Kerinduan ini untuk ibu. Rasa-rasa yang membuat hati bergetar hebat dan air mata membuncah, mengalir, basahi pipi. Tangis yang tak terhenti, bila saja tak ingat harapmu padaku yang tak terkata saat aku mengerti ucapan. Semuanya untuk ibu, sehingga salah satu ruangan di hati ini khusus untukmu. Ibu aku rindu.
Hari masih begitu pagi. Burung kecil bernyanyi sambut pagi. Aku tak mengerti kenapa harus bangun pagi. Tapi Ibu selalu bangun lebih pagi. Aku sering kehilangan pelukan mesranya dalam mimpi indahku. Setelah itu, suara tangisnya sayup terdengar. Ia selalu menangis. Untuk apa saja. Untuk bapak yang tak pernah pulang, untuk aku yang selalu nakal, untuk syukur pada-Nya atas nikmat diberi, untuk….banyak sekali. Aku tahu dia selalu menangis, karena selalu terbangun ketika dia – dengan baju putih menyeluruh tubuh – sujud di sajadah terhampar di kamar. Kadang kuhampiri dan dia memelukku erat sekali. Kadang tersenyum untuknya dan ia semakin erat memelukku, dan ia, semakin melimpah air matanya. Saat itu, tak ada yang bisa dilakukan. Tak banyak yang bisa dikatakan. Kuharap, suatu saat ada yang bisa kuucapkan, agar ia tak menangis lagi. Suatu saat ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya sekedar tersenyum. Ibu jangan menangis lagi! (more…)