak lagi mabuk – menangis. Tersedu lalu tertahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Kek, inikah harga yang harus kubayar untuk kembali suci.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Ini masih kurang, Nak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span><span> </span>“Kau, menikahlah denganku…….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Lelaki menatap mantap seorang Istri yang heran. Kakek tersenyum manis, Suster menganga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span>“Sebuah lintasan kehidupan telah dicatat dalam riwayat sampai akhir hayat untuk bekal menyambut akhirat. Selalu ada jalan yang harus di pilih dan selalu harus memilih. Segalanya telah di tetapkan kejadiannya. Jalanilah jalanmu sampai ujung kebenaran.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Aksara, 25 November 2005</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">Di revisi, 03-04 Maret 2006</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">02-03 Rabiul Awal 1427</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">*Khatir disini pengarang artikan sebagai lintasan. Cerpen ini secara keseluruhan menyatakan bahwa manusia hidup pada lintasan-lintasan takdir yang berkaitan satu sama lain. Pilihan-pilihan yang dibuatnya hanya memperjelas lintasan mana yang akan ditempuhnya.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=32&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/khatir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ketika</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/ketika-2/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/ketika-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2007 13:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/ketika-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.
Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.
Kau diri Putri dari negeri seribu peri.
Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.
 
Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.
Tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=31&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau diri Putri dari negeri seribu peri.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tentang lelucon lucu apakah tak misteri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa? Yang mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Yang kertas putih secarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku akan menyimpannya. Mungkin nanti bisa membiarkan senyum ini mengembang setiap membacanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak kau ingin tahu siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada saatnya nanti dia akan menampakkkan diri, kukira. <span id="more-31"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kenapa tak kau nampakkan saja senyummu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Ataukah kau terlalu enggan untuk senyum pada semua?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Bukankah, diri<span> </span>ini tak hanya untuk sendiri?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kenapa hanya diam? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Aku ingin kau berkata satu ucap saja.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa iseng? Tak kah dia memiliki seorang lain untuk diamati. Kenapa aku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki diam tanpa ekspresi baca secarik kertas tanpa ekspresi. Meremas kertas lalu melemparnya ke tong sampah. Lalu kembali mengetik cipta sebuah semesta penuh kata. Melukis kehidupan dengan ukiran kata. Membuat takdir cerita tabir derita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau mau membuat para wanita menangis lagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Untuk yang ini lelaki pun harus menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Minggu depan selesai kuedit dan siap terbit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki mengangguk dan kembali mengetik. Setelah lelah dia mengambil sebuah kertas dan mengambar kata-kata. Lalu mengejanya pelan dan &#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Siti Aisyah Al Maula, Bukittinggi 10 Oktober 1984, bapak Jawa ibu Padang, anak ketiga dari tiga bersaudara, M.<span> </span>Fajar Firdaus dan Rosyidah Nur Karimah, seorang yang ekspresif,<span> </span>pengejar kebenaran dalam bercerita julukan lucumu, ku akui kecerdasanmu, menulis karena melawan, dan jilbab putihmu hari ini begitu terang cahaya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ketika pertama kau bisa tersenyum pada yang kedua ini, nampaknya akan sedikit lebih serius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau pikir begitu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Saatnya nanti, mungkin kau tinggal menunggu dia melamarmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seperti itukah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku kira.<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Secarik kertas itu masih dipandangi dan pikiran tentang lelaki iseng mulai terlubangi. Dia tak iseng. Apa yang dicari?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Bila malam ini rembulan tak muncul diantara bintang sangat mungkin karena dia ingin bersamaku. Berbicara tentangmu yang selalu dipandanginya. Betapa cantik parasmu memesonanya hingga dia tak sanggup berkedip akan halnya bintang. Betapa senyummu telah membuatnya rela menggantung semalaman di langit malam. Betapa sedih saat dia tak lagi sanggup menahan gerhana ketika purnama, karena kehilangan wajahmu sesaat. Betapa dia menanti sehari matahari tenggelam untuk kembali melihatmu berkilauan cahayanya.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sekarang dia tahu alamatku. Sekuntum putih mawar dan sebentuk rembulan kertas bertulisan. Romantiskah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Lumayan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Menurutmu siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seseorang yang kita kenal?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seseorang yang mengenalku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dia pengecut!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dia misterius! Aku akan menunggu sampai tiba saat mendebar-debarkan itu. Saat&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dia memberikannya sendiri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Rembulan malam dipandangnya tenang. Dia terlalu berlebihan. Walaupun hari ini rembulan tiada dia tak mungkin bicara, denganmu apalagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak kah dia cantik rembulan? Hatinya pun tak kalah. Baru saja aku mengantarkannya.<span> </span>Sekuntum cinta dan cerita tentang percakapan kita. Dan aku bisa melihatnya lebih dekat. Dia cantik bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Tak lagikah ceritamu tentang bahagia?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Tentang kabar cinta pasangan bahagia?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Atau tentang lelaki bahagia karena jatuh cinta?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Apapun selain derita! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dia memandangnya lucu. Tidak, aku sedang jatuh cinta, jerit hatinya bahagia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau tahu siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seseorang yang meninggalkan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Penggemarmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku akan segera tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku tak berani meremehkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seorang pelayan lewat dengan secangkir susu putih panas dipanggilnya untuk membuat satu lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Itu untuk siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tamu Bapak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seorang wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kukira anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Oh, dia punya anak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dari istrinya yang meninggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Pelayan menuju ruang tunggu tamu lelaki kembali mengetik<span> </span>dan temannya kembali ke ruangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seorang gadis lewat di depan meja lelaki menjatuhkan sebuah buku baru dengan sengaja. Lelaki berhenti mengetik lalu memungut buku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bukumu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Maaf mengganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dari ayahmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Iyah. Kok tahu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Mau tanda tangan. Tulisanmu bagus, Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Silakan kalau tak merepotkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Jangan menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku tak perlu menangis untuk buku cengengmu. Tapi, kuakui, novel-<span> </span>novelmu bagus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Terimakasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Bisakah kau datang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak kah kau ingin melihat wajah tampanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seseorang yang akan menikahimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku telah mengenalmu. Sekarang saatnya kau mengenalku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Di mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Di tempat kau biasa makan dengannya, teman rambut panjangmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kapan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Saat jam makan siang. Ajak temanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki menutup teleponnya cepat dan tenang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah masih menempelkan HP-nya ditelinga. Kaget, tak percaya. Bagaimana lelaki itu bicara seolah dia mau menjadi istrinya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Hei, kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dia minta bertemu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Pecundang itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku bukan pecundang. Bukankah kita sama?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki yang diharap datang lebih awal. Semua kaget.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kalian kaget sekali. Putri apa maksudmu dengan ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah terdiam. Putri terdiam. Lelaki tersenyum dengan kertas-kertas di tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tak selamanya yang kau nilai itu benar. Begitukah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki menyerahkan kertas-kertas ke Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bagaimana kau tahu aku yang&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Putri tercengang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bagaimana bisa kau melakukannya padaku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah bertanya pada lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah, ayo menikah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seru lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bagaimana bisa? Kalian menikah, lalu aku&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Protes Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span><span> </span>Ada apa denganmu Putri?<span> </span>Kau jatuh cinta padaku! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki bertanya dengan sinis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku tak mau! Aku tak bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tolak Aisyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Gumam Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seru lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah berlari meninggalkan mereka berdua.<span> </span>Putri diam. Lelaki berlari mengejar Aisyah. Putri berlari mengejar lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah aku tak akan melepaskanmu!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Apapun akan kulakukan untukmu. Kau tak boleh mendapatkan Aisyah! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tangan mereka erat berpegangan. Seorang lelaki tinggi disamping perempuan tinggi. Pakaian perempuan serba putih lengkap dengan kerudung putih. Pakaian lelaki serba putih lengkap dengan peci putih. Kata orang mereka pengantin baru sedang bulan madu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tangan lelaki menyuapi mesra wanita. Mereka makan sepiring berdua. Mata wanita menatap mesra lelaki.<span> </span>Mereka pasangan bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tak kah kau ingin cerita tentang buku barumu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku takut kau menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Masih tentang derita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tentang cinta. Saat kita mencintai orang yang salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Daun-daun berguguran tertiup angin lembut. Satu-satu perasaan lalu berjatuhan dalam hati. Dalam setiap lapisan dinding dasar hati telah mengendap perasaan-perasaan yang tak mungkin lagi dirasai. Lelaki terdiam merasai segala luka hati yang terkubur dalam. Wanita terdiam merasai bahagia hati yang menjulang tinggi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Masihkah mengingatnya di hari sepenting ini bagi kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Lalu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Putri, tidakkah malang dia. Dan betapa bahagia aku mendapatkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Saat itu dia masih terlalu muda. Dia sahabat terbaikku. Dia yang selalu mendorongku untuk berubah. Dan, tak menyerah untuk mendapatkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kita akan mengenangnya bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Yah. Kita akan selalu mengunjunginya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kenapa? Kenapa tak bisa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada seseorang yang sudah menungguku. Di sana, di tempat yang jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa maksudmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada yang belum kau tahu!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa maksudmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lihat ini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah berbalik meninggalkan lelaki seorang. Lelaki termenung memegangi tumpukan kertas. Tepat dibagian atas tertulis hasil diagnosa sebuah rumah sakit ibukota, dia sakit&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Apakah dia akan selamat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Berdoalah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sejak kapan dia sakit?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sudah cukup terlambat saat aku mengetahuinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Bibirnya kelu. Tangannya tergeletak tanpa tenaga disamping tubuhnya. Selang infus menusuk nadi melukai. Di hidungnya ada pula selang oksigen. Dia begitu lemah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Berhasilkah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Semuanya diam. Tak ada yang menjawab. Semuanya menunduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Berhasilkah operasinya? Ayolah, tersenyumlah semuanya. Aisyah akan terus hidup&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Di hati kita. Yah, dia akan terus hidup. Benarkan Istriku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Yah. Dia akan selalu kita rindukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Putri, ayo kita pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah sampai jumpa lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tersenyumkah? Tak pernah ada yang akan tahu. Dia telah terkubur tanah. Wewangian bunga yang ditabur pasangan suami-istri mungkin akan membuatnya tersenyum. Di sana, di alamnya.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=31&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/ketika-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biarkan Hati Mencintai dan Tuhan Memilih</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/biarkan-hati-mencintai-dan-tuhan-memilih/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/biarkan-hati-mencintai-dan-tuhan-memilih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2007 13:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/biarkan-hati-mencintai-dan-tuhan-memilih/</guid>
		<description><![CDATA[Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.
Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.
Kau diri Putri dari negeri seribu peri.
Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.
 
Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.
Tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=30&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau diri Putri dari negeri seribu peri.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tentang lelucon lucu apakah tak misteri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa? Yang mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Yang kertas putih secarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku akan menyimpannya. Mungkin nanti bisa membiarkan senyum ini mengembang setiap membacanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak kau ingin tahu siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada saatnya nanti dia akan menampakkkan diri, kukira. <span id="more-30"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kenapa tak kau nampakkan saja senyummu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Ataukah kau terlalu enggan untuk senyum pada semua?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Bukankah, diri<span> </span>ini tak hanya untuk sendiri?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Kenapa hanya diam? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Aku ingin kau berkata satu ucap saja.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa iseng? Tak kah dia memiliki seorang lain untuk diamati. Kenapa aku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki diam tanpa ekspresi baca secarik kertas tanpa ekspresi. Meremas kertas lalu melemparnya ke tong sampah. Lalu kembali mengetik cipta sebuah semesta penuh kata. Melukis kehidupan dengan ukiran kata. Membuat takdir cerita tabir derita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau mau membuat para wanita menangis lagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Untuk yang ini lelaki pun harus menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Minggu depan selesai kuedit dan siap terbit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki mengangguk dan kembali mengetik. Setelah lelah dia mengambil sebuah kertas dan mengambar kata-kata. Lalu mengejanya pelan dan &#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Siti Aisyah Al Maula, Bukittinggi 10 Oktober 1984, bapak Jawa ibu Padang, anak ketiga dari tiga bersaudara, M. <span> </span>Fajar Firdaus dan Rosyidah Nur Karimah, seorang yang ekspresif, <span> </span>pengejar kebenaran dalam bercerita julukan lucumu, ku akui kecerdasanmu, menulis karena melawan, dan jilbab putihmu hari ini begitu terang cahaya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ketika pertama kau bisa tersenyum pada yang kedua ini, nampaknya akan sedikit lebih serius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau pikir begitu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Saatnya nanti, mungkin kau tinggal menunggu dia melamarmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seperti itukah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku kira.<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Secarik kertas itu masih dipandangi dan pikiran tentang lelaki iseng mulai terlubangi. Dia tak iseng. Apa yang dicari?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Bila malam ini rembulan tak muncul diantara bintang sangat mungkin karena dia ingin bersamaku. Berbicara tentangmu yang selalu dipandanginya. Betapa cantik parasmu memesonanya hingga dia tak sanggup berkedip akan halnya bintang. Betapa senyummu telah membuatnya rela menggantung semalaman di langit malam. Betapa sedih saat dia tak lagi sanggup menahan gerhana ketika purnama, karena kehilangan wajahmu sesaat. Betapa dia menanti sehari matahari tenggelam untuk kembali melihatmu berkilauan cahayanya.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sekarang dia tahu alamatku. Sekuntum putih mawar dan sebentuk rembulan kertas bertulisan. Romantiskah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Lumayan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Menurutmu siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seseorang yang kita kenal?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seseorang yang mengenalku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dia pengecut!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dia misterius! Aku akan menunggu sampai tiba saat mendebar-debarkan itu. Saat&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dia memberikannya sendiri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Rembulan malam dipandangnya tenang. Dia terlalu berlebihan. Walaupun hari ini rembulan tiada dia tak mungkin bicara, denganmu apalagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak kah dia cantik rembulan? Hatinya pun tak kalah. Baru saja aku mengantarkannya.<span> </span>Sekuntum cinta dan cerita tentang percakapan kita. Dan aku bisa melihatnya lebih dekat. Dia cantik bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Tak lagikah ceritamu tentang bahagia?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Tentang kabar cinta pasangan bahagia?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Atau tentang lelaki bahagia karena jatuh cinta?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;">Apapun selain derita! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Dia memandangnya lucu. Tidak, aku sedang jatuh cinta, jerit hatinya bahagia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau tahu siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seseorang yang meninggalkan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Penggemarmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku akan segera tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku tak berani meremehkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seorang pelayan lewat dengan secangkir susu putih panas dipanggilnya untuk membuat satu lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Itu untuk siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tamu Bapak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Seorang wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kukira anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Oh, dia punya anak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dari istrinya yang meninggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Pelayan menuju ruang tunggu tamu lelaki kembali mengetik <span> </span>dan temannya kembali ke ruangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seorang gadis lewat di depan meja lelaki menjatuhkan sebuah buku baru dengan sengaja. Lelaki berhenti mengetik lalu memungut buku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bukumu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Maaf mengganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dari ayahmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Iyah. Kok tahu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Mau tanda tangan. Tulisanmu bagus, Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Silakan kalau tak merepotkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Jangan menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku tak perlu menangis untuk buku cengengmu. Tapi, kuakui, novel-<span> </span>novelmu bagus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Terimakasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Bisakah kau datang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tak kah kau ingin melihat wajah tampanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seseorang yang akan menikahimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aku telah mengenalmu. Sekarang saatnya kau mengenalku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Di mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Di tempat kau biasa makan dengannya, teman rambut panjangmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kapan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Saat jam makan siang. Ajak temanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki menutup teleponnya cepat dan tenang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah masih menempelkan HP-nya ditelinga. Kaget, tak percaya. Bagaimana lelaki itu bicara seolah dia mau menjadi istrinya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Hei, kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Dia minta bertemu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Pecundang itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku bukan pecundang. Bukankah kita sama?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki yang diharap datang lebih awal. Semua kaget.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kalian kaget sekali. Putri apa maksudmu dengan ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah terdiam. Putri terdiam. Lelaki tersenyum dengan kertas-kertas di tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tak selamanya yang kau nilai itu benar. Begitukah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki menyerahkan kertas-kertas ke Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bagaimana kau tahu aku yang&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Putri tercengang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bagaimana bisa kau melakukannya padaku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah bertanya pada lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah, ayo menikah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seru lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Bagaimana bisa? Kalian menikah, lalu aku&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Protes Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span><span> </span>Ada apa denganmu Putri? <span> </span>Kau jatuh cinta padaku! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lelaki bertanya dengan sinis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku tak mau! Aku tak bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tolak Aisyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Gumam Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Seru lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah berlari meninggalkan mereka berdua.<span> </span>Putri diam. Lelaki berlari mengejar Aisyah. Putri berlari mengejar lelaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aisyah aku tak akan melepaskanmu!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Apapun akan kulakukan untukmu. Kau tak boleh mendapatkan Aisyah! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tangan mereka erat berpegangan. Seorang lelaki tinggi disamping perempuan tinggi. Pakaian perempuan serba putih lengkap dengan kerudung putih. Pakaian lelaki serba putih lengkap dengan peci putih. Kata orang mereka pengantin baru sedang bulan madu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tangan lelaki menyuapi mesra wanita. Mereka makan sepiring berdua. Mata wanita menatap mesra lelaki.<span> </span>Mereka pasangan bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tak kah kau ingin cerita tentang buku barumu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Aku takut kau menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Masih tentang derita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tentang cinta. Saat kita mencintai orang yang salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Daun-daun berguguran tertiup angin lembut. Satu-satu perasaan lalu berjatuhan dalam hati. Dalam setiap lapisan dinding dasar hati telah mengendap perasaan-perasaan yang tak mungkin lagi dirasai. Lelaki terdiam merasai segala luka hati yang terkubur dalam. Wanita terdiam merasai bahagia hati yang menjulang tinggi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Masihkah mengingatnya di hari sepenting ini bagi kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Lalu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Putri, tidakkah malang dia. Dan betapa bahagia aku mendapatkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Saat itu dia masih terlalu muda. Dia sahabat terbaikku. Dia yang selalu mendorongku untuk berubah. Dan, tak menyerah untuk mendapatkanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kita akan mengenangnya bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Yah. Kita akan selalu mengunjunginya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;">¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kenapa? Kenapa tak bisa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada seseorang yang sudah menungguku. Di sana, di tempat yang jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa maksudmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ada yang belum kau tahu!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Apa maksudmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Lihat ini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah berbalik meninggalkan lelaki seorang. Lelaki termenung memegangi tumpukan kertas. Tepat dibagian atas tertulis hasil diagnosa sebuah rumah sakit ibukota, dia sakit&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Apakah dia akan selamat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Berdoalah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sejak kapan dia sakit?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Sudah cukup terlambat saat aku mengetahuinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Bibirnya kelu. Tangannya tergeletak tanpa tenaga disamping tubuhnya. Selang infus menusuk nadi melukai. Di hidungnya ada pula selang oksigen. Dia begitu lemah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Berhasilkah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Semuanya diam. Tak ada yang menjawab. Semuanya menunduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Berhasilkah operasinya? Ayolah, tersenyumlah semuanya. Aisyah akan terus hidup&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Di hati kita. Yah, dia akan terus hidup. Benarkan Istriku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Yah. Dia akan selalu kita rindukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Putri, ayo kita pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Aisyah sampai jumpa lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tersenyumkah? Tak pernah ada yang akan tahu. Dia telah terkubur tanah. Wewangian bunga yang ditabur pasangan suami-istri mungkin akan membuatnya tersenyum. Di sana, di alamnya.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=30&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/biarkan-hati-mencintai-dan-tuhan-memilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyanyian Rindu dan Kematian yang Menunggu</title>
		<link>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/nyanyian-rindu-dan-kematian-yang-menunggu/</link>
		<comments>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/nyanyian-rindu-dan-kematian-yang-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2007 13:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oipiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warsum (Warita Sumir)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/nyanyian-rindu-dan-kematian-yang-menunggu/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu gelap mulai merayap, aku terkesiap, rembulan terang telah tersingkap di bumi senyap. Menatapnya sebagai rembulan adalah sebuah kepuasan. Dan dia adalah purnama hati. Menelan semua perasaan dalam satu caplokan lalu mengeluarkannya dalam satu debaran jantung yang menghentak mantap. 
Dia sebenarnya gadis biasa saja. Tertawa dan menangis seperti gadis lainnya. Tapi, dia begitu berbeda ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=29&subd=oipiyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Waktu gelap mulai merayap, aku terkesiap, rembulan terang telah tersingkap di bumi senyap. Menatapnya sebagai rembulan adalah sebuah kepuasan. Dan dia adalah purnama hati. Menelan semua perasaan dalam satu caplokan lalu mengeluarkannya dalam satu debaran jantung yang menghentak mantap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia sebenarnya gadis biasa saja. Tertawa dan menangis seperti gadis lainnya. Tapi, dia begitu berbeda ketika jumpa denganku – aku melihatnya berbeda! Seperti ada kekuatan dalam dirinya yang menyeret diriku dalam samudera kegadisannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Saat itu, aku ingin <em>ketemu</em> sejak lama dan ketika tinggal berdua aku tak lagi sanggup berkata-kata. Ada apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><span> </span>Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia bertanya padaku. Oh&#8230;..sungguh indah. Sepatah kata yang terucap penuh merdu. Aku telah menunggu-nunggu saat ini. Aku telah menunggu-nunggu saat-saat seperti ini, sangat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Hei, apa kau bicara?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku menatapnya. Dia begitu tenang. Dia menatapku. Aku sungguh gelisah. Aku takut tak bisa memberi kesan yang cukup untuk memberitahu betapa aku telah jatuh hati padanya.<span id="more-29"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku tak lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>A&#8230;aput, namaku Aput</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Alis. Namamu lucu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Namamu, berarak hitam, indah. Matamu indah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Alis. Terimakasih!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia tak berbalik atau menoleh atau apa. Setidaknya kusudah menyampaikan terimakasihku. Hehh&#8230;&#8230;&#8230;lega. Setidaknya aku sudah tahu namanya, Alis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Alis, ketika jumpa pertamaku, sedikit kebetulan, sedikit kuceritakan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Di sini sumpek. Bis. Orang berjejal dalam deretan bangku sempit. Sebagian berdiri. Hampir semua penumpang mahasiswa, banyak yang wanita. Lelaki berdiri biasa. Aku berdiri di tengah. Terbebas dari desakan antara ujung depan dan ujung belakang deretan penumpang berdiri – bila harus berdiri, penumpang selalu ingin ditepi, dekat pintu, turun mudah. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Mobil melaju pelan. Kepalaku mengangguk pelan. Menanggung hafalan tanpa tidur semalam, sekedar untuk ujian. Masuk tol, mobil kencang melaju. Badanku mundur-maju. Tangan erat pada batangan besi melintang di atap tengah bis. Sementara kepala bersandar antara dua siku tangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Di depan, Kijang berhenti mendadak. Bus kencang mengerem mendadak. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tubuhku terbanting, ambruk mendadak dalam dekapan dia. Dia mahasiswa. Dia gadis. Tumpukan bukunya berhambur tertimpa badanku. Aku menghadap ke arah belakang dia duduk menghadap depan lalu kami bertubrukan saat mobil berhenti mendadak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sori.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia hanya menunduk memunguti bukunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Biar kubantu. Kau tak apa-apa? Baguslah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku tak yakin dia baik. Setidaknya, kukira tadi tubrukan yang cukup keras. Mungkin akan ada sedikit lecet dan darah, aku melihat darah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau berdarah. Boleh kulihat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia menggeleng dan menatapku heran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Bemper belakang Kijang hanya satu senti dari bemper depan bis, nyaris. Di depannya – Kijang, katanya, ada mobil boks terbalik.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia masih menatapku. Mulai mengambil tisu dan menyeka keningku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau berdarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku? Tak apa-apa. Apa? Aku berdarah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ah..aku benci darah! Tidak! Sungguh mengerikan! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Mengerikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Pagi itu biasa saja. Seperti pagi-pagi lainnya. Beberapa kejadian terjadi bersamaan. Nasi goreng loncat kuali, teh manis gelas pecah, keset orang jatuh, baju terbalik, dasi Bapak terbalik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Semua diburu waktu. Waktu beredar dimana-mana dengan busur tajam siap menghujam. Siapa lengah dia kalah. Semua bangun telat. Kalah cepat dengan bunyi alarm jam enam seperempat &#8211; tenggat telat penghuni empat: bapak, ibu, adik, aku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Semalam, kami jalan-jalan-makan-makan-nonton-nonton-main-main karena kemarin, karena kemarin hariku. Di larut malamnya kami masih berbincang dengan harapan. Memintanya agar terus datang setiap saat. Menemani hidupku, hidup kami. Sesekali, dia tersenyum, geli. Lain kali cemberut, kesal. Mungkin semua tahu, dia sungguh manis. Senyumnya manis. Tapi, dia bisa cemberut pula. Saat-saat itulah kita dirundung asa tipis dan hampir terputus. Berusaha dipegang terlalu meregang malah putus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Selarut ini dia – harapan, masih membuka ruang konsultasi. Kami puas, setelah lama berbicara dengannya. Semuanya, tentang masa depan. Tentang masa-masa dewasa nanti. Tentang cita-cita mau jadi apa nanti. Semuanya selesai dilarut yang paling sampai mata ini tak bisa dipejamkan oleh kehendak sendiri – memejam tanpa perintah dan atau permintaan. Kami lelah. Bahagia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Nasi goreng yang tersaji cepat habis cepat. Kami lelah,<span> </span>kami lapar. Dalam satu hitungan teh hangat manis tenggelam ke tenggorokan dan semua siap pergi, bapak kantor Ibu RS adik SD aku SMA. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Semua masuk mobil. AC mobil mati. Kepanasan! Tangan dikibas bolak-balik, koran dikibas bolak-balik, setir diputar pelan bolak-balik, gas diinjak dibiarkan bolak-balik. Takut telat gas diinjak cepat mobil melesat. Tepat dipengkolan ke empat, bus menyiap, menyenggol mobil kami yang lalu <em>nubruk</em> pembatas jalan dan ditubruk <em>gandengan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Benturan keras! Dentuman keras memekakan telinga lalu gelap tanpa rasa. Saat mata terbuka paksa dalam remang darah bersliweran menenggelamkan pandangan. Mataku kelilipan darah. Aku mual muntah darah. Tanganku darah kakiku darah perutku darah tubuhku darah semua merah. Ah, aku tidur tak tahan darah lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Darah, trauma, fobia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku masuk rumah sakit. Gadis itu mengantarku lalu pergi setelah semua berkas diisinya. Katanya, aku jatuh begitu lihat darah. Aku tak ingat betul apa yang terjadi. Bus hampir <em>nabrak</em> dan gadis kutabrak. Darah&#8230;&#8230;mual&#8230;..pusing&#8230;.kaki lemas&#8230;tubuh lemas..gelap! Siapa dia tadi? Gadis itu! Ah, aku lupa tanya nama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ujianku?!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;">Ujianmukah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Aku takut darah. Hanya darahku saja.” Itu yang kau <em>bilang</em> padaku. Dan apakah aku pernah <em>bilang</em> padamu, aku suka darah. Hanya darahku saja. Bila kau pening kepalamu mual perutmu lemas tubuhmu karena darahmu maka aku telah begitu semangat ketika melihat darahku. Kukira ini saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau jatuh hati padaku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tentu. Sejak bertemu. (cintaku) Makin besar ketika tahu namamu. Semakin besar ketika tahu rumahmu. <span> </span>Semakin dalam saat tahu dirimu. Semakin&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tak bisakah kau lupakan aku saja. Aku sudah muak dengan cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Cintaku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia hanya berpaling saja meninggalkan aku sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sendiri tentu tak mampu kucari maka saat dia di depanku, tolonglah teman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau tahu gadis ini? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Gambarmu bagus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kenal?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><em>Enggak</em>. Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Seorang gadis dengan setumpuk buku. Dia selalu naik bis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Lalu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku tak lagi bisa naik bis. Sejak pingsan, ibuku larang. Setiap kemana aku diantar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Ehm&#8230;jadi tak pernah berjumpa (lagi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dia disini. Di kampus ini. Aku yakin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><em>Sini</em> gambarnya. Biar kufotokopi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Lalu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tempel saja di seluruh kampus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Begitu. Baikkah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia hanya tersenyum, lalu pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Pergi!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kami berdiri dalam diam. Kulihat matanya, sembab. Dia menunduk pandangan sementara aku tak berani mendekat. Ingin memeluk katakan aku disini jangan bersedih. Tapi aku diam berdiri berjarak antar hati. Katakanlah satu saja biar kumengerti derita hati yang tengah kau tanggung. Takkah kita tanggung bersama saja agar ringan beban itu dan kau boleh menangis sepuasnya dalam pelukanku. Sepuasmu. Tapi, seperti kau aku hanya diam berdiri lalu menunduk sedih. Katakanlah sesuatu diriku. Katakan walau hanya satu saja agar dia tahu kau ada. Kau ada dan siap memberi pelukan terhangat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia mulai terisak dan aku tak mampu lagi untuk tidak menghambur padanya memeluknya dan dia berbalik menjauh lalu pergi. Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><span> </span><span> </span>ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kenapa kau tulis macam-macam digambarku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sudah ada?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kelingking-jempolnya menjulur berlawanan dengan tiga jari lain dilipat ke telapak tangan lalu mendekat jempol ke telinga dan kelingking ke mulut lalu tangannya bergoyang, dia tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Telefon? Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tunggu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tunggu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku tak lagi bertahan dan pergi tapi, ketika dia berteriak, tunggu!, hatiku bergetar dan <em>bilang</em>: diamlah sejenak! Aku berbalik dan menatapnya senyap, dia menundukkan kepala lalu naikkan muka dan kulihat wajahnya dipenuhi kesedihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Jangan tinggalkan aku, karena aku tak cinta. Kumohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku tak mengerti. Kukira semuanya berakhir ketika kutanya apakah ada kesempatan bagiku untuk dicintaimu dan dia jawab tak ada maka semuanya selesai, tapi, kenapa dia masih <em>bilang</em>: tunggu! Jangan tinggalkan aku!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bukankah kita masih bisa bersama?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku hanya tersenyum berbalik lalu pergi meninggalkannya sendiri dalam sedihnya. Aku berlalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Berlalu. Hari berlalu dengan cepat. Tak seperti katanya, dia, tak pernah menelefonku. Akhirnya, pada suatu hari, mungkin saatnya bagiku untuk melupakannya, dan dering telepon mengganggu tidurku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Halo?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau tahu ini pukul berapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Untuk apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Siapa yah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Gambarku begitu banyak kau tempel. Ada apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau tahu sekarang jam dua belas malam? Gambar&#8230;.kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sama sekali kau tak punya jawaban?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Telefonnya diputus. Hanya dengung terdengar. Dan ini jam dua belas malam. Kenapa belum tidur?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Semalam aku tak bisa tidur. Memikirkanmu seperti telah gila saja. Aku tahu kau tak perlu peduli. Tapi, setidaknya kau mau mendengarkankukan? Kenapa kau diam? Sakit?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ini yang kelima sejak kami kenalan pertama. Walaupun berdua, seperti ada tembok tebal pisahkan kami. Dia begitu dingin sekaligus cantik. Tapi, hari ini diam sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Baiklah, aku ingin katakan ini padamu. Mungkin kau sedikit kaget. Tapi, tak tahan lagi, segera harus kukatakan atau aku akan meledak karena terus diburu rindu. Aku&#8230;., aku cinta kamu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia diam. Kulihat matanya,<span> </span>kurang tidur. Noda hitam <em>nampak</em> jelas dibawah matanya. Mungkin dia <em>ngantuk</em>, jadi tak bisa mendengar apa yang ku<em>bilang</em>. Mungkin&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sudah. Itu saja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Ehm&#8230;aku sebenarnya menunggu jawaban darimu. Apa kau&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku pergi dulu. Salam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku duduk dengan mulut ternganga. Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kenapa aku tak menelefonnya saja. Toh dia tak menyembunyikan nomornya saat menelefonku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Halo! Bisa bertemu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Maaf <span> </span>Mas, siapa ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Suara laki-laki!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bisa berbicara dengan perempuan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Salah sambung yah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bukan. Kemarin ada gadis menelefon dengan nomor ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Yakin Mas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dia&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Salah sambung kali Mas. Cek lagi nomornya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><em>Gak</em> mungkin salah. Jam dua belas malam seminggu yang lalu dia&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Wah Mas&#8230;salah sambung!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Telefon ditutup. Jangan-jangan <em>Hp</em>nya dicuri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kau kira aku pencuri? Betapa tega kau menuduhku seperti itu. Aku benci kamu! Dulu, kukira, kau baik. Setelah kutolak, akhirnya diri sejatimu muncul, jahat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Itu punyaku. Tak seorang pun berhak memilikinya selain aku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau kira benda ini hanya ada satu saja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Yah. Ayahku hanya <em>bikin</em> satu, untukku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Minta saja <em>bikin</em> lagi, untukku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dia sudah mati. Kecelakaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Oh&#8230;maaf. Ini <em>kubalikin</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kenapa? Kenapa mencurinya? Kenapa?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Karena kau menganggapku pencuri. Itu saja. Kau benci aku? Terserah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia mengembalikkan jamku lalu pergi berlalu. Kenapa dia mencuri? Padahal jika mau, akan kuberi!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Beri aku saranmu. Aku tak bisa menghubunginya. Salah sambung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Mukamu itu, yah sudah mungkin bukan jodoh. Toh segala usaha telah kau lakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku cuma mau <em>bilang</em>, terimakasih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bagaimana lagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bagaimana dokter. Apa dia baik saja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dia kehilangan banyak darah. Ini keadaan yang sangat sulit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Darahku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tak yakin. Ada kelainan didarahnya. Semua transfer darah keluarganya, semua ditolak tubuhnya. Aneh sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Coba darahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Nona siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Coba darahku!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Silakan tes dulu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Cobalah darahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Apa warna darahmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tentu merah (?)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kukira biru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Akhirnya aku tahu kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau&#8230;gadisku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kau menempelnya begitu banyak. Dan akhirnya, aku tahu siapa kau. Lelaki yang takut merah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Yah kau. Bisa bertemu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku sibuk. Darahmu merah kan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sebentar saja. Aku ingin&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Jam tujuh malam. Di taman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Hari ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kapan lagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lagipula, dia tak pernah cerita tentang duka, tapi, matanya selalu sembab akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku begitu ingin tahu. Sampai akhirnya aku tahu, Ibunya baru saja mati. Dia telah begitu sedih. Ketika di taman dan aku betapa ingin memeluknya – untuk katakan aku disini untukmu, dia <em>bilang</em>, pergi! Bukan aku yang pergi, dia! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Setelah tahu ibunya meninggal aku semakin sayang. Pertamanya, hanya ucapan terimakasih lalu berikutnya ku<em>bilang</em> kau menarik lalu berikutnya ku<em>bilang</em> aku jatuh cinta lalu berikutnya aku ingin memeluknya ketika dia sedih dan sekarang:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku sayang kamu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia diam tersenyum lalu pergi dengan begitu sunyi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sunyi. Rasanya semua gerak berhenti. Tetesan embun menggantung di udara seolah terbang. Burung diam dalam terbang. Dan angin menghilang. Senyap, sama sekali tak ada suara. Semuanya karena dia telah berkata: “tak bisakah kau lupakan aku saja. Aku sudah muak dengan cinta”. <em>Kubilang</em>: “cintaku? Hei bagaimana bisa!” Tapi, aku yakin dia tak mendengar teriakanku karena dia terus berlalu. Seluruh ruang hatiku runtuh. Seluruh diriku luruh. Aku tak lagi satu. Terurai jadi bagian tak tentu dan tak satupun tahu yang mana diriku. Aku telah begitu hancur. Dan jamku, hilang. Hah&#8230;jamku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tiba-tiba saja aku telah disibukkan dengan jamku yang hilang. Dan diriku menyatu dalam satu konsentrasi: dimana jam itu? Jam itu dari ayahku. Dia desain dan membuatnya sendiri. Ada namaku terukir disana. Ada cinta ayahku terukir disana. Lalu, mana boleh hilang!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Hilanglah, dirimu dariku. Rasanya, walaupun sulit, aku akan melupakannya saja. Namun, ternyata bukan hal yang mudah. Wajahnya telah tercetak dengan jelas dalam benak. Setiap tuturnya telah tertangkap jelas dalam ingatan. Bayangannya adalah bayanganku. Dirinya setengah jiwaku. Lalu, bagaimana aku bisa lupa? Melupakannya akan seperti menawarkan seluruh lautan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lalu, tiba-tiba dia memintaku bertemu. Rasanya, luka hatiku semakin pedih saja. Apalagi yang mau dikatakan? Rasanya hanya akan menambah luka saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Terimakasih telah datang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kumohon katakan, kau mencintaiku. Kumohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Rasanya ingin aku berlutut dan menangis didepannya. Tapi, aku seorang lelaki! Bagiku, lelaki tak boleh berlutut di depan perempuan karena dia punya kehormatan. Lebih lagi dia punya Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia hanya menggeleng. Dan aku akan pergi. Dia <em>bilang</em> tunggu, jangan tinggalkan aku. Aku tak mengerti. Dia <em>bilang</em> kita masih bisa bersama. Apa itu tak hanya akan menambah luka? Aku pergi bersama perih hatiku. Sakit rasanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Bu, aku sakit.” Kau mengeluh pada Ibumu. Ibumu menangis. Kau muntah darah. Banyak sekali. Seluruh mulutmu memerah. Dan kau hanya tersenyum. Kau <em>bilang</em> sudah saatnya. Lalu apa kau tega meninggalkanku sendiri. Lihat, ibumu tak tidur seharian menunggumu, sembuh. Lalu kau <em>bilang</em> sudah saatnya. Enak sekali kau <em>bilang</em> seperti itu. Kau tahu, berapa banyak air mata yang ia – ibumu, keluarkan ketika cerita kau muntah darah? Apa kau tahu? Kenapa kau hanya diam. Katakan sesuatu. Bukankah kau selalu <em>bilang</em>, aku cinta Ibuku. Lalu, betapa beraninya kau <em>bilang</em>, kau akan pergi meninggalkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Semuanya putih. Selimut putih menutup tubuhnya dengan lembut. Tangannya telah tersambung dengan selang infus. Darah terus menetes dari selang lainnya. Oksigen mengalir dari selang lainnya. Air mata menetes dari mata lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kau <em>bilang</em> kau cinta aku. Apakah kau akan bangun bila ku<em>bilang</em> aku cinta kamu? Aku sayang kamu. Kenapa? Menyerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Aku menyerah. Aku tak akan pernah bisa melupakannya. Apalagi setelah dia mencuri jamku. Aku tak melupakannya, aku telah menjadi sangat membencinya, pencuri! Aku tak peduli lagi cintaku kemana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dimana aku. Aku tak bisa merasakan apapun disini. Aku tak lagi bernafas, mungkin disini tak perlu. Kulitku tak lagi merasa, mungkin disini tak ada. Mulutku tak lagi ada, mungkin disini tak kata. Telingaku entah kemana, mungkin sedang mendengar apa. Mataku tak lagi melihat. Aku yang melihat. Semuanya tampak sama. Tak ada benda atau apapun. Tak ada suara atau gerak. Semuanya diam dalam gerakan teratur yang tak kutahu apa? Sesayup aku melihat jelas dengan diriku, ibuku yang menangis. Adikku tertidur lelah. Dan dia, seorang gadis, tak berhenti berkata. Siapa dia? Ah, aku lupa. Dia seorang yang sangat kukenal, tapi, aku lupa. Aku lupa kalau disini tak ada ingatan. Jadi, tak perlu mengingatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dia ingin aku bersamanya disana. Siapa? Siapa aku? Siapa yang berbaring disana dan mereka tunggu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ada yang memanggil. Itu suara yang kukenal. Ayah. Dia <em>bilang</em> pergilah dari sini, kemana? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ke Ibu katanya? Lewat mana? Ikuti cahaya katanya? Di mana? Cari! Ayah! Dia pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ayah! Dia pergi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ayah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ayahnya meninggal. Ayahnya meninggal saat dia minta bertemu denganku dan <em>bilang</em> jangan tinggalkan aku dan aku meninggalkannya. Lalu berapa hari kemudian dia mengembalikan jamku dan kami tak lagi bertemu. Aku menuduhnya mencuri. Mungkin salah. Aku biasa lupa dan meninggalkan benda milikku tanpa sadar. Mungkin dia menemukannya. Mungkin dia bukan pencuri. Tapi, kenapa tak segera dikembalikkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bisakah kita bertemu. Aku yakin kau bukan pencuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku tak lagi perlu bersamamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bukan. Aku yakin kau bukan pencuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku memang sendiri. Tak lagi Ibu menemani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Ayahmu meninggal. Aku tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku tak lagi punya siapa, memang. Tapi, aku tak perlu kau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kau tak lagi punya seseorang. Temanmu, tak ada yang peduli. Saudaramu, entah pergi ke mana. Aku tak mau kau sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tapi, aku tak perlu kamu lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Aku kerumahmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tak boleh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Huk&#8230;uhuk..uhuk.., aku akan tetap pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau sakit. Tak boleh pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Jangan kemana-mana. Tunggu aku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kau <em>bilang</em> tunggu aku. Aku menunggumu lama. Kau tak pernah datang. Yang datang hanya kabar kau disini, dengan sakit, menungguku. Ibumu telah sangat baik padaku, dia selembut ibuku. Ayahmu orang baik. Ayahku jahat. Dia penjudi. Dia pencuri. Dia curi Hpku yang <span> </span>baru saja kubeli dengan sekali makan sehari selama sebulan. Dia mencuri jammu yang <span> </span>begitu berarti bagimu. Aku tak pernah punya ayah. Tapi, saat dia meninggal, aku merasa aku telah sendiri. Sebelum mati dia memberikan jammu padaku dan <em>bilang</em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Aku bangga padamu. Aku tahu kau mencintainya. Dan kau malu punya ayah sepertiku dan kau takut, dia tak lagi cinta saat tahu seperti apa ayahmu. Kau tahu, aku memang pencuri. Penjudi! Tapi, aku punya kehormatan. Kembalikan jam ini dan katakan kau mencintainya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kau malaikat kecilku. Kenapa aku baru menyadari, kau malaikat kecilku. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Kau sudah tahu, sejahat apa aku, tapi, kau tak pernah tahu seberapa dalam cintaku padamu. Bila kau minta segunung emas maka aku akan mencurikannya untukmu, walaupun aku akan mati karenanya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Aku tak membuatmu bahagia. Ini adalah kesedihan yang paling sangat dalam hidupku. Aku tak pernah menyesal menjadi seorang pencuri, tapi, aku menyesal karena tak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Tersenyumlah. Jangan menangisi kematianku. Kau tak akan lagi punya ayah seorang pencuri. Kau bebas mencintai siapa. Kau bebas.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Dan aku bukan tersenyum, tapi, menangis. Dia telah sepenuhnya menjadi ayahku saat itu. Hanya sebentar saja, tapi membuatku sangat kehilangan. Saat itu aku merasa sendiri. Aku tak ingin kau meninggalkanku sendiri – setelah ayah pergi. Aku takut, sendiri. Tetapi, kau hanya berlalu hanya karena aku tak mau <em>bilang </em>aku cinta kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Bukan karenanya aku tak berani mencintamu. Tapi, karena kau telah terlalu baik untukku. Aku tak lagi sanggup menerima semua kebaikanmu. Terlalu banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">ψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψψ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Banyak. Terlalu banyak, kebaikanku yang kau balas. Kau telah menungguku dan lupakan tidur nyenyakmu. Kau tak pernah berhenti bercerita. Tentangmu dan kita. Kau menemaniku setiap malam dalam dingin tanpa selimut. Ibu <em>bilang</em> makanlah, kau <em>bilang</em> belum lapar dan terus berbicara untukku. Ibu <em>bilang</em> istrirahatlah, kau <em>bilang</em> sebentar lagi, dia harus dengar cerita ini. Kau <em>bilang</em> aku akan sangat gembira ketika aku mendengar cerita ini. Kau cerita tentang bidadari. Bidadari akan menemani orang yang berbuat baik dan percaya pada surga. Kau cerita tentang bidadari yang berumuran sebaya dan air mata Salsabila tempat kami bisa mandi bersama. Membersihkan seluruh tubuh dari noda. Dan kau <em>bilang </em>akankah aku akan senang bila kau jadi bidadariku, bila sembuh nanti. Dan jadi bidadarimu di surga nanti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kata Ibu, itu cerita terakhirmu. Setelah itu kau sakit. Saat aku sembuh aku hanya bisa kesini menjengukmu. Merawatmu dengan doa-doaku. Membawakanmu bunga-bunga yang akan meringankan bebanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Sakitmu tak lagi tertolong. Darahku, tak bisa kau pakai. Kau sekarat saat aku mulai menunjukkan harapan: tunggu aku, aku akan kembali padamu. Aku sembuh. Dan kau hanya terkubur disini. Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Mulai saat ini, seperti halnya dirimu, aku tak akan takut lagi darahku. Aku mulai menyukai darah sepertimu. Mungkin karena darahmu mengalir dalam diriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Hari mulai gelap. Aku pulang. Bahagialah di alammu, tunggu aku. Sebentar saja. Aku pulang dan pasti kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Waktu gelap mulai merayap, aku terkesiap, rembulan terang telah tersingkap di bumi senyap. Menatapmu sebagai rembulan adalah sebuah kepuasan. Dan kau adalah purnama hati. Menelan semua perasaan dalam satu caplokan lalu mengeluarkannya dalam satu debaran jantung yang menghentak mantap. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Kau sebenarnya gadis biasa saja. Tertawa dan menangis seperti gadis lainnya. Tapi, kau begitu berbeda ketika jumpa denganku – aku melihatmu berbeda! Seperti ada kekuatan dalam dirimu yang menyeret diriku dalam samudera cintamu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Calibri;">Aksara, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Calibri;">16 Rabiul Tsani – 04 Mei 2007</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">02 Jumadil Tsani – 18 Juni</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/oipiyah.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/oipiyah.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oipiyah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oipiyah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oipiyah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oipiyah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oipiyah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oipiyah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oipiyah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oipiyah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oipiyah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oipiyah.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oipiyah.wordpress.com&blog=2095158&post=29&subd=oipiyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oipiyah.wordpress.com/2007/07/08/nyanyian-rindu-dan-kematian-yang-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92bb564b3d7886e98a60abb2d8cbc506?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">OQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>