Kaulah permata yang sinar jernih matamu membuat silau mataku dan

aku jatuh hati pada merah bibir dan cahaya pancaran wajah jadi

rausyan menimpakan nur ke hatiku lalu damai dan tertambatlah aku melabuh

ke hatimu dan

inta hanya tersenyum indah maka

nyanyikanlah lagu damai di hati: inta aku cinta.

begitulah

“Dalam novel Anna Karenina Leo Tolstoy dengan teliti menguraikan seluk beluk keadaan tiga macam keluarga: keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly, di mana sang suami menyeleweng, keluarga Karenin di mana sang istri, Anna, tak mampu mengekang perasaannya dan memutuskan tali perkawinan, dan akhirnya keluarga ideal Konstantin Levin dan Kitty yang menikmati kebahagian, sesudah mengalami serentetan cobaan. Ketiga keluarga ini mempunyai hubungan kekerabatan selaku kakak-beradik, menurut garis suami-istri, atau sebelumnya belajar di universitas sama.” (Prof. Willen V. Sikorski, ahli sastra Indonesia).

Yah, cerita novel ini memang cuma berkisar diantara tiga keluarga ini. Novel ini diawali dengan keributan di keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly. Stiva tertangkap basah selingkuh dengan pengasuh anaknya, seorang wanita Inggris, dan Dolly menuntut agar ia diperkenankan bersama lima anaknya kembali ke orang tuanya. Lalu datanglah Anna, adik Stiva, istri seorang pejabat tinggi di Petersburg, Aleksei Karenin. Anna berhasil mendamaikan suami istri ini.

Sedang Kitty adalah adik kandung Dolly. Lalu Konstantin Levin adalah teman seuniversitas Stiva. Levin adalah anak seorang bangsawan kaya, namun, alih-alih hidup di kota dia memilih hidup di desa dan menjadi tuan tanah. Ketika Levin pertama kali hendak melamar Kitty, Kitty tengah sangat berharap dilamar Aleksei Vronskii, seorang perwira yang tampan dan gagah. Maka lamaran pertama Levin pun ditolak. Namun, kemudian diketahuilah bahwa Vronskii hanya bermain-main saja dengan Kitty.

Vronskii malah jatuh hati pada Anna. Anna baginya adalah sesosok wanita yang harus dicintainya. Wanita yang begitu hidup matanya dan penuh gairah hidup, sungguh memesona. Vronskii lalu mati-matian mengejar Anna. Anna yang sadar bahwa membalas cinta Vronskii berarti dia telah menghinakan dirinya, menjadi serba dilematis. Bagaimanapun rasa cinta yang dipancarkan Vronskii begitu menggoda. Apalagi dia tak bahagia hidup dengan suaminya, yang dingin dan tak berperasaan. Saat bersama Vronskii dia menjadi begitu bergairah, penuh rasa cinta. Dan ketika kembali ke rumah, dia menjadi begitu tersiksa.

Anna akhirnya diceraikan Aleksei Karenin setelah dengan terang-terangan mengakui perselingkuhannya dengan Aleksei Vronskii. Memang Anna gembira dengan bisa terlepas dari suaminya dan hidup bersama Vronskii, namun, perpisahan dengan anak laki-laki yang sangat dicintainya sungguh menyiksa. Ditambah lagi sikap kalangan bangsawan yang tak mau menerima Anna karena menganggap Anna sebagai wanita rendahan. Anna yang terbiasa dengan cara hidup bangsawan menjadi sangat tersiksa.

Novel ini terdiri dari delapan bagian. Setiap bagian menceritakan secara perlahan kisah yang saling jalin-menjalin. Ketiga keluarga ini diceritakan secara bergantian dalam setiap bagian. Setiap bagian terdiri atas beberapa bab, biasanya lebih dari 20. Jadi memang membutuhkan kesabaran dalam mentiti bab demi bab. Ditambah lagi gaya bahasa penerjemahnya yang tidak terlalu pop, sehingga kadang perlu menelisik beberapa kalimat agar bisa benar-benar bisa dimengerti.

Secara keseluruhan novel ini bercerita tentang bagaimana keluarga ideal versi Tolstoy dibangun. Dimulai dari saling mencintai lalu saling memahami dan komunikasi dari hati ke hati. Keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly berantakan karena Stiva tidak mau jujur pada istrinya dan senang selingkuh. Sedang keluarga Anna dan Karenin hancur karena sikap dingin dan ”menjijikkan” Karenin yang membuat Anna tak pernah mencintai Karenin. Adapun Kitty dan Levin, tulus saling mencintai dan memahami satu sama lain.

Satu hal lagi yang disorot dalam novel ini adalah tentang usaha memajukan pertanian dan petani Rusia pasca penghapusan perbudakan dalam pertanian. Levin sebagai tokoh sentral dalam usaha ini berusaha menuliskannya dalam bentuk buku dan mengaplikasikan pemikirannya dalam usaha pertaniannya di desa.

 Sepi. Merah tanah terbang jadi debu. Angin mendesir, lewat begitu saja, tak ada sapa. Ini siang matahari begitu terik, panasnya membakar kulit. Sedikit-sedikit kulitku terkelupas termakan panas. Di mana-mana ada retakan, yang hitam dan kasar.

Pandanglah aku, yang renta ini, tak lagi pokok batang menjulang. Tak lagi pucuk mencapai tinggi. Tepat beberapa meter dari muka tanah, kau lihat itu, patahan besar pokok batangku terkena golok dan gergaji. Sungguh bising ketika gergaji itu pelan-pelan masuk ke batangku. Gigi-giginya yang runcing bolak-balik menusuk semakin dalam. Setiap gesekan mengeluarkan deritan dan getahku serupa darah mengalir deras.

Entah apa dosaku. Pagi itu seperti biasa kumulai dengan menyapa burung. Menyaring beberapa karbondioksida dan menenggak air. Seperti pagi biasa saja: memerangkap beberapa tetes embun di lengkung tengah daunku lalu memainkannya jadi tetesan air yang kadang menimpa kepalamu yang sedang main-main di bawahku, membina pucuk-pucuk baru yang terus tumbuh di ujung ranting, atau sekedar meniup-niup angin yang lewat begitu saja. Entah apa dosaku. (more…)

Langit menghitam, matahari lama tenggelam. Bintang-bintang tak juga bermunculan, sedang rembulan malu sembunyi di hitam awan. Sepi saja, segala suara hilang bersama desir angin yang lamban. Keheningan tak pernah abadi, memang, hanya sebuah ruang kosong yang akan selalu terisi.

Malam menghitam, lalu bunyi sunyi. Hanya dingin dan desau angin. Rerumputan menghitam, kehilangan cahaya. Pepohonan jadi seonggok dinding bayang hitam batangnya saling menyatu sama hitam. Lalu semua hilang, tertelan gelap yang menyeruak.

Yang kurasa hanya aku, sedang lainnya hilang ditelan gelap. Mata tak lagi berguna, telinga hanya sunyi. Jadilah aku sendiri, berkawan dengan sejati diri.

Lalu malam jadi ramai. Suara hati berkicauan. Membumbung tinggi di benak, penuhi maksud dengan kehendak. Suara gempita tentang risau-galau mericau-mengacau. Sedang harap, berbisik pelan tentang masa depan. Segala rasa bergumul, merusak gelap dengan citra diri. Semua gambar dipasang, gambar yang lama mengendap di dasar pikiran. Lalu dimulailah, parade rasa yang usang terpendam. Gambar-gambar berkilatan saling bergantian. Memutar segala isi pikiran. Lalu gelap.

Aku terlelap.

Jadilah aku karang hitam di

putih buih ombakmu yang menghempasku ke

biru lautan lalu gelombang datang bawa tepian dan

jadilah aku butiran pasir di pantai putihmu terhampar luas melebur satu!

Air terpancar memburu ruang melintas cepat menumbuk

karang tembus dan semayam lalu diam dalam rapat berduaan jadi darah

segumpal lalu daging segumpal lalu rusuk tulang belulang dibungkus daging

dan

jadilah!

Sempurna bentukmu dalam wujud sebaik lalu

hembusan datang bawa ruh Tuhan yang bersemayam di

kalbu jiwamu yang kemudian detak jantungmu darah jadi darah dan

mengalirlah!

Rahim membungkus rapat lewat

plasenta kau kunyah makanan ibumu sementara kakimu

bergoyang pelan dan tubuh berputar bergerak menghentak di dinding dan

senyumlah!

Sempurnalah bentuk manusiamu lalu

kau bergerak dengan hebat dan otot-otot rahim serupa

pegas mulur negang dorongmu keluar dan derap nafas ibu kembang kempis

dan

lahirlah!

Tangismu adalah tawa yang lalu

kau cari ASImu dan meneguk sepuasnya hingga

dahaga lepas yang kau diam dalam tenang di bawah pelukan ibu dan

tidurlah!

Oh akulah yang

ingin menjadikan diri

pengemis di pintu kasihMu

Belajarlah dari bumi yang walau

oleh manusia dipaksa memuntah segala isinya tapi tetap memberi dan

eratlah dia memegang udara yang terus kita hirup

menyesakan paru lalu darinya lah hujan datang dan benih-benih tumbuh

iringi tumbuhnya dirimu.

Petanglah yang membuatmu datang merengkuh senja dalam

raupan cahaya sementara

igaumu di mimpi semalam berupa nyata dan terimalah

hidup yang kau jalani serupa

aliran angin sepoi lambat-lambat

tapi sunguh memberi kesejukan yang

mungkin hanya dirimu yang dapat dan

akan selalu begitu maka

kejarlah mimpi itu sampai

akhir yang kau berlalu dengannya.

« Previous PageNext Page »