Sa’adi ash Shiraz bercerita mengenai kisah berikut:

‘Ketika kecil, aku terbiasa berdoa dengan ayah, paman-paman, dan sepupu-sepupuku. Setiap malam kami berkumpul bersama untuk mendengarkan ayat Al Quran.

Pada suatu malam, ketika pamanku melantunkan sebuah ayat dengan keras, aku menyadari sebagian besar orang telah terlelap. Aku berkata kepada ayahku:

‘Tak satupun dari orang-orang yang mengantuk ini mendengarkan perkataan Sang Nabi. Mereka tak akan pernah sampai pada Tuhan.’

Ayahku menjawab: “Anakku sayang, carilah jalanmu sendiri dengan penuh keyakinan dan biarkan yang lain mengurus jalannya sendiri. Siapa yang mengetahui, mungkin mereka sedang berbincang dengan Tuhan dalam mimpinya. Percayalah, aku lebih menyukaimu tidur bersama mereka dibanding mendengar kata-kata kerasmu yang penuh penghakiman dan kutukan.”

(diterjemahkan dari buku ‘Stories for Parents Children and Grandchildren Volume 1, Saadi of Shiraz and prayer’ karya Paulo Coelho)

Berdasarkan sebuah legenda, ketika Jeanne d’Arc beserta pasukannya berbaris menuju Poitiers, dia berjumpa seorang anak lelaki di tengah jalan sedang memegang ranting dan bermain tanah.
‘Apa yang sedang kau lakukan?’ tanya Jeanne d’Arc.
‘Tak kah kau lihat?’ jawab anak lelaki. ‘Ini adalah sebuah kota.’
‘Menakjubkan,’ jawab Jeanne d’Arc, ‘sekarang jika kau berkenan, menepilah dari jalan, aku dan pasukanku perlu melewatinya.’
Anak lelaki marah dan berdiri di depan Jeanne d’Arc.
‘Sebuah kota tidak berpindah. Bala tentara mungkin menghancurkannya, tetapi, kota itu tetap berada ditempatnya.’
Jeanne d’Arc tersenyum melihat kesungguhan hati anak lelaki kemudian memerintahkan pasukannya untuk keluar dari jalan ini dengan mengelilingi ‘kota’ sang anak lelaki.

(diterjemahkan dari buku ‘Stories for Parents Children and Grandchildren Volume 1, The city and the army’ karya Paulo Coelho)

Zilu bertanya pada Konfusius:

‘Jika Raja Wen memintamu untuk memerintah negeri ini, apa tindakan pertamamu?’

‘Aku akan mempelajari nama-nama penasehatku.’

‘Omong kosong apa itu! Ada begitu banyak masalah besar yang harus menjadi perhatian seorang perdana menteri.’

‘Seorang lelaki tak bisa berharap akan mendapat pertolongan dari seorang yang tak dikenalnya,’ jawab Konfusius. ‘Jika seorang tak memahami Alam, dia tak akan memahami Tuhan. Begitu pula seorang yang tak memahami penggawanya, dia tak akan memiliki teman. Tanpa teman, dia tak akan mampu membuat rencana. Tanpa rencana, dia tak mampu mengarahkan aksi. Tanpa arahan, negeri akan tenggelam dalam kegelapan, bahkan penari sekalipun tak akan tahu kaki mana yang akan dia langkahkan selanjutnya. Jadi, alih-alih sebuah aksi banal, mempelajari nama-nama penasehat, dapat memberikan perbedaan besar. Penyakit yang melanda di masa kita adalah setiap orang ingin membereskan segalanya dengan instan dan mereka lupa, untuk melakukan itu diperlukan bantuan begitu banyak orang.’

(diterjemahkan dari buku ‘Stories for Parents Children and Grandchildren Volume 1, The importance of knowing names’ karya Paulo Coelho)

Pada suatu sore yang nyaman di musim semi, seorang teman mengunjungi pelukis El Greco. Sang teman terkejut ketika menemukan El Greco berada dalam studionya dengan semua gorden tertutup.

El Greco sedang mengerjakan lukisan dengan tema utama Perawan Suci hanya dengan penerangan sebuah lilin.

Temannya yang kebingungan bertanya:

‘Selalu dikatakan padaku bahwa pelukis membutuhkan cahaya matahari untuk memudahkannya memilih warna yang tepat. Kenapa kau tak membuka gordennya?’

‘Tidak sekarang,’ sanggah El Greco. ‘Cahaya matahari hanya akan mengganggu api inspirasi yang menyala dalam jiwaku dan meliputi sekelilingku dengan cahaya.’

(diterjemahkan dari buku ‘Stories for Parents Children and Grandchildren Volume 1, El Greco and light’ karya Paulo Coelho)

Seorang guru Zen sedang istirahat dengan muridnya. Tiba-tiba ia mengambil sebuah melon dari tasnya. Kemudian membelahnya menjadi dua sehingga masing-masing memakan setengahnya.
Ketika mereka makan, sang murid berkata:
‘Guruku yang bijak, sebab segala sesuatu yang engkau lakukan memiliki makna, mungkinkah ketika engkau berbagi melon, ini adalah pertanda ada yang ingin engkau ajarkan padaku.’
Sang guru melanjutkan makannya dalam diam.
‘Diammu jelas menyembunyikan tanda tanya,’ sang murid mendesak, ‘Pertanyaan itu pasti ini: apakah letak kepuasan yang aku alami ketika memakan buah yang lezat berada pada melon atau lidahku?’
Sang guru tak berkata apa pun. Sang murid melanjutkan dengan menggebu:
‘Dan karena segala sesuatu dalam hidup bermakna, kurasa aku semakin dekat dengan jawaban atas pertanyaan itu: kepuasan adalah aksi dari cinta dan interdependen antar diri kita, karena tanpa melon tak akan ada objek kepuasan kemudian tanpa lidahku . . .’
‘Cukup!’ kata sang guru. ‘Si bodoh sejatinya adalah orang yang berpikir dirinya begitu cerdas sehingga menghabiskan waktunya untuk mencoba menjelaskan segala sesuatu. Melon ini enak, cukup disitu, sekarang biarkan aku memakannya dalam damai!’

(diterjemahkan dari buku ‘Stories for Parents Children and Grandchildren Volume 1, Pleasure and the tongue’ karya Paulo Coelho)

Suatu hari, Rahib Lukas ditemani muridnya berjalan melewati sebuah desa. Di desa, sang Rahib berjumpa seorang kakek. Kakek itu bertanya:
‘Orang suci, bagaimana cara agar aku semakin dekat dengan Tuhan?’
‘Luangkan waktu lebih banyak untuk menikmati diri kemudian pujilah Penciptamu dengan kebahagianmu,’ jawab sang Rahib.
Selepas itu, ketika hendak melanjutkan perjalanan, seorang pemuda menghampiri mereka. Ia bertanya:
‘Apa yang harus kulakukan agar aku semakin dekat dengan Tuhan?’
‘Kurangi waktu untuk menikmati diri’, jawab Lukas.
Saat pemuda pergi, giliran muridnya yang bertanya:
‘Guru seperti tidak terlalu yakin, apakah kita harus menikmati diri sendiri atau sebaliknya.’
‘Pencarian spritual seperti jembatan tanpa pegangan yang dibangun melewati jurang,’ jawab Lukas. ‘Jika seseorang berjalan terlalu ke kanan, aku bilang: “Ke kiri!” Jika mereka berjalan terlalu ke kiri, aku bilang: “Ke Kanan!” Perbuatan ekstremlah yang menjauhkan kita dari jalan Kebenaran itu.’

(diterjemahkan dari buku ‘Stories for Parents Children and Grandchildren Volume 1, The middle path’ karya Paulo Coelho)

Entah kenapa matamu terus mematai mimpiku sebagai mata-mata. Mungkin karena matamu yang terlalu besar untuk muka tirusmu membuatnya terlalu mencolok bagi mataku ketika sesekali aku menoleh ketika kau memanggilku. Dan sialnya mata besarmu itu dianggap terlalu menarik untuk dilupakan otakku. Disimpanlah dia dalam gumpalan gombal otakku untuk sewaktu-waktu diledakkan oleh rindu. Rupa-rupanya karena terlalu dalam tersimpan, menumpuk-numpuk tak karuan, matamu itu jadi sering berkeliaran dalam mimpiku, yaitu tadi, sebagai mata-mata.

Kadang aku jadi gemas tak tahan ingin bertanya, kapan matamu itu berhenti memata-matai mimpiku? Tapi apa urusannya denganmu coba? Matamu dalam mimpiku itu toh sudah tak jadi matamu lagi karena dia selalu datang sendirian sebagai mata-mata, tanpamu. Lalu yakin juga aku kalau kau tak akan mengerti masalah runyam ini, karena toh, dirimu cuma memanggil namaku tiga kali dalam sehari, itu pun hanya di hari-hari kerja.

Untunglah pagi yang cerah kemarin memberi harapan bagi otakku untuk dapat memecahkan masalah ini. Kemarin pagi sungguh membuatku berseri. Mataharinya memang cerah dan membuat gerah otakku untuk tak berlama-lama membuntu seperti pagi-pagi berhujan basah sebelumnya. Tapi bukan itu loh, bukan juga karena embun yang tak tahu malu pamer badan seksi transparannya yang menggelembung di ujung daun. Dia pantas saja pamer badan karena hari-hari hujan selalu melumatnya dengan tetes-tetes yang tak mau berhenti sampai segala di bawah langit basah semua. Kamulah. Iya kamu yang punya mata besar untuk wajah tirusmu. Kemarin pagi tuh ketika kau memanggil namaku untuk kali pertama, membuat mataku terbelalak hendak meloncat. Untung mulutku menganga, jadi mataku urung meloncat.

Kacamatamu itu loh, yang berwarna hitam itu, kok membuat mata besarmu itu tambah indah. Kacamatamu itu minus berapa?

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,106 other followers